menu

Twilight Bab 19 Perpisahan

Mode Malam
Bab 19 Perpisahan

Charlie menungguku. Semua lampu di rumah menyala. Pikiranku kosong ketika aku mencoba memikirkan cara agar ia mau membiarkanku pergi. Ini tidak bakal menyenangkan.

Perlahan Edward menepikan Jeep, memarkirnya tepat di belakang trukku. Mereka bertiga sangat waspada, duduk tegak di kursi mereka, mendengarkan setiap suara di hutan, mengamati setiap bayangan, menghirup setiap aroma, mencari sesuatu yang tidak pada tempatnya. Mesin dimatikan, dan aku duduk tak bergerak ketika mereka terus mendengarkan.

“Dia tidak disini,” kata Edward tegang. “Ayo.”

Emmett meraih ke sisiku untuk membantuku melepaskan sabuk pengaman. “Jangan khawatir, Bella,” katanya pelan namun ceria, “kami akan membereskan semuanya disini dalam waktu singkat.”

Aku merasakan mataku nyaris berkaca-kaca saat memandang Emmett. Aku nyaris tak mengenalnya, namun bagaimanapun juga, tidak mengetahui kapan aku bisa bertemu lagi dengannya setelah malam ini, membuatku sedih. Aku tahu ini hanyalah rasa perpisahan yang harus kutahankan selama 1 jam ke depan, dan pikiran itu membuat air mataku mulai turun.

“Alice, Emmett.” Suara Edward memerintah. Mereka menyelinap tanpa suara menembus kegelapan, langsung menghilang. Edward membukakan pintuku dan memegang tanganku, kemudian menarikku dalam pelukkannya yang melindungi. Ia mengantarku dengan cepat ke rumah, matanya selalu menjelajahi kegelapan malam.

“Lima belas menit,” ia mengingatkanku dengan berbisik.

“Aku bisa melakukannya,” isakku. Air mata memberiku inspirasi. Aku berhenti di teras dan menggenggam wajahnya dengan kedua tanganku. Aku menatap matanya lekat-lekat.

“Aku mencintaimu,” kataku, suaraku pelan dan dalam. “Aku akan selalu mencintaimu, tak peduli apa yang terjadi sekarang.”

“Takkan terjadi apa-apa padamu, Bella,” katanya, sama tajamnya.

“Jalankan saja rencananya, oke? Jaga Charlie untukku. Dia takkan menyukaiku lagi setelah ini, dan aku ingin punya kesempatan untuk meminta maaf nantinya.”

“Masuklah, Bella. Kita harus bergegas.” Suaranya mendesak. “Satu   lagi,”   aku   berbisik   penuh   hasrat.   “Jangan dengarkan

kata-kataku  malam  ini.”   Ia   mencondongkan   tubuhnya,   jadi yang

perlu kulakukan hanya berjingkat untuk mencium bibirnya yang beku dan terkejut sekuat mungkin. Kemudian aku berbalik dan menendang pintu hingga terbuka.

“Pergilah, Edward!” Aku berteriak padanya, berlari masuk dan membanting pintu hingga tertutup di hadapan wajahnya yang masih terkejut.

“Bella?” Charlie sedang bersantai di ruang tamu, dan sekarang  ia bangkit berdiri.

”Jangan ganggu aku!” aku berteriak padanya, air mataku mengalir deras sekarang. Aku berlari menaiki tangga menuju kamar, membanting pintu dan menguncinya. Aku berlari ke tempat tidur, mengempaskan diri di lantai untuk mengambil tasku. Aku langsung mengulurkan tangan ke bawah kasur dan mengambil kaus kaki usang tempatku menyimpan uangku.

Charlie mengedor-gedor pintu kamar.

“Bella, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” Suaranya waswas. “Aku mau pulang,” aku berteriak, memberi tekanan pada kata

yang tepat.

“Apakah dia melukaimu?” suaranya hampir marah. “Tidak!” jeritku. Aku berbalik ke lemari pakaian, dan Edward sudah ada disana, tanpa suara meraup asal-asalan pakaianku, lalu melemparkannya padaku.

“Apakah dia mencampakkanmu?” Charlie benar-benar bingung. “Tidak!” jeritku, agak terengah-engah saat menjejalkan semuanya kedalam tas. Edward melempar beberapa helai pakaian

lagi padaku. Sekarang tasnya sudah lumayan penuh.

“Apa yang terjadi, Bella?” seru Charlie dari balik pintu sambil mengedor-gedor lagi.

“Aku mencampakkannya!” aku balas berteriak, sambil menarik-narik resleting tasku. Tangan Edward yang sedang tidak melakukan apa-apa mendorong tanganku dan menutup risleting itu dengan mulus. Dengan hati-hati ia menaruh talinya di bahuku.

“Aku akan menunggu di truk—pergi!” ia berbisik, dan mendorongku ke pintu. Ia menghilang lewat jendela.

Aku membuka pintu dan menghambur melewati Charlie, berjuang keras membawa tasku yang berat menuruni tangga.

“Apa yang terjadi?” ia berteriak. Ia berada tepat di belakangku. “Kupikir kau menyukainya?”

Ia menangkap sikuku ketika kami sampai di dapur. Meskipun ia masih bingung, cengkramannya kuat.

Ia memutar tubuhku menghadapnya, dan aku bisa melihat ekspresi di wajahnya, bahwa ia tak berniat membiarkanku pergi. Aku hanya bisa memikirkan satu cara untuk melepaskan diri, dan ini akan sangat melukai hatinya hingga aku membenci diriku sendiri bahkan ketika memikirkannya. Tapi aku tak punya waktu, dan aku harus memikirkan keselamatannya.

Aku menatap geram pada ayahku, air mata kembali menggenangi mataku memikirkan apa yang akan segera kulakukan.

“Aku memang menyukainya—itulah masalahnya. Aku tak bisa melakukan ini lagi! Aku tak bisa hidup disini lebih lama lagi! Aku tak mau terjebak di kota tolol dan membosankan ini seperti Mom! Aku tidak akan membuat kesalahan bodoh yang saam seperti yang dilakukan Mom. Aku benci—aku tak bisa tinggal disini lebih lama lagi!”

Ia melepaskan lenganku seolah-olah aku telah menyetrumnya. Aku berpaling dari wajahnya yang terkejut dan terluka, lalu bergegas ke pintu.

“Bells, kau tak bisa pergi sekarang. Sudah malam,” bisiknya dibelakangku.

Aku tidak menoleh. “Aku akan tidur di truk bila mengantuk.” “Tunggu 1 minggu lagi,” ia memohon, masih terkejut setengah

mati. “Renée akan kembali pada saat itu.”

Ia benar-benar membuatku kesal. “Apa?”

Charlie melanjutkan dengan bersemangat, hampir meracau lega ketika melihat keraguanku. “Dia menelepon ketika kau  sedang keluar. Kehidupannya di Florida tidak berjalan baik, dan kalau Phil tidak mendapatkan kontrak hingga akhir pekan, mereka akan kembali ke Arizona. Asisten pelatih Sidewinders bilang mereka masih punya posisi sementara untuknya.”

Aku menggeleng, berusaha mengumpulkan pikiranku yang sedang berantakan. Setiap detik yang berlalu akan semakin membahayakan nyawa Charlie.

“Aku punya kunci,” gumamku, memutar kenop pintu. Ia berdiri terlalu dekat, satu tangannya terulur ke arahku, wajahnya syok. Aku tak bisa membuang waktu dan berdebat dengannya lagi. Aku harus membuatnya lebih sakit lagi.

“Biarkan aku pergi, Carlie.” Aku mengulangi kata-kata terakhir ibuku ketika ia melewati pintu yang sama ini bertahun-tahun yang lalu. Aku mengucapkannya semarah mungkin, lalu membuka pintu, lalu mengempaskannya. “Semuanya kacau, oke? Aku sungguh, sungguh membenci Forks!”

Ucapanku yang jahat berhasil—Charlie bergeming di ambang pintu, terpana, sementara aku berlari menembus malam. Aku amat sangat ketakutan berada di pekarangan yang kosong. Aku berlari seperti kerasukan menuju trukku, membayangkan bayangan gelap di belakangku. Kulempar tasku ke jok dan menarik pintunya hingga terbuka. Kuncinya sudah menggantung di lubang starter.

“Besok aku akan menelepon!” aku berteriak, berharap melebihi apapun bahwa aku bisa menjelaskan semua ini padanya saat itu, namun sadar aku takkan pernah sanggup. Kunyalakan mesin truk dan melesat meninggalkan halaman rumah.

Edward meraih tanganku.

“Menepi,” katanya begitu rumahku, dan Charlie, telah lenyap di belakang kami.

“Aku bisa mengemudi,” kataku di balik air mata yang mengalir ke pipi.

Tahu-tahu tangannya yang panjang mencengkeran pinggangku, dan kakinya mendorong kakiku hingga lepas dari pedal gas. Ia menarikku ke pangkuannya, melepaskan tanganku dari kemudi, dan tiba-tiba saja ia sudah pindah ke jok pengemudi. Trukku tidak oleng sedikitpun.

“Kau takkan bisa menemukan rumahnya,” ia menjelaskan.

Tiba-tiba lampu menyorot terang di belakang kami. Aku memandang lewat kaca belakang, mataku membelalak ketakutan.

“Itu cuma Alice,” ia menenangkanku. Ia memegang tanganku

lagi.

Benakku dipenuhi sosok Charlie yang berdiri di ambang pintu.

“Si Pemburu?”

“Dia mendengar akhir sandiwaramu,” kata Edward geram. “Charlie?” tanyaku ngeri.

“Si pemburu mengikuti kita. Sekarang ia berlari di belakang kita.”

Tubuhku langsung membeku. “Bisakah kita meninggalkannya?” “Tidak.” Tapi Edward mempercepat mesin trukku sambil berbicara. Mesin truk menggeram.

Rencanaku tiba-tiba tidak terasa brilian lagi.

Aku menoleh ke belakang menatap lampu Alice ketika truk bergetar dan bayangan gelap meluncur di luar jendela.

Darahku bergejolak sesaat sebelum Edward membekap mulutku.

“Itu Emmett!”

Ia melepaskan tangannya dari mulutku, dan memeluk pinggangku.

“Semuanya baik-baik saja, Bella,” ia berjanji. “Kau akan aman.” Kami melesat melalui kota yang sepi, menuju jalan tol utara. “Aku tak tahu kau masih bosan dengan kehidupan kota kecil,”

katanya   berbasa-basi,   dan   aku   tahu   ia   berusaha   mengalihkan

perhatianku. “Sepertinya kau menyesuaikan diri dengan sangat baik—terutama akhirakhir ini. Barangkali aku hanya menyanjung diriku sendiri karena telah membuat hidupmu jauh lebih menarik.”

“Aku benar-benar bukan anak yang baik,” aku mengaku, mengabaikan perhatianku, sambil menunduk memandangi lutut. “Itu tadi hal yang sama yang diucapkan ibuku saat dia meninggalkan Dad. Bisa dibilang itu sangat kejam dan tidak adil.”

“Jangan khawatir. Dia akan memaafkanmu.” Ia tersenyum sedikit, meskipun matanya tidak.

Aku menatapnya putus asa, dan ia melihat kepanikan di mataku.

“Bella, semuanya akan baik-baik saja.”

“Tapi tidak akan baik-baik saja saat aku tidak bersamamu,” bisikku.

“Kita akan bersama-sama lagi dalam beberapa hari,” katanya seraya mempererat pelukannya. “Jangan lupa, ini idemu.”

“Ini ide terbaik—tentu saja ini ideku.” Senyumnya pucat dan langsung lenyap.

“Kenapa ini terjadi?” tanyaku, suaraku melengking. “Kenapa aku?”

Ia menatap marah ke jalanan di depan kami. “Ini salahku—aku bodoh sekali mengeksposmu seperti itu.” Kemarahan dalam suaranya ditujukan untuk dirinya sendiri.

“Bukan itu maksudku,” aku berkeras. “Aku ada disana, memangnya kenapa? Kehadiranku tidak mengganggu 2 yang lain. Kenapa si James ini memutuskan untuk membunuhku? Ada orang dimana-mana, kenapa aku?”

Ia ragu-ragu, berpikir sebelum menjawab.

“Aku mendengarkan pikirannya malam ini,” ia memulai dengan suara pelan. “Aku tak yakin ada yang bisa kulakukan untuk menghindari ini, begitu dia melihatmu. Sebagian adalah salahmu.” Suaranya masam. “Seandainya aromamu tidak begitu menggiurkan,

dia mungkin saja tidak terusik. Tapi ketika aku membelamu...

well, itu membuat segalanya tambah parah. Dia tak terbiasa dikecewakan, tak peduli betapa tidak pentingnya objek itu. Dia menganggap dirinya pemburu, bukan yang lain. Eksistensinya hanya melulu tentang berburu, dan baginya tantangan adalah satu-satunya hal yang penting. Tiba-tiba kita mempersembahkan tantangan yang indah di hadapannya—satu klan besar yang terdiri atasa pejuang tangguh semua bersatu melindungi satu elemen yang lemah. Kau takkan percaya betapa bergembiranya dia sekarang. Ini permainan favoritnya, dan kita baru saja menjadikannya permainan paling

menarik baginya.” Suaranya penuh kejijikan.

Ia berhenti sebentar.

“Tapi seandainya aku tidak membelamu, dia bisa saja membunuhmu saat itu juga,” katanya putus asa.

“Kupikir... aromaku tidak sama bagi yang lain... tidak seperti bagimu,” kataku ragu-ragu.

“Memang tidak. Tapi bukan berarti kau bukan godaan bagi mereka. Seandainya kau telah menarik perhatian si pemburu—atau salah satu dari mereka—dengan cara yang sama seperti terhadapku, pertarungan akan terjadi saat itu juga.”

Aku bergidik ngeri.

“Kurasa, aku tak punya pilihan lain kecuali membunuhnya sekarang,” gumamnya. “Carlisle takkan menyukainya.”

Aku bisa mendengar suara ban melintasi jembatan, meskipun aku tidak bisa melihat sungainya di kegelapan. Aku tahu kami semakin dekat. Aku harus bertanya sekarang.

“Bagaimana kau membunuh vampir?”

Ia melirikku dengan tatapan yang tak bisa kutebak dan suaranya mendadak parau. “Satu-satunya yang bisa memastikan kematiannya adalah dengan menghancurkannya berkeping-keping, lalu membakarnya.”

“Dua vampir lainnya, apakah mereka akan ikut bertarung dengannya?”

“Yang perempuan ya. Aku tak yakin dengan Laurent. Mereka tidak punya ikatan kuat—dia bersama mereka hanya demi kemudahan. James mempermalukannya ketika berada di padang rumput...”

“Tapi James dan wanita itu—mereka akan mencoba membunuhmu?” tanyaku, suaraku gemetar.

“Bella, jangan berani-berani membuang waktumu untuk mengkhawatirkan aku. Satu-satunya yang harus kaupikirkan adalah menjaga dirimu sendiri tetap aman dan—kumohon, kumohon—usahakanlah jangan ceroboh.”

“Apakah dia masih mengikuti?”

“Ya. Meskipun begitu dia takkan menyerang rumah kami. Tidak malam ini.”

Edward membelok ke jalanan yang tak terlihat, Alice mengikuti di belakang. Kami langsung menuju rumah. Lampu-lampu di dalam menyala terang, tapi nyaris tak dapat menguraikan kegelapan hutan yang rapat. Emmett telah membukakan pintuku sebelum truk berhenti; ia menarikku dari jok, meletakkanku bagai bola rugby di dadanya yang bidang, dan membawaku berlari menuju pintu.

Kami menghambur ke ruangan putih luas, Edward dan Alice berada di sisi kami. Semua ada disana, mereka bangkit berdiri ketika mendengar kami mendekat. Laurent berdiri di tengah mereka. Aku bisa mendengar geraman pelan Emmett saat dia mendudukanku di sisi Edward.

“Dia mengikuti kami,” ungkap Edward, menatap galak pada Laurent.

Wajah Laurent tampak muram. “Aku sudah mengkhawatirkan hal itu.”

Alice bergerak anggun ke sisi Jasper dan berbisik di telinganya, bibirnya bergetar cepat mengucapkan sesuatu yang tak terdengar. Mereka menaiki tangga bersama-sama. Rosalie mengamati mereka, kemudian bergerak cepat ke sisi Emmett. Matanya yang indah penuh cinta dan—ketika beralih enggan menatapku— tampak marah.

“Apa yang akan dilakukannya?” Carlisle bertanya pada Laurent dengan perasaan waswas.

“Maafkan aku,” jawabnya. “Aku khawatir, ketika anak laki-lakimu tadi membelanya, itu justru memicunya.”

“Bisakah kau menghentikannya?”

Laurent menggeleng. “Tak ada yang bisa menghentikan James begitu dia sudah mulai.”

“Kami akan menghentikannya,” Emmett berjanji. Tak ada keraguan di balik maksud perkataannya.

“Kau takkan bisa menaklukkannya. Aku tak pernah melihat kekuatan seperti yang dimilikinya selama 300 tahun kehidupanku. Dia sangat mematikan. Itu sebabnya aku bergabung dalam kelompoknya.” Kelompoknya tentu saja, pikirku. Pertunjukkan soal siapa sang pemimpin di lapangan tadi hanya pura

pura. Laurent menggeleng. Ia melirikku, bingung, kemudian kembali menatap Carlisle. “Kau yakin ini layak?” Geraman marah Edward menggema di seluruh ruangan, Laurent langsung ciut. Carlisle menatap Laurent dingin. “Aku khawatir kau harus menentukan pilihan.” Laurent mengerti. Ia menimbang-nimbang sebentar. Ia menatap satu per satu setiap wajah disana, dan

akhirnya menyapu seluruh ruangan terang itu.

“Aku tertarik pada kehidupan yang kauciptakan disini. Tapi aku takkan terlibat dalam urusan ini. Aku sama sekali tidak membenci kalian, tapi aku tidak akan menentang James. Kurasa aku akan menuju utara— menemui klan yang ada di Denali.” Ia ragu-ragu. “Jangan remehkan James. Dia memiliki pemikiran yang blirian dan indra yang tak ada tandingannya. Dia sama nyamannya berada dalam dunia manusia seperti kalian, dan dia tidak akan mendatangi kalian dengan terang-terangan... Aku minta maaf atas apa yang terjadi disini. Aku sungguh menyesal.” Ia membungkuk, tapi  aku  melihatnya melirik bingung lagi ke arahku.

“Pergilah dengan damai,” ujar Carlisle dengan nada formal. Laurent kembali memandang sekelilingnya untuk waktu yang lama, kemudian bergegas keluar. Keheningan hanya bertahan sebentar. “Seberapa dekat?” Carlisle menatap Edward. Esme sudah bergerak; tangannya menekan tombol tak kasatmata di dinding, dan dengan suara

menderu. Dan jendela baja besar mulai menutupi dinding kaca. Aku memandang terkesima. “Sekitar 3 mil dari sungai, dia sedang memutar untuk menemui si wanita.” “Apa rencananya?” “Kita akan mengalihkan perhatiannya, kemudian Jasper dan Alice akan membawanya ke selatan.” “Lalu?” Nada suara Edward terdengar mematikan.  “Begitu  Bella  aman  dari  bahaya,  kita  akan  memburu

James.” “Kurasa tak ada pilihan lain,” Carlisle menimpali, wajahnya kelam. Edward berbalik menghadap Rosalie. “Bawa Bella ke atas dan tukarlah pakaian kalian,” perintah Edward. Rosalie balas menatapnya dengan

tatapan marah dan tak percaya. “Kenapa aku harus melakukannya?” desisnya. “Memangnya dia siapaku? Dia hanya membawa sial—

bahaya yang kaupilih untuk kita semua.” Aku tersentak mendengar kebengisan dalam suaranya. “Rose...” gumam Emmett, sambil meletakkan satu tangan di bahunya. Rosalie menepisnya. Tapi

aku  mengamati  Edward  dengan  hati-hati,  teringat temperamennya

yang meledak-ledak,

mengkhawatirkan reaksinya. Ia membuatku terkejut. Ia berpaling dari Rosalie seolah-olah ia tak pernah mengatakan apa-apa, seolah

ia tidak ada. “Esme?” tanyanya tenang. “Tentu saja,” gumam Esme. Tak sampai sedetik Esme sudah berada di sisiku, mengayunkan tubuhku dengan mudah kemudian

menggendongku, dan melompati anak tangga sebelum aku menyadarinya. “Apa yang kita lakukan?” tanyaku terengah-engah  saat ia menurunkanku di ruangan gelap entah dimana di lantai 2. “Berusaha mengaburkan aromamu. Tidak akan bertahan lama, tapi

mungkin bisa membantumu melarikan diri.” Aku bisa mendengar suara pakaiannya berjatuhan di lantai.

“Kurasa pakaian Anda takkan muat...” aku ragu, tapi tangan-tangannya langsung melepaskan T-shirt-ku. Aku bergegas melepaskan jinsku. Ia memberi sesuatu padaku, rasanya seperti kaus. Aku berjuang memasukkan tanganku te lubang yang tepat. Begitu aku selesai, ia menyerahkan celana panjangnya. Aku mengenakannya, tapi tak bisa mengeluarkan kakiku; terlalu panjang. Dengan mahir ia menggulung ujung lipatannya beberapa kali hingga aku bisa berdiri. Entah bagaimana ia sudah mengenakan pakaianku. Ia menarikku kembali ke tangga, ke tempat Alice berdiri sambil membawa tas kulit kecil. Mereka masing-masing memegang sikuku dan setengah mengangkatku ketika melayang menuruni tangga. Sepertinya segala sesuatu di bawah telah beres saat kami pergi tadi. Edward dan Emmett sudah siap berangkat, Emmett menyampirkan ransel yang kelihatannya berat di bahunya. Carlisle menyerahkan sesuatu yang kecil kepada Esme. Ia berbalik dan menyerahkan benda yang sama kepada Alice—ponsel kecil berwarna perak.

“Esme dan Rosalie akan membawa trukmu, Bella,” ia memberitahu saat melewatiku. Aku mengangguk, melirik cemas ke arah Rosalie. Ia sedang menatap geram ke arah Carlisle.

“Alice, Jasper—kalian bawa Mercedes-nya. Warna gelapnya akan berguna bagi kalian ketika berada di Selatan.”

Mereka juga mengangguk. “Kami naik Jeep.”

Aku terkejut mengetahui Carlisle berniat pergi bersama Edward. Tiba-tiba aku menyadari, dengan ngeri, bahwa mereka akan ikut meramaikan perburuan.

“Alice,” Carlisle bertanya, “apakah mereka akan memakan umpannya?”

Semua memperhatikan Alice ketika ia memejamkan mata dan bergeming.

Akhirnya matanya membuka. “James akan memburumu. Si wanita akan mengikuti truk. Kita seharusnya bisa pergi setelah itu.” Suaranya yakin.

“Ayo kita pergi.” Carlisle berjalan menuju dapur.

Tapi Edward serta merta telah berdiri di sisiku. Ia menangkapku dalam genggamannya yang kuat, memelukku erat-erat. Ia sepertinya tidak menyadari keluarganya memperhatikan saat ia meraih wajahku dan mendekatkannya ke wajahnya, mengangkat tubuhku dari lantai. Dalam waktu sekejap bibirnya yang dingin dan keras mencium bibirku. Kemudian semuanya selesai. Ia menurunkanku ke lantai, masih memegangi wajahku, matanya yang indah membara menatapku. Sorot matanya berubah hampa, mematikan, ketika ia berpaling dariku.

Dan merekapun pergi.

Kami berdiri disana, yang lain memalingkan pandangan dariku saat air mata mulai menetes tanpa suara di wajahku.

Keheningan terus berlanjut, kemudian ponsel Esme bergetar. Ia langsung mendengarkan.

“Sekarang,” katanya. Rosalie berjalan sambil mengentak-entakkan kaki menuju pintu depan tanpa melihat lagi ke arahku, tapi Esme menyentuh pipiku ketika melewatiku.

“Jaga dirimu.” Bisikannya menggema di belakang mereka saat mereka menyelinap keluar. Aku mendengar suara trukku menderu, lalu lenyap.

Jasper dan Alice menunggu. Ponsel Alice sepertinya sudah menempel di telinganya sebelum sempat bergetar.

“Edward bilang si wanita membuntuti Esme. Aku akan ambil mobil.” Ia lenyap ke dalam kegelapan seperti ketika Edward pergi.

Jasper dan aku berpandang-pandangan. Ia berdiri agak jauh di pintu masuk... berhati-hati.

“Kau salah, kau tahu itu,” katanya pelan. “Apa?” aku terkesiap.

“Aku bisa merasakan apa yang kaurasakan sekarang—dan kau

memang layak.”

“Tidak,” gumamku. “Kalau terjadi sesuatu pada mereka, pengorbanan mereka bakal sia-sia.”

“Kau keliru,” ia mengulanginya, tersenyum ramah padaku.

Aku tak mendengar apa-apa, tapi kemudian Alice melangkah melalui pintu depan dan menghampiriku dengan tangan terentang.

“Bolehkah?” tanyanya.

“Kau yang pertama yang meminta izin.” Aku tersenyum pahit. Tangannya yang ramping mengangkatku semudah yang dilakukan Emmett, memelukku dengan sikap melindungi, meninggalkan cahaya terang di belakang kami.

Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊