menu

Bulan Bab 02

Mode Malam
Bab 02
KAMU berani-beraninya! Kamu tahu sekali, kamu tidak boleh melakukannya!” aku berbisik dengan wajah merah padam.

”Aku tahu. Tapi dia selalu menyinggung nilai ulanganku, mengolok-olok,” Ali menjawab dengan wajah tidak berdosa—wajah khasnya, ”seolah pintar atau tidaknya seseorang, berhasil atau gagal, hanya dilihat dari selembar kertas ulangan. Kamu mendengarnya sendiri, Ra? Dia bilang aku merusak nilai rata-rata kelas. Menyebalkan!”

”Tapi kamu kan tidak harus bilang Seli bisa mengeluarkan petir di depan sem ua orang. Kita harus bertingkah normal, Ali,” aku meninggikan volume suara, berkata lebih serius.

”Aku bertingkah normal, Ra!” Ali menatapku. ”Lihat, mana ada tingkahku yang tidak normal sejak kembali dari dunia paralel Klan Bulan?” Aku diam sejenak, menatap Ali dari ujung rambut hingga ujung sepatunya. Dia benar. Rambut berantakan, wajah menyebalkan, seragam sekolah kusut, dan separuh bajunya tidak dimasukkan ke dalam celana, jauh dari rapi. Ali memang seperti yang kami kenal sejak pertama kali masuk sekolah ini. Ali memang terlihat normal. Tapi soal belut listrik tadi, itu pelanggaran serius.

”Miss Selena melarang kita membicarakan hal itu hingga dia kembali. Kamu tahu persis pesannya,” aku akhirnya berbisik putus asa. Si biang kerok ini, kenapa pula menganggap kejadian di kelas dengan Pak Gun biasa-biasa saja.

”Yeah, kamu benar. Miss Keriting melarang kita. Terus, apa hasilnya? Sudah hampir enam bulan, dia tetap tidak kembali. Entah pergi ke mana. Bagaimana jika dia tidak kembali hingga bertahun-tahun? Kamu akan tetap bertingkah normal? Raib yang bisa menghilang. Seli yang bisa mengeluarkan petir. Dan aku, klan paling primitif di antara empat dunia paralel yang bisa berubah menjadi beruang raksasa. Bagaimana kalau saat main basket, ada yang menyikut perutku, aku marah dan mendadak jadi beruang lagi?” Ali menjawab santai.

Aku kehabisan kalimat. Ali mengungkit lagi soal itu. Sesuatu yang justru dilarang Miss Selena dibicarakan sekali pun.

Aku akhirnya memilih diam. Ruangan guru BK lengang. Sebenarnya, bukan hanya Ali si genius yang memiliki begitu banyak pertanyaan di kepalanya. Aku juga, bahkan pertanyaanku jauh lebih penting, seperti tentang siapa sebenarnya orangtuaku. Hanya Seli yang memiliki sedikit penjelasan. Tapi sejak kejadian di Klan Bulan, kami hanya disuruh Miss Selena menunggu sekian lama, tanpa kabar, tanpa kepastian.

”Lagi pula, Ali,” Seli di sebelahku akhirnya ikut bicara— setelah sejak tadi asyik menonton kami bertengkar, ”kalau kamu sakit hati diolok Pak Gun, kenapa kamu tidak mulai mengerjakan ulangan dengan baik? Kamu jelas bisa melakukannya, kan?”

Ali mengangkat bahu, tidak tertarik.

”Apa yang akan kita jelaskan kepada guru BK nanti, Ra?” Seli menoleh padaku.

Aku menggeleng. ”Aku tidak tahu.”

Seli mengeluh, ”Bagaimana kalau dia memintaku mengeluarkan petir?”

”Tidak akan ada yang percaya hal itu, Sel. Kamu tidak perlu cemas. Mungkin dia hanya meminta penjelasan kenapa Ali bertingkah menyebalkan tadi. Mudah jawabannya, dia memang sejak dulu menyebalkan.”

”Aku belum pernah dipanggil guru BK, Ra.” Wajah Seli tetap saja cemas.

”Aku juga belum pernah. Gara-gara dia.” Aku menunjuk Ali, menyalahkannya. ”Lain kali kalau kamu mau bertengkar dengan guru, jangan libatkan kami.”

Pak Gun sebenarnya tidak melanjutkan membahas kalimat aneh Ali di kelas. Dia memilih meneruskan pelajaran biologi. Anak-anak juga tidak menganggap serius kalimat Ali. Mereka sudah terbiasa dengan Ali yang eksentrik. Aku pikir kejadian itu akan selesai dengan sendirinya hingga tiba-tiba pas lonceng istirahat kedua, ada murid dari kelas lain yang bilang kami bertiga dipanggil guru BK. Aku dan Seli saling menatap. Ada apa? Murid itu sekali lagi menegaskan bahwa kami diminta segera ke ruang guru BK. Sambil menebak-nebak kenapa, aku dan Seli beranjak berdiri, sementara Ali menggaruk rambut berantakannya, ikut berjalan di belakang.

Tidak ada siapa-siapa di ruang guru BK. Kami hanya diminta menunggu di ruangan dengan gorden berwarna hijau. Ruangan itu terpisah dari ruang guru. Ada tiga kursi menghadap meja guru BK. Murid-murid biasa menyebutnya ”kursi pesakitan” dan ”meja pengadilan”. Lima belas menit berlalu dengan cepat menunggu guru BK, separuhnya kami habiskan bertengkar.

”Aku pikir, malah akan seru kalau kamu mau memperlihatkan petir itu di depan guru BK, Sel.” Ali meluruskan kakinya. ”Atau Raib tiba-tiba menghilang.”

Aku melotot ke arah Ali. Apa maksudnya?

”Hanya bergurau, Ra. Ayolah, kenapa pula kamu cerewet dan mudah sekali marah sejak Miss Selena pergi?” Ali tertawa.

”Bagaimana kalau Miss Selena tidak pernah kembali, Ra? Seperti yang dibilang Ali?” Seli bertanya, memotong sebalku kepada Ali. ”Dia pasti kembali,” aku menjawab cepat.

”Sudah enam bulan, Ra,” Seli berkata pelan, ”bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya?”

Aku menggeleng. ”Miss Selena baik-baik saja dan dia pasti kembali. Kita sudah membahas ini berkali-kali, bukan?”

Terdengar suara langkah kaki mendekat di lorong, aku bergegas memberi kode kepada Seli agar duduk rapi. Mungkin itu guru BK yang akan segera menemui kami.

***

Aku selalu yakin Miss Selena pasti kembali.

Enam bulan lalu, setelah pertempuran besar di Perpustakaan Sentral, Kota Tishri, dunia Bulan yang megah itu, Miss Selena mengantar kami kembali ke kota ini. Dia tidak membawa kami ke rumahku, dia membawa kami ke rumah Seli. Miss Selena bilang, akan jauh lebih mudah menjelaskan beberapa hal jika kami kembali ke rumah Seli lebih dahulu. Aku awalnya tidak paham alasan Miss Selena, tapi aku memutuskan tidak banyak tanya. Kami menggunakan buku PR matematikaku untuk membuka portal dunia paralel. Av, pustakawan Perpustakaan Sentral, dan keluarga Ilo melepas kami pulang.

Kami tiba di meja makan rumah Seli, pukul tujuh malam.

Orangtua Seli sedang duduk menghabiskan makan malam berdua. Mama Seli berseru tertahan melihat kami muncul tiba-tiba, tapi dia tidak panik seperti yang aku bayangkan. Papa Seli juga berseru kaget, berdiri dari kursinya, tapi bukan karena gentar atau takut, tapi karena dia sedang bergegas membantu Seli yang hampir jatuh setelah melewati portal. Miss Selena menuntunku duduk di sofa, Mama Seli mengambil air minum. Hanya Ali yang terlihat mendarat mantap, perjalanan antar dunia paralel tidak memengaruhinya. Dia bahkan seperti ilmuwan, asyik mengamati banyak hal.

”Maaf jika kami datang begitu mengagetkan,” Miss Selena berkata kepada orangtua Seli.

Mama Seli menyerahkan gelas minuman kepadaku dan Seli.

”Aku Selena, guru matematika mereka di sekolah. Tapi di luar itu, aku ”

Mama Seli mengangguk, memotong kalimat Miss Selena, ”Aku tahu siapa kamu, yang muncul tiba-tiba di ruangan ini. Kamu pasti dari Klan Bulan. Hanya mereka yang punya kemampuan itu, menembus portal antarklan.”

Miss Selena ikut mengangguk, tersenyum.

”Kalian baik-baik saja?” Miss Selena bertanya padaku, Seli, dan Ali.

Kami mengangguk.

Miss Selena tidak banyak bicara setiba kami di sana. Dia terlihat hendak bergegas pergi lagi. Miss Selena menjelaskan singkat, berkata bahwa dia tahu sejak lama bahwa mama Seli keturunan Klan Matahari. ”Kenapa Mama tidak pernah bilang padaku?” Seli bertanya dengan suara tercekat.

”Mama minta maaf, Nak.... Kami menunggu hingga kamu siap mendengarnya.” Mama Seli memeluk pundak Seli.

Aku ingat penjelasan Av sewaktu di Perpustakaan Klan Bulan. Dia bilang, sejak meletus pertempuran besar antar dunia paralel dua ribu tahun lalu, ada sebagian penduduk Klan Matahari yang pindah ke Bumi, menetap di sini, menghindari kecamuk perang.

”Jumlah kita tidak banyak saat tiba di Bumi, hanya terbilang ratusan. Seiring waktu, beberapa menikah dengan penduduk setempat. Perkawinan antarklan mengubah struktur kode gen, sebagian besar keturunannya kehilangan kemampuan itu. Kamu garis keturunan yang ke-30 sejak perpindahan besar itu,” mama Seli menjelaskan.

”Papa juga baru tahu ketika kami sudah menikah, Seli,” papa Seli menambahkan. ”Mamamu bilang dia keturunan kesekian dari Klan Matahari yang pindah ke Bumi. Papa awalnya tidak percaya, menduga mamamu hanya bergurau, hingga dia menunjukkan bisa menggerakkan benda dari jauh, telekinetik, juga mengeluarkan listrik dari tangannya. Itu sungguh mengejutkan.”

”Tante bisa mengeluarkan petir?” Ali bertanya antusias, memotong percakapan.

Mama Seli menggeleng. ”Tante hanya bisa mengeluarkan listrik kecil. Kekuatan Tante terlalu kecil. Tapi itu tetap bermanfaat, bisa membantu pasien dalam kondisi darurat. Kemampuan Klan Matahari di Klan Bumi semakin menghilang seiring waktu. Tante bahkan pernah berpikir tidak perlu menjelaskan apa pun lagi ke Seli, karena bisa jadi dia tidak lagi memiliki kekuatan.”

”Seli bisa mengeluarkan petir yang besar sekali, Tante,” Ali berseru semangat.

Mama Seli menoleh. ”Sungguh?”

Seli mengangguk pelan. Wajahnya masih menyisakan kaget mengetahui mamanya adalah keturunan Klan Matahari.

”Sejak kapan, Sel?” Mama Seli bertanya, tertarik.

”Sejak kelas satu SD, Ma. Tapi aku tidak pernah berani menceritakannya. Aku takut itu terlihat aneh sekali. Tidak ada yang akan percaya. Petir itu... petir itu keluar sendiri dari tanganku saat aku hendak mengambil gelas susu.” Seli menyeka ujung matanya. 

Mama Seli memeluk pundak Seli untuk kesekian kalinya. ”Itu sama sekali tidak aneh, Seli. Itu kekuatan yang dimiliki kakek kakekmu dari Klan Matahari. Mama bangga sekali kamu memilikinya. Mama tidak pernah menduga putri Mama mewarisi kode genetik itu. Petir besar? Itu sungguh luar biasa, Seli.”

Aku hanya diam di ujung sofa, memperhatikan percakapan. Semua kejadian ini berlangsung cepat sekali. Baru beberapa jam lalu kami meninggalkan Klan Bulan, setelah bertempur dengan orang jahat, sekarang kami sudah di ruang makan rumah Seli, dan mengetahui mama Seli yang dokter adalah keturunan Klan Matahari.

”Dua hari lalu saat gardu trafo listrik meledak, mereka tidak sengaja membuka portal ke Klan Bulan. Mereka tersesat di dunia Klan Bulan, tapi semua berakhir baik-baik saja,” Miss Selena menjelaskan cepat. ”Aku harap, kalian tidak cemas selama dua hari ini.”

”Sebenarnya kami cemas sekali, Selena. Putri kami tidak pulang selama dua hari, tanpa kabar.” Mama Seli menghela napas pelan. ”Kami berusaha mencari Seli ke mana-mana. Peristiwa meledaknya trafo listrik di belakang sekolah menjadi berita di televisi. Tapi ada yang lebih cemas lagi, orangtua Raib. Mama Raib menelepon kami belasan kali, bilang Raib selalu izin jika bermalam di rumah temannya. Mereka sibuk mencari Raib.”

Miss Selena mengangguk. ”Itulah kenapa aku membawa anak-anak kembali ke rumah ini. Aku meminta bantuan kalian untuk menjelaskan situasi ini kepada orangtua Raib. Mereka tidak akan paham tentang dunia paralel. Mereka tidak berasal dari Klan Bulan seperti Raib. Mereka hanya mengasuh Raib sejak bayi. Kita bisa mengarang penjelasan bahwa dua hari terakhir Raib dan Seli dirawat di rumah sakit, dan baru ketahuan identitasnya setelah. ”

”Raib dari Klan Bulan?” Mama Seli memotong kalimat Miss Selena.

”Iya. Dari garis keturunan terbaik. Dia adalah Putri,” Miss Selena menjawab cepat. ”Apakah kalian bisa membantu menjelaskan kepada orangtua Raib?”

”Putri?” Mama Seli menatapku, terpesona.

”Aku tidak bisa lama-lama di sini.” Miss Selena mengingatkan agar mama Seli fokus. ”Ada pekerjaan besar yang harus kulakukan. Apakah kalian bisa membantu menjelaskan kepada orangtua Raib bahwa anak-anak dirawat di rumah sakit yang tidak mengetahui identitas mereka dua hari terakhir?”

”Oh iya, kami akan melakukannya, Selena.” Mama Seli buru-buru mengangguk.

Hanya itu percakapan malam itu.

Sebelum pergi, Miss Selena menyuruh aku, Seli, dan Ali mendekat.

”Aku tahu kalian punya banyak pertanyaan, terutama Raib. Tapi tidak malam ini. Aku tahu sejak lama kalian bertiga berbeda. Itulah kenapa aku menjadi guru matematika di sekolah kalian. Aku juga yang mengusulkan agar mereka menerima Ali, anak yang pernah meledakkan laboratorium saat karantina olimpiade fisika. Mengumpulkan kalian bertiga seolah tidak sengaja. Aku juga sejak lama mengetahui mama Seli keturunan Klan Matahari.

”Tugasku memahami dan mengetahui banyak hal sebelum yang lain tahu dan menyusun rencana sebelum sesuatu terjadi. Aku bertindak dua langkah lebih awal. Aku memiliki kemampuan tersebut. Aku adalah selena, penjaga, pengintai, menatap dari langit kejauhan. Itulah yang membuat Tamus dulu menjadikanku murid kepercayaannya.” Miss Selena diam sejenak.

Aku menelan ludah, Seli dan Ali saling tatap. Miss Selena baru saja menyebut nama sosok seram dan jahat itu, si tinggi kurus dari Klan Bulan.

”Tapi aku harus pergi segera, tidak bisa menemani atau menjawab pertanyaan kalian sekarang. Av baru saja memberiku tugas penting. Aku tidak tahu kapan akan kembali, mungkin satu minggu, satu bulan, atau lebih dari itu. Selama aku pergi, berjanjilah kalian tidak akan membahas kejadian di Klan Bulan, tidak akan membahas tentang kekuatan itu apalagi menggunakannya. Kalian akan bertingkah normal seperti remaja lain, di rumah, dan tempat-tempat lainnya. Kalian bisa melakukannya?” Miss Selena mendesak.

”Miss Selena tidak mengajar lagi di sekolah?” Seli bertanya. ”Bagaimana kalau ada yang bertanya?”

Miss Selena menggeleng. ”Akan aku urus soal itu, Seli. Cuti atau apalah, tidak sulit menjelaskannya. Aku juga akan mengurus soal tiang listrik yang lenyap, akan ada orang lain yang menjelaskan teori sederhana hilangnya tiang listrik itu. Kalian kembali ke sekolah seperti biasa. Berjanjilah bertingkah normal, hingga aku kembali, dan mungkin membawa beberapa penjelasan baru. Semoga masalah kita tidak serius karena Tamus membawa Buku Kematian ke petak penjara Bayangan di Bawah Bayangan.”

Aku, Seli, dan Ali akhirnya mengangguk.

Miss Selena berkata satu-dua kalimat kepada mama Seli, bersalaman, kemudian dia berdiri tegap, melangkah cepat ke pintu rumah. Tubuhnya yang terbalut baju hitam-hitam dan rambutnya yang kaku jigrak hilang saat pintu ditutup, menyisakan ruangan yang lengang.

Masih banyak yang hendak kutanyakan, tapi Miss Selena sudah pergi. Mama Seli menyuruh kami bergegas mandi, berganti baju, dan istirahat.

Esok harinya, setelah sarapan, mama Seli mengantarku ke rumah. Mama menjerit histeris melihatku, menciumi wajahku. Papa yang sedang bersiap berangkat ke kantor tidak kalah kaget. Mereka bilang, mereka sudah berharihari panik mencariku. Mama Seli menjelaskan dia baru saja menelusuri data semua rumah sakit, kemudian menemukan kami dirawat di salah satu rumah sakit, dan membawa kami pulang. Penjelasan mama Seli terdengar masuk akal. Bagi Mama, sepanjang aku ditemukan dalam keadaan baikbaik saja, hal lain tidaklah penting.

Soal Ali jauh lebih sederhana. Dia pulang sendirian ke rumahnya. ”Orangtuaku tidak akan banyak bertanya ke mana aku pergi dua hari ini, Ra. Mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Aku pernah tidak pulang selama seminggu. Mereka hanya menganggapku sedang menginap di rumah teman.” Sejenak wajah Ali terlihat suram—lebih tepatnya sedih. Tapi aku tidak terlalu memperhatikan, aku sendiri punya pertanyaan besar dalam keluargaku. Entah hingga kapan aku berani menanyakannya. Tentang orangtua asliku. Aku telah pulang ke kota kami. Si Putih, kucingku, loncat ke pangkuanku setiba aku di kamar. Dia mengeong pelan. Selintas aku menatap cermin di kamar, teringat sosok kurus seram dan jahat itu, Tamus, yang dulu muncul di cermin. Juga kucingnya, si Hitam yang bisa berubah menjadi serigala besar. Aku buru-buru mengusir ingatan tidak menyenangkan tersebut.

Kami telah kembali ke Klan Bumi. Tapi dengan semua kejadian di Klan Bulan, hanya soal waktu kami akan kembali bertualang ke dunia paralel itu. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊