menu

Twilight Bab 20 Ketidaksabaran

Mode Malam
Bab 20 Ketidaksabaran

Ketika terbangun, aku bingung. Pikiranku kabur, masih antara tak sadar dan mimpi buruk. Butuh waktu lebih lama dari seharusnya untuk menyadari dimana aku berada.

Ruangan ini terlalu biasa untuk berada dimana pun, kecuali di hotel. Lampu tidur yang disekrupkan ke meja memastikan dugaanku tepat, begitu juga tirai panjang yang terbuat dari bahan yang sama dengan penutup tempat tidurnya, serta dindingnya yang bercorak umum.

Aku berusaha mengingat-ingat bagaimana aku sampai disini, tapi awalnya tidak berhasil.

Aku ingat mobil hitam mengkilat, kaca jendelanya lebih gelap daripada kaca limusin. Suara mesinnya nyaris tak terdengar, meskipun kami melaju melebihi dua kali batas kecepatan yang diijinkan di jalan tol.

Dan aku ingat Alice duduk bersamaku di jok belakang yang terbuat dari kulit berwarna gelap. Entah bagaimana sepanjang malam yang panjang kepalaku bersandar di lehernya yang bagai granit. Kedekatan ini sepertinya tidak mengganggunya sama ekali, dan anehnya kulitnya yang dingin dan keras membuatku merasa nyaman. Bagian depan kaus katunnya yang tipis terasa dingin, lembab karena air mataku yang mengalir deras hingga mataku bengkak dan memerah, dan air mataku habis terkuras.

Kantuk meninggalkanku, mataku yang perih membuka dengan susah payah meskipun malam akhirnya berakhir dan fajar pecah di puncak yang rendah entah di bagian mana California. Cahaya kelabu memancar di langit tak berawan, menyengat mataku. Tapi aku tak bisa memejamkannya; ketika aku melakukannya bayangan-bayangan yang berkelebat tampak kelewat nyata, bagaikan slide yang tertanam di balik pelupuk mataku, tak tertahankan. Ekspresi sedih Charlie—geraman brutal Edwad yang memamerkan deretan giginya— tatapan marah Rosalie—tatapan mengebu-gebu si pemburu—tatapan Edward yang mematikan setelah ia terakhir kali menciumku... Aku tak tahan melihat semua itu. Jadi aku melawan kelelahanku dan mataharipun semakin tinggi.

Aku masih terjaga ketika kami melintasi gunung yang rendah, dan matahari berada di belakang sekarang, sinarnya memantulkan bubungan atap keramik Valley of the Sun. Aku tak memiliki cukup emosi untuk merasa terkejut menyadari kami telah melakukan perjalanan tiga hari hanya dalam sehari. Aku menatap hampa lahan luas yang membentang di hadapanku. Phoenix—pohon-pohon palem, semak belukarnya, garisgaris tak beraturan di persimpangan jalan bebas hambatan, bentangan luas lapangan golf yang hijau, dan bercak turquoise kolam-kolam renang, semua kabur di balik kabut asap yang tipis dan dikelilingi bukit berbatu pendek yang tak cukup besar untuk disebut pegunungan.

Bayangan pepohonan palem menaungi jalan bebas hambatan—jelas, lebih tajam dari yang kuingat, lebih pucat dari seharusnya. Tak ada yang bisa bersembunyi dari balik bayangan ini. Jalan bebas hambatan yang terbuka dan terang tampak cukup aman. Tapi aku tidak merasa lega sedikitpun, tak ada perasaan seperti pulang ke rumah.

“Jalan mana yang menuju ke bandara, Bella?” tanya Jasper. Aku terkejut, meskipun suaranya cukup lembut dan tenang. Itu adalah suara pertama, selain deruman mesin mobil, yang memecah keheningan malam yang panjang.

“Ikuti terus rute I-sepuluh,” jawabku otomatis. “Kita akan melewatinya.”

Pikiranku bekerja lebih lambat akibat kurang tidur.

“Apakah kita akan terbang ke suatu tempat?” aku bertanya pada Alice.

“Tidak, tapi lebih baik berada di dekat bandara, hanya untuk berjaga-jaga.”

Aku ingat memulai putaran di sekitar Sky Harbor Internationa... tapi tidak ingat telah mengakhirinya. Kurasa pasti saat itulah aku tertidur.

Meskipun sekaranga ku telah melupakan ingatanku, samar-samar aku ingat telah meninggalkan mobil— matahari baru saja terbenam—lenganku di bahu Alice dan lengannya melingkar kuat di pinggangku, membawaku bersamanya saat aku tersandung-sandung menembus kegelapan yang kering dan hangat.

Aku tak ingat ruangan ini.

Aku memandang jam digital di meja sisi tempat tidur. Angkat yang berwarna merah menunjukkan pukul tiga, tapi tak ada indikasi apakah ini malam atau siang. Tak sedikitpun cahaya menembus tirai yang tebal, tapi ruangan benderang karena cahaya lampu.

Aku bangkit dengan tubuh kaku dan berjalan tertatih-tatih ke jendela, menyingkap tirainya.

Di luar gelap. Kalau begitu sekarang pukul tiga dini hari. Kamarku menghadap bagian jalan bebas hambatan yang terbengkalai dan areal parkir jangka panjang bandara yang baru. Rasanya sedikit nyaman bisa mengenali waktu dan tempat.

Aku memandang diriku sendiri. Aku masih mengenakan pakaian Esme yang kebesaran. Aku mengedarkan pandang, senang menemukan tas pakaianku di atas lemari pakaian yang pendek.

Aku baru saja akan mencari pakaian baru ketika ketukan pelan di pintu membuatku kaget.

“Boleh aku masuk?” tanya Alice.

Aku menghela napas panjang. “Tentu.”

Ia melangkah masuk dan memandangiku hati-hati. “Sepertinya kau butuh tidur lebih lama,” katanya.

Aku hanya menggeleng.

Ia bergerak tanpa suara ke jendela dan menutup tirai rapat-rapat sebelum berbalik lagi padaku.

“Kita harus tinggal di kamar,” ia memberitahuku. “Oke.” Suaraku serak, parau.

“Haus?” ia bertanya.

Aku mengangkat bahu. “Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?” “Tak ada yang tak bisa diatasi.” Ia tersenyum. “Aku memesan

makanan  untukmu,  ada  di ruang  depan.  Edward  mengingatkanku

bahwa kau harus makan lebih sering daripada kami.” Aku langsung lebih waspada. “Dia menelepon?”

“Tidak,” katanya, dan melihatku kecewa. “Dia mengatakannya sebelum kita pergi.”

Hati-hati ia meraih tanganku dan membimbingku melewati pintu menuju ruang tamu suite yang kami tempati. Aku bisa mendengar suara pelan yang datangnya dari arah TV. Jasper duduk diam di meja di sudut, menonton berita tanpa gairah sedikit pun.

Aku duduk di lantai di sebelah meja tamu. Di atasnya sudah tersedia makanan dalam nampan. Aku mulai makan tanpa menyadari apa yang kumakan.

Alice bertengger di lengan sofa dan menatap hampa ke TV seperti yang dilakukan Jasper.

Aku makan dengan pelan, mengamati Alice dan sesekali melirik Jasper. Aku mulai menyadari bahwa mereka terlalu diamm. Mereka tak pernah berpaling dari layar, meskipun sekarang sedang jeda iklan. Aku mendorong nampannya, perutku langsung mulas. Alice menatapku.

“Ada apa, Alice?” aku bertanya.

“Tidak ada apa-apa.” Matanya lebar, jujur... dan aku tidak mempercayainya.

“Apa yang kita lakukan sekarang?”

“Kita tunggu sampai Carlisle menelepon.”

“Dan apakah seharusnya dia sudah menelepon sekarang?” Aku tahu pertanyaanku nyaris benar. Tatapan Alice beralih dariku ke telepon diatas tas kulit kemudian menatapku lagi.

“Apa artinya?” suaraku bergetar, dan aku berusah mengendalikannya. “Kalau dia belum menelepon?’

“Itu artinya tak ada yang perlu mereka beritahukan kepada kita.” Tapi suaranya kelewat datar, dan semakin sulit rasanya untuk bernapas.

Jasper tiba-tiba sudah berada di sebelah Alice, lebih dekat denganku daripada biasanya.

“Bella,” kata Jasper dengan suara menenangkan yang mencurigakan. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Kau benar-benar aman disini.”

“Aku tahu itu.”

“Lalu kenapa kau ketakutan?” tanyanya, bingung. Ia mungkin merasakan perubahan emosiku, tapi ia tak bisa menebak maksud di balik itu semua.

“Kaudengar apa yang dikatakan Laurent.” Suaraku hanya bisiskan, tapi aku yakin mereka bisa mendengarnya. “Katanya James sangat berbahaya. Bagaimana kalau sesuatu berjalan tidak semestinya, dan mereka terpisah? Kalau sesuatu terjadi pada salah satu dari mereka, Carlisle, Emmett, Edward...” Aku menelan liurku. “Kalau si wanita liar itu melukai Esme...” Suaraku meninggi,

kecemasan mulai mewarnainya. “Bagaimana aku bisa terus hidup sementara semua itu adalah salahku? Tak satupun dari kalian seharusnya membahayakan hidup kalian demi aku—”

“Bella, Bella, hentikan,” Jasper menyelaku, kata-katanya mengalir begitu cepat hingga sulit untuk dimengerti. “Kau mengkhawatirkan hal yang salah, Bella. Percayalah padaku untuk yang satu ini—tak satu pun dari kami berada dalam bahaya. Kau hanya terlalu tegang, itu saja; jangan ditambah lagi dengan kekhawatiran yang tidak penting ini. Dengankan aku!” perintahnya,

karena    aku    telah    memalingkan    wajah.    “Keluarga    kami  kuat. Ketakutan kami satu-satunya adalah kehilangan dirimu.” “Tapi kenapa kalian harus merasa seperti itu—”

Alice menyela kali ini, menyentuh pipiku dengan jemarinya yang dingin. “Hampir satu abad lamanya Edward seorang diri. Sekarang Edward telah menemukanmu. Kau tidak bisa melihat perubahan yang kami lihat, kami telah bersama dengannya untuk waktu yang lama. Kau pikir kami tega melihat ke dalam matanya selama ratusan tahu yang akan datang bila dia kehilangan dirimu?”

Rasa bersalahku perlahan surut saat aku memandang matanya yang gelap. Tapi meskipun ketenangan menyelimutiku, aku tahu aku tak bisa mempercayai perasaanku selama Jasper ada disana.

Hari itu berlangsung sangat lama.

Kami tetap di kamar. Alice menelepon front office dan meminta mereka tidak membereskan kamar kami untuk saat ini. Jendela tetap tertutup, televisi menyala, meski tak seorangpun menonton. Secara teratur mereka mengantar makanan untukku. Telepon perak di atas tas Alice sepertinya tumbuh semakin besar sejalan dengan berlalunya waktu.

Para pengasuhku menghadapi ketegangan lebih baik dariku. Saat aku mondar-mandir dengan gelisah, mereka hanya bertambah kaku, dua patuh yang matanya tanpa kentara mengikuti gerakanku. Aku menyibukkan diri dengan menghafal ruangan tempatku berada; pola sofa yang bergaris-garis, cokelat, peach, krem, emas kusam, dan cokelat lagi. Kadang-kadang aku memandangi cetakan bermotif yang abstrak, secara acak mencari bentuk-bentuk disana, seperti aku mencari bentuk di awan ketika masih kecil. Aku menemukan tangan biru, wanita menyisir rambutnya, dan kucing meregangkan tubuhnya. Tapi ketika lingkaran merah pucat itu membentuk mata yang menatap, aku memalingkan wajah.

Ketika petang berganti malam, aku naik ke tempat tidur, hanya untuk mencari sesuatu yang bisa kulakukan. Aku berharap dengan berada sendirian dalam kegelapan, aku bisa menyerah pada rasa takut luar biasa yang menanti di ujung kesadaranku, tak mampu melepaskan diri dari pengawasan Jasper yang tajam.

Tapi Alice mengikutiku dengan sikap santai, seolah-olah ia kebetulan juga bosan berada di ruang depan. Aku mulai bertanya-tanya instruksi seperti apakah yang tepatnya diberikan Edward padanya. Aku berbaring di tempat tidur, dan ia duduk dengan kaki terlipat di sebelahku. Awalnya aku mengabaikannya, tiba-tiba merasa cukup lelah untuk tertidur. Tapi setelah beberapa menit, perasaan panik yang tadinya lenyap karena berada di dekat Jasper, kini mulai unjuk gigi. Dengan cepat aku melupakan ide untuk tidur, lalu meringkuk sambil memeluk kakiku.

“Alice?” aku bertanya. “Ya?”

Aku menjaga suaraku tetap tenang. “Menurutmu apa yang sedang mereka lakukan?”

“Carlisle ingin membimbing si pemburu sejauh mungkin ke utara, menunggunya mendekat, kemudian berbalik dan menjebaknya. Esme dan Rosalie seharusnya menuju barat sejauh si wanita tetap mengikuti mereka. Kalau wanita itu berbalik, merka akan kembali ke Forks dan mengawasi ayahmu. Jadi, aku membayangkan segalanya akan berjalan baik bial mereka tidak bisa menelepon. Itu artinya si pemburu berada cukup dekat sehingga mereka tidak ingin dia menguping pembicaraan di telepon.

“Dan Esme?”

“Kurasa dia pasti sudah kembali di Forks. Dia takkan menelepon bila ada kemungkina si wanita bisa mendengar. Aku menduga merka semua hanya ingin berhati-hati.”

“Menurutmu mereka benar-benar aman?”

“Bella, berapa kali kami harus memberitahumu bahwa kami sama sekali tidak terancam bahaya?”

“Meski begitu, maukah kau mengatakan yang sejujurnya?”

“Ya. Aku akan selalu mengatakan yang sejujurnya padamu.” Suaranya tulus.

Aku berpikir sejenak, dan memutuskan ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

“Kalau begitu ceritakan padaku... bagaimana kau menjadi vampir?”

Pertanyaanku membuatnya kaget. Ia diam. Aku berbalik untuk memandangnya, dan ekspresinya tampak ragu.

“Edward tidak ingin aku memberitahumu,” katanya tegas, tapi aku merasa ia tak sependapat.

“Itu tidak adil. Kurasa aku punya hak untuk mengetahuinya.” “Aku tahu.”

Aku mentapnya, menunggu.

Ia mendesah. “Dia bakal sangat marah.”

“Itu bukan urusannya. Ini antara kau dan aku. Alice, sebagai teman, aku memohon padamu.” Dan sekarang kami memang teman, entah bagaimana—seperti yang sudah diduganya selama ini.

Ia menatapku dengan matanya yang indah dan bijaksana... mempertimbangkan.

“Aku akan menceritakan cara kerjanya,” akhirnya ia berkata, “tapi aku sendiri tidak ingat, dan aku tidak pernah melakukannya atau melihatnya dilakukan, jadi camkan dalam pikiranmu bahwa aku hanya bisa menceritakan teorinya.”

Aku menunggu.

“Sebagai predator, kami punya banyak sekali senjata dalam gudang senjata fisik kami—sangat, sangat banyak dari yang sebenarnya diperlukan. Kekuatan, kecepatan, pengindraan yang tajam, belum lagi kami yang seperti Edward, Jasper, dan aku, yang mempunyai indra tambahan. Kemudian bagai kantong semar, secara fisik kami menarik bagi mangsa kami.

Aku diam tak bergerak, mengingat betapa jelas Edward menggambarkan konsep yang sama padaku ketika berada di padang rumput.

Senyumnya yang lebar tampak jahat. “Kami juga punya senjata ekstra lain. Kami juga berbisa,” katanya, giginya berkilauan. “Bisa kami tidak mematikan, hanya melumpuhkan. Daya kerjanya lambat, menyebar ke seluruh aliran darah, sehingga begitu tergigit, mangsa kami sangat kesakitan sehingga tak bisa melarikan diri. Kelewat berlebihan, seperti kataku tadi. Bila kami sedekat itu, si mangsa tak bisa melarikan diri. Tentu saja, selalu ada pengecualian. Carlisle

misalnya.”

“Jadi... kalau racunnya  dibiarkan menyebar...” gumamku. “Perlu beberapa hari  agar  perubahannya sempurna, tergantung

berapa banyak bisa yang ada dalam aliran darah, seberapa dekat bisa

itu memasuki jantung. Selama jantungnya tetap berdetak, bisa itu menyebar, menyembuhkan, mengubah tubuh saat melewatinya. Akhirnya jantungnya berhenti, dan perubahannya pun selesai. Tapi selama waktu itu, setiap menit, si korban akan mengharapkan kematian.”

Aku gemetar mendengarnya.

“Itu tidak menyenangkan, kau tahu.”

“Edward bilang itu sangat sulit dilakukan... aku tidak begitu mengerti,” kataku.

“Di satu sisi kami juga seperti hiu. Begitu kami merasakan darah, atau bahkan menciumnya saja, akan sangat sulit menahan diri untuk memangsa. Terkadang mustahil. Jadi kau tahu, dengan benar-benar menggigit seseorang, mengecap darahnya, itu akan memancing kegilaan. Sulit untuk kedua pihak—yang satu godaan

darahnya, yang lain rasa sakit yang luar biasa.” “Menurutmu, mengapa kau tidak mengingatnya?”

“Aku tidak tahu. Bagi orang-orang lain, rasa sakit akibat

transformasi adalah ingatan terkuat yang merka miliki dari masa kehidupan mereka sebagai manusia.” Suaranya terdengar muram. Kami berbaring tak bersuara, diselimuti pikiran masing-masing.

Detik-demi detik berlalu dan aku nyaris melupakan kehadirannya, aku begitu larut dalam pikiranku.

Kemudian tanpa peringatan apapun, Alice melompat dari tempat tidur dan mendarat mulus di kakinya. Kepalaku tersentak saat aku menatapnya, terkejut.

“Ada yang berubah.” Suaranya mendesak, dan ia tidak sedang berbicara padaku lagi.

Ia sampai ke pintu bersamaan dengan Jasper. Jelas ia telah mendengarkan pembicaraan kami dan seruan Alice yang tiba-tiba. Jasper meletakkan tangannya di bahu Alicedan membimbingnya kembali ke tempat tidur, mendudukannya di ujung tempat tidur.

“Apa yang kaulihat?” tanyanya hati-hati, menatap ke dalam mata Alice. Mata Alice terpusat pada sesuatu yang sangat jauh. Aku duduk di dekatnya, mencondongkan tubuh untuk menangkap suaranya yang pelan dan cepat sekali.

“Aku melihat sebuah ruangan. Panjang, ada cermin di mana-mana. Lantainya dari kayu. Dia di ruangan itu, dan dia menunggu. Ada emas... garis emas di seberang cermin-cermin itu.”

“Di mana kamar itu?”

“Aku tidak tahu. Ada yang hilang—keputusan yang lain belum dibuat.”

“Berapa lama lagi?”

“Segera. Dia akan berada di ruang cermin hari ini, atau barangkali besok. Tergantung. Dia menunggu sesuatu. Dan sekarang dia berada dalam kegelapan.”

Suara Jasper tenang, teratur, saat ia menayainya dengan cara terlatih. “Apa yang dilakukannya?”

“Dia menonton televisi... tidak, dia menyalakan VCR, di kegelapan, di tempat lain.”

“Bisakah kau melihat dimana dia berada?” “Tidak, terlalu gelap.”

“Dan ruangan cermin itu, apa lagi yang ada disana?”

“Hanya cermin, dan emas itu. Itu garis, mengelilingi ruangan. Dan ada meja hitam dengan stereo besar, juga sebuah televisi. Dia menyentuh VCR itu, tapi dia tidak menonton seperti yang dilakukannya di ruangan gelap. Ini adalah ruangan tempatnya menunggu.” Pandangan Alice menerawang, kemudian terpusat di wajah Jasper.

“Tak ada yang lainnya?”

Alice menggeleng. Mereka berpandangan, tak bergerak. “Apa maksudnya?” aku bertanya.

Sesaat tak satu pun dari mereka menyahut, kemudian Jasper menatapku.

“Itu artinya si pemburu mengubah rencananya. Dia telah membuat keputusan yang akan membimbingnya ke ruangan cermin, dan ruangan gelap.”

“Tapi kita tidak tahu dimana ruangan-ruangan itu.” “Tidak.”

“Tapi kita tahu dia takkan berada di pegunungan Washington, diburu. Dia akan kabur dari mereka.” Suara Alice terdengar putus  asa.

“Haruskah kita menelepon?” tanyaku. Mereka bertukar pandangan dengan serius, ragu-ragu.

Telepon berbunyi.

Alice sudah menyeberangi kamar sebelum aku sempat mendongak.

Ia menekan sebuah tombol dan mendekatkan telepon itu di telinganya, tapi ia tidak bicara lebih dulu.

“Carlisle,” desahnya. Ia tidak tampak terkejut atau lega, seperti yang kurasakan.

“Ya,” katanya, menatapku. Ia mendengarkan untuk waktu yang lama.

“Aku baru saja melihatnya.” Ia menggambarkan lagi apa yang dilihatnya. “Apapun yang membuatnya naik ke pesawat itu, yang membimbingnya ke ruangan-ruangan itu.” Alice terdiam. “Ya,” ia berbicara di telepon, kemudian ia berbicara padaku. “Bella?”

Ia menyodorkan teleponnya. Aku berlari menghampirinya. “Halo?” desahku.

“Bella,” kata Edward.

“Oh, Edward! Aku sangat khawatir.”

“Bella,” ia mendesah frustasi, “sudah kubilang jangan mengkhawatirkan hal lain kecuali dirimu sendiri.” Tak kusangka rasanya senyaman ini mendengar suaranya. Kurasakan kebut keputusasaan menipis dan lenyap saat ia bicara.

“Kau dimana?”

“Kami berada di luar Vancouver. Bella, maafkan aku—kami kehilangan jejaknya. Dia kelihatannya curiga—dia berhati-hati, menjaga jarak sejauh mungkin sehingga aku tak bisa mendengar apa yang dipikirkannya. Tapi dia sudah pergi sekarang—sepertinya naik pesawat. Kami kira dia kembali lagi ke Forks untuk memulai lagi dari

awal.” Aku bisa mendengar Alice menggantikan Jasper di  belakangku, kata-katanya yang cepat terdengar bagai gumaman.

“Aku tahu. Alice melihat dia berhasil kabur.”

“Meski begitu kau tak perlu khawatir. Dia takkan menemukan apa pun yang akan membawanya padamu. Kau hanya perlu tetap disana dan menunggu sampai kami menemukannya lagi.”

“Aku akan baik-baik saja. Apakah Esme bersama Charlie?” “Ya—si  wanita  ada  di  kota.  Dia  pergi  ke  rumah  Charlie, tapi

Charlie  sedang  di  tempat  kerja.  Dia  tidak  mendekati  Charlie, jadi

jangan khawatir. Dia aman dalam pengawasan Rosalie dan Esme.” “Apa yang dilakukan wanita itu?”

“Barangkali sedang mencoba mengikuti jejak. Dia mengelilingi kota sepanjang malam. Rosalie mengikutinya hingga ke bandara, semua jalanan di kota, sekolah... dia mencari-cari, Bella, tapi tak ada yang bisa ditemukannya.”

“Kau yakin Charlie aman?’

“Ya, Esme takkan membiarkannya luput dari pengawasan. Dan sebentar lagi kami akan tiba disana. Kalau si pemburu berada dekat-dekat Forks, kami akan menghabisinya.”

“Aku merindukanmu,” bisikku.

“Aku tahu, Bella. Percayalah padaku, aku tahu. Rasanya seolah-olah kau telah membawa separuh diriku bersamamu.”

“Kalau begitu datang dan ambillah,” aku menantangnya.

“Segera, begitu aku bisa. Aku akan membuatmu aman dulu.” Suaranya tegang.

“Aku mencintaimu,” aku mengingatkannya.

“Bisakah kau mempercayainya, terlepas dari semua yang telah kau alami karena aku, bahwa aku juga mencintaimu?”

“Ya, sebenarnya aku percaya.” “Aku akan segera datang padamu.” “Aku akan menunggu.”

Setelah percakapan selesai, kabut depresi pun menyelimutiku

lagi.

Aku berbalik untuk mengembalikan telepon itu kepada Alice

dan mendapati ia dan Jasper membungkuk di atas meja. Alice sedang membuat sketsa pada sehelai memo hotel. Aku bersandar di sofa, mengintip dari balik bahunya.

Ia sedang menggambar sebuah ruangan : panjang, persegi, dengan bagian lebih sempit berbentuk segi empat di bagian belakang. Potongan-potongan kayu yang membentuk lantai membentang sepanjang ruangan. Di bawah dinding terdapat garis-garis yang menandakan batasan cermin. Sepanjang dinding, setinggi pinggang, tampak garis yang disebut Alice berwarna emas. “Itu studio balet,” kataku, tiba-tiba mengenali bentuknya yang tidak asing.

Mereka memandangku, terkejut.

“Kau tahu ruangan ini?” suara Jasper terdengar tenang, tapi di baliknya ada sesuatu yang tak bisa kuduga. Alice menunduk menatap gambarnya, tangannya menyapu kertas itu sekarang, menggambar tangga darurat di dinding belakang, stereo dan TV di meja rendah di sudut kanan depan.

“Kelihatannya seperti tempat yang biasa kukunjungi unutk belajar menari—ketika usiaku delapan atau sembilan tahun. Bentuknya tak berubah.” Kusentuh kertas itu pada bagian yang menonjol kemudian menyempit di bagian belakang ruangan. “Di sana letak kamar mandinya—pintunya bisa menembus ke lantai dansa lainnya. Tapi stereonya tadinya di sini”—aku menunjuk sudut kiri—“sudah lama, dan tidak ada TV. Ada jendela di ruang

tunggu—kau akan melihat ruangan itu dari sudut pandang ini kalau kau melihatnya dari jendela itu.”

Alice dan Jasper menatapku.

“Kau yakin ini ruangan yang sama?” Jasper bertanya, masih tenang.

“Tidak, sama sekali tidak—kurasa kebanyakan dari studio tari kelihatannya sama—cermin-cerminnya, palangnya.” Jari-jariku menelusuri palang balet yang terpasang di cermin. “Bentuknya saja yang kelihatannya tidak asing.” Aku menyentuh pintunya, terpasang pada tempat yang sama persis seperti yang kuingat.

“Apa kau punya alasan apa pun untuk pergi ke sana sekarang?” Alice bertanya, membuyarkan lamunanku.

“Tidak, sudah hampir sepuluh tahun aku tak pernah pergi ke sana. Aku penari yang payah—mereka selalu menjadikanku cadangan pada acara resital,” aku mengakui.

“Jadi tak mungkin itu ada hubungannya denganmu?” tanya Alice sungguh-sungguh. “Tidak, kurasa pemiliknya bahkan bukan orang yang sama. Aku yakin itu hanya studio tari lainnya, entah dimana.”

“Di mana letak studio yang biasa kau datangi?” Jasper bertanya dengan nada kasual.

“Di sekitar sudut rumah ibuku. Aku biasa berjalan kaki ke sana sepulang sekolah...” kataku, suaraku menghilang. Aku melihat  mereka bertukar pandang.

“Kalau begitu di sini, di Phoenix?” Suara Jasper masih santai. “Ya,” bisikku. “58th Street dan Cactus.”

Kami duduk terdiam, memandangi gambar Alice.

“Alice, apakah telepon itu aman?”

“Ya,” ia menyakinkanku. “Nomornya hanya akan terdeteksi ke Washington.”

“Kalau begitu aku bisa menggunakannya untuk menelepon ibuku.”

“Kupikir dia di Florida.”

“Memang—tapi dia akan segera pulang, dan dia tak bisa kembali ke rumah itu sementara...” Suaraku gemetar. Aku sedang memikirkan sesuatu yang dikatakan Edward, tentang wanita berambut merah yang mendatangi rumah Charlie, sekolah, dimana catatan tentang diriku berada.

“Bagaimana kau akan menghubunginya?”

“Mereka tidak punya nomor tetap kecuali di rumah—dia seharusnya memeriksa mesin penjawabnya secara teratur.”

“Jasper?” tanya Alice.

Ia mempertimbangkannya. “Kurasa itu tidak mungkin berbahaya—pastikan kau tidak menyebutkan di mana kau berada, tentu saja.”

Dengan bersemangat aku meraih telepon genggam Alice dan memutar nomor yang sudah tidak asing lagi. Terdengar nada sambung sebanyak empat kali, kemudian aku mendengar suara ibuku yang mendesah memberitahukan untuk meninggalkan pesan. “Mom,”  kataku  setelah  bunyi  bip,  “ini  aku.  Dengar,  aku mau

kau  melakukan  sesuatu.  Ini  penting.  Begitu  kau  sudah  menerima

pesan ini, hubungi aku di nomor ini.” Alice sudah di sisiku, menuliskan nomornya untukku di bagian bawah gambar. Aku membacanya perlahan, dua kali. “Kumohon jangan pergi kemana-mana sampai kau berbicara denganku. Jangan khawatir, aku baik-baik saja, tapi aku harus bicara denganmu secepatnya, tak peduli kapan pun kau menerima pesan ini, oke? Aku mencintaimu, Mom. Bye.” Aku memejamkan mata dan berdoa sepenuh hati agar tak ada perubahan rencana tiba-tiba yang membawanya pulang sebelum ia mendengar pesanku.

Aku duduk di sofa, mengunyah buah-buahan yang tersisa di piring, mengantisipasi malam yang panjang. Aku berpikir untuk menelepon Charlie, tapi tak yakin apakah ia sudah pulang atau belum. Aku berkonsentrasi menonton berita, mencari berita tentang Florida, atau tentang pelatihan musim semi—aksi demo atau badai topan atau serangan teroris—apa pun yang mungkin membuat mereka pulang lebih awal.

Keabadian pasti melahirkan kesabaran yang tiada habisnya. Baik Jasper maupun Alice tidak merasa perlu melakukan sesuatu sama sekali. Selama beberapa waktu Alice membuat sketsa samar ruangan gelap itu berdasarkan penglihatannya, sebanyak yang dapat dilihatnya dengan mengandalkan cahaya yang berasal TV. Tapi ketika selesai ia hanya duduk, menatap dinding-dinding kosong tanpa berkedip. Jasper juga kelihatan tidak terdorong untuk mondar-madir atau mengintip dari balik tirai, atau menghambur ke pintu sambil berteriak-teriak, seperti yang kurasakan.

Aku pasri tertidur di sofa, menantikan telepon berbunyi lagi. Sentuhan tangan Alice yang dingin membangunkanku sebentar saat ia menggendongku ke tempat tidur, tapi aku kembali pulas sebelum kepalaku menyentuh bantal.

Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊