menu

Twilight Bab 17 Permainan

Mode Malam
Bab 17 Permainan

Gerimis baru saja mulai ketika Edward berbelok menuju jalanan rumahku. Hingga saat itu aku sama sekali tidak ragu ia akan terus menemaniku semantara aku menghabiskan waktu sebentar di dunia nyata.

Kemudian aku melihat mobil hitam, Ford using, diparkir di pelataran parkir Charlie—dan mendengar Edward menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, suaranya pelan dan parau.

Berteduh dari hujan di teras depan yang beratap rendah, tampak Jacob Black berdiri di belakang kursi roda ayahnya. Wajah Billy diam bagai patung ketika Edward memarkir trukku. Jacob mengawasi, ekspresinya mematikan.

Suara Edward yang dalam terdengar marah. “Ini sudah kelewatan.”

“Dia datang untuk memperingatkan Charlie?” aku menebak, lebih ketakutan daripada marah.

Edward hanya mengangguk, membalas tatapan Billy yang menembus hujan dengan mata menyipit.

Aku merasa lemas dan sekaligus lega bahwa Charlie belum pulang.

“Biar aku yang mengurusnya,” usulku. Tatapan tajam Edward membuatku waswas.

Aku terkejut karena ia menyetujuinya. “Barangkali itu yang terbaik. Meskipun begitu, berhati-hatilah. Anak itu tidak tahu apa-apa.”

Aku sedikit kesal karena ia menyebut Jacob anak. “Jacob tidak jauh lebih muda daripadaku,” aku mengingatkan.

Ia memandangku, kemarahannya langsung lenyap. “Oh, aku tahu,” ia meyakinkanku dengan senyuman. Aku mendesah dan meletakkan tanganku di pegangan pintu. “Ajak mereka masuk,” perintahnya, “jadi aku bisa pergi. Aku

akan kembali sekitar senja.”

“Kau mau membawa trukku?” aku menawarkan, sambil membayangkan bagaimana caranya menjelaskan kepada Charlie dimana trukku berada.

Ia memutar bola matanya. “Aku bisa berjalan pulang lebih cepat daripada truk ini.”

“Kau tidak perlu pergi,” kataku sedih.

Ia tersenyum melihat ekspresiku yang muram. “Sebenarnya memang tidak perlu. Setelah kau menyingkirkan mereka”—ia melemparkan tatapan kelam ke arah Jacob dan Billy—” kau masih harus mempersiapkan Charlie untuk bertemu pacar barumu.” Ia tersenyum lebar, memamerkan seluruh giginya.

Aku mengerang. “Terima kasih banyak.”

“Ia menyunggingkan senyumnya yang kusuka. “Aku  akan  segera kembali,” ia berjanji. Matanya kembali melirik teras, kemudian ia  membungkuk,  sekilas  mengecup  pangkal  rahangku.   Jantungku

melompat tak keruan, dan aku memandang ke teras. Wajah Billy tak

lagi datar, dan ia mencengkeram sandaran tangan kursi rodanya. “Segera,” aku menekankan kata itu sambil membuka pintu dan

berdiri di bawah hujan.

Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku ketika aku setengah berlari menembus gerimis menuju teras.

“Hei, Billy. Hai, Jacob.” Aku menyapa mereka seceria mungkin. “Charlie pergi seharian—kuharap kalian belum terlalu lama menunggu.”

“Belum lama,” sahut Billy tenang. Mtanya yang berwarna hitam memandangku tajam. “Aku hanya mau mengantar ini.” Ia menunjuk kantong cokelat di pangkuannya.

“Terima kasih,” kataku, meskipun tak tahu apa isinya. “Masuklah sebentar dan keringkan dirimu.” Aku berpura-pura tidak menyadari tatapannya yang tajam saat membuka pintu, dan menyuruh mereka berjalan menduluiku.

“Mari, biar kusimpankan untukmu,” aku menawarkan diri, berbalik untuk menutup pintu. Kubiarkan diriku memandang ke arah Edward sekali lagi. Ia sedang menunggu, diam, matanya serius.

“Masukkan ke kulkas,” Billy mengingatkan ketika menyerahkan bungkusan itu padaku. “Isinya beberapa potong ikan goreng buatan Harry Clearwater—kesukaan Charlie. Kulkas akan membuatnya lebih

kering.” Ia mengangkat bahu.

“Terima kasih,” aku mengulanginya, namun kali ini bersungguh-sungguh. “Aku kehabisan cara baru untuk mengolah ikan, dan ia bertekad membawa lebih banyak ikan malam ini.”

“Memancing lagi?” Billy bertanya, matanya berbinar. “Di tempat memancing yang biasa? Barangkali aku akan kesana menemuinya.”

“Bukan,” aku cepat-cepat berbohong, wajahku menegang. “Dia ke tempat baru... Tapi aku tidak tahu dimana.”

Ia menyadari perubahan ekspresiku, dan itu membuatnya berpikir.

“Jake,” katanya, masih mengamatiku. “Mengapa kau tidak mengambil gambar Rebecca yang baru di mobil? Aku juga ingin memberikannya pada Charlie.”

“Dimana?” Jacob bertanya, suaranya murung. Aku memandangnya, tapi ia menunduk menatap lantai, alisnya bertaut.

“Rasanya aku melihatnya di bagasi,” jawab Billy. “Kurasa kau perlu mencari-cari di bagian bawah.”

Jacob kembali menembus hujan.

Billy dan aku berhadap-hadapan dalam hening. Setelah beberapa saat, keheningan itu mulai terasa menjengahkan, jadi aku berbalik menuju dapur. Aku bisa mendengar decit roda kurisnya yang basah di atas lantai linoleum ketika mengikutiku.

Kumasukkan kantong itu ke rak teratas kulkas yang sudah penuh, dan berbalik menghadapnya. Wajahnya yang keriput tak dapat ditebak.

“Charlie pulang larut.” Suaraku nyaris kasar.

Ia mengangguk setuju, tapi tidak mengatakan apa-apa.

“Sekali lagi terima kasih untuk ikan gorengnya,” ujarku  memberi isyarat.

Ia terus mengangguk. Aku mendesah dan melipat tanganku di dada.

Ia sepertinya bisa merasakan bahwa aku sudah tak ingin berbasa-basi lagi. “Bella,” katanya, kemudian ragu-ragu.

Aku menunggu.

“Bella,” katanya lagi. “Charlie salah satu sahabatku.” “Ya.”

Hati-hati ia mengucapkan setiap kata dengan suara bergemuruh.

“Keperhatikan kau menghabiskan waktumu dengan salah satu anak keluarga Cullen.”

“Ya,” kembali aku menjawab dengan ketus.

Matanya menyipit. “Barangkali ini bukan urusanku, tapi menurutku itu bukan ide yang bagus.”

“Kau benar,” timpalku. “Itu memang bukan urusanmu.”

Alisnya yang beruban terangkat mendengar nada suaraku. “Barangkali kau tidak mengetahuinya, tapi keluarga Cullen punya reputasi yang tidak bagus di reservasi kami.”

“Sebenarnya, aku mengetahuinya,” ujarku tegas. Ia terkejut. “Tapi reputasi itu tidak bisa dibenarkan, bukan begitu? Karena keluarga Cullen tidak pernah menginjakkan kaki di reservasi, ya kan?” Bisa kulihat ucapanku yang mengingatkannya pada kesepakatan yang mengikat dan melindungi sukunya telah membuatnya bungkam.

“Memang benar,” ia menyetujuinya, matanya waspada. “Kau kelihatannya... cukup tahu tentang keluarga Cullen. Lebih tahu daripada yang kuduga.” Aku menatapnya. “Bahkan mungkin lebih tahu daripadamu.”

Ia mengerucutkan bibirnya yang tebal sambil memikirkannya. “Mungkin,” ia mengalah, tapi sorot matanya tajam. “Apakah Charlie sama tahunya seperti dirimu?”

Ia sudah menemukan kelemahan pertahananku.

“Charlie sangat menyukai keluarga Cullen,” sahutku membentengi diri. Ia jelas memahami bahwa aku berkelit. Ekspresinya tidak senang, tapi tidak terkejut.

“Itu bukan urusanku,” katanya. “Tapi mungkin urusan Charlie.” “Meskipun lagi-lagi itu adalah urusanku, entah aku

menganggap itu urusan Charlie atau tidak, ya kan?”

Aku bertanya-tanya apakah ia bahkan mengerti pertanyaan yang membingungkan itu selagi aku berusaha untuk tidak mengatakan apapun yang mencurigakan. Tapi sepertinya ia mengerti. Ia mempertimbangkannya sementara hujan mengguyur atap, satu-satunya suara yang memecah keheningan.

“Ya,” akhirnya ia menyerah. “Kurasa itu urusanmu juga.” Aku mendesah lega. “Terima kasih, Billy.”

“Pikirkan saja apa yang kau lakukan, Bella,” desaknya. “Oke,” aku buru-buru menimpali.

Wajahnya menekuk. “Maksudku, jangan lakukan apa yang sedang kaulakukan.”

Aku menatap matanya, di dalamnya tak lain hanya rasa peduli terhadapku, dan tak ada yang bisa kukatakan.

Saat itu juga pintu depan terbanting keras, dan aku melompat mendengarnya.

“Gambar itu tak ada dimanapun di mobil.” Keluhan Jacob mencapai kami sebelum dirinya sendiri. Ketika ia berbelok di sudut, bagian pundak bajunya tampak basah kuyup karena hujan dan air menetes-netes dari rambutnya.

“Hmm,” Billy bergumam, tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan memutar kursi menghadap anaknya. “Kurasa aku meninggalkannya di rumah.”

Jacob memutar-mutar bola matanya secara dramatis. “Hebat.” “Well, Bella, beritahu Charlie”—Billy berhenti sebelum

melanjutkan kata-katanya—“bahwa kami mampir, maksudku.”

“Akan  kusampaikan,”  gumamku. Jacob terkejut. “Kita sudah mau pergi?”

“Charlie akan pulang larut,” Billy menjelaskan sambil meluncur melewati Jacob.

“Oh,” Jacob tampak kecewa. “Well, kurasa sampai ketemu nanti, Bella.”

“Tentu,” timpalku.

“Jaga dirimu,” Billy mengingatkanku. Aku tak menyahut.

Jacob membantu ayahnay melewati pintu. Aku melambai sebentar, sambil melirik trukku yang sekarang sudah kosong, kemudian menutup pintu sebelum mereka berlalu.

Aku berdiri di lorong sebentar, mendengarkan suara mobil mereka menjauh meninggalkan pekarangan. Aku diam di tempat, menunggu kejengkelan dan kekhawatiranku lenyap. Setelah ketegangan itu sedikit memudar, aku pergi ke lantai atas untuk mengganti pakaian.

Aku mencoba beberapa atasan berbeda, tak yakin apa yang menantiku malam ini. Saat aku berkomunikasi pada apa yang akan terjadi, yang baru saja lewat jadi tidak penting. Sekarang setelah tak lagi dibawah pengaruh Jasper dan Edward, aku mulai bersiap-siap untuk tidak merasa takut sebelumnya. Segera saja aku menyerah memilih pakaian—kukenakan atasan flanel usang dan jins—lagipula aku toh bakal mengenakan jas hujan semalaman.

Telepon berbunyi dan aku lari menuruni tangga untuk mengangkatnya. Hanya ada satu suara yang ingin kudengar; yang lainnya akan membuatku kecewa. Tapi aku tahu kalau ia ingin berbicara denganku, barangkali ia langsung muncul saja di kamarku. “Halo?” tanyaku, terengah-engah. “Bella? Ini aku,” kata Jessica.

“Oh, hei, Jess.” Sejenak kukerahkan diriku untuk kembali ke dunia nyata. Rasanya seperti berbulanbulan bukannya berhari-hari sejak terakhir aku berbicara dengan Jessica. “Bagaimana pesta dansanya?”

“Asyik banget!” sembur Jessica. Tak perlu dipancing lagi, ia langsung menceritakan detail demi detail tentang malam sebelumnya. Aku menggumamkan mmm dan ahh pada saat yang tepat, tapi tidak mudah untuk berkonsentrasi. Jessica, Mike, pesta dansa, sekolah—semuanya terdengar sangat tidak sesuai dengan

saat ini. Mataku terus menatap jendela, mencoba mengukur cahaya di balik awan tebal itu.

“Kaudengar apa yang kukatakan, Bella?” tanya Jess jengkel. “Maaf, apa?”

“Kubilang, Mike menciumku! Kau percaya?” “Itu bagus, Jess,” kataku.

“Jadi, apa yang kaulakukan kemarin?” tantang Jessica, masih jengkel karena aku kurang menyimak. Atau mungkin ia kecewa karena aku tidak menanyakan detailnya.

“Tidak ada, sungguh. Aku hanya berjalan-jalan di luar menikmati matahari.”

Aku mendengar suara mobil Charlie di garasi.

“Apa kau pernah mendengar kabar lagi dari Edward Cullen?”

Pintu depan dibanting, dan aku bisa mendengar Charlie menimbulkan suara gedebak-gedebuk di bawah tangga, meletakkan peralatannya.

“Mmm.” Aku tagu, tak yakin apa lagi yang harus kuceritakan. “Hai, Nak!” seru Charlie saat berjalan ke dapur. Aku melambai

padanya.

Jess mendengar suara Charlie. “Oh, ayahmu ada. Tak apa—kita ngobrol besok. Sampai ketemu di kelas Trigono.” “Sampai ketemu, Jess.” Aku menutup telepon.

“Hei, Dad,” kataku. Ia sedang menggosok-gosok tangannya di bak cuci piring. “Mana ikannya?”

“Aku meletakkannya di freezer.”

“Akan kuambil beberapa sebelum membeku—Billy mengantar beberapa ikan goreng Harry Clearwater sore ini.” Aku berusaha terdengar bersemangat.

“Oh ya?” Mata Charlie berbinar-binar. “Itu kesukaanku.”

Charlie membersihkan diri sementara aku menyiapkan makan malam. Dalam waktu singkat kami sudah duduk di meja, makan dalam diam. Charlie menikmati makanannya. Dengan putus asa aku membayangkan bagaimana melaksanakan tugasku, berjuang memikirkan cara untuk mengangkat masalah itu.

“Apa yang kaulakukan hari ini?” tanyanya, membuyarkan lamunanku.

“Well, sore ini aku di rumah saja...” Bukan sepanjang sore, sebenarnya. Aku berusaha menjaga suaraku tetap ceria, tapi perutku seperti berlubang. “Dan pagi ini aku bertamu ke rumah keluarga

Cullen.”

Charlie menjatuhkan garpunya. “Rumah dr. Cullen?” ia bertanya, kaget.

Aku berpura-pura tidak memperhatikan reaksinya. “Yeah.”  “Apa yang kaulakukan disana?” Ia tidak mengambil garpunya

lagi.

“Well, bisa dibilang aku punya kencan dengan Edward Cullen

malam ini, dan ia ingin memperkenalkan aku dengan orangtuanya... Dad?”

Kelihatannya Charlie mengalami penyempitan pembuluh darah. “Dad, kau baik-baik saja?”

“Kau berkencan dengan Edward Cullen?” gelegar Charlie. O-Oh. “Kupikir kau menyukai keluarga Cullen?” “Dia terlalu tua untukmu,” serunya marah.

“Kami sama-sama murid junior,” aku meralatnya, meskipun ia lebih benar dari yang diduganya.

“Tunggu...” Ia berhenti. “Edwin itu yang mana, ya?”

“Edward adalah yang paling muda, yang rambutnya cokelat kemerahan.” Yang tampan, yang seperti dewa...

“Oh, well, itu” –ia berusaha keras mengucapkan kata-katanya—“lebih baik, kurasa. Aku tidak suka tampang yang bertubuh besar. Aku yakin dia anak laki-laki yang baik dan semuanya, tapi dia kelihatan terlalu... dewasa untukmu. Apakah Edwin ini pacarmu?”

“Namanya Edward, Dad.” “Ya, tidak?”

“Kurasa bisa dibilang begitu.”

“Semalam katamu kau tidak tertarik dengan anak laki-laki mana pun di kota ini.” Tapi ia mengambil garpunya lagi, jadi aku tahu yang terburuk telah berlalu.

“Well, Edward tidak tinggal di kota, Dad.” Ia menatapku jengkel saat mengunyah.

“Lagipula,” lanjutku, “ini baru tahap awal, kau tahu. Jangan membuatku malu dengan semua omongan soal pacar, oke?”

“Kapan dia akan kemari?” “Dia akan tiba sebentar lagi.”

“Dia akan mengajakmu ke mana?”

Aku mengeram keras-keras. “Kuharap kau singkirkan kecurigaan berlebihan dari pikiranmu sekarang. Kami akan bermain baseball bersama keluarganya.”

Wajahnya cemberut, kemudian akhirnya tergelak. “Kau bermain baseball?”

“Well, barangkali kebanyakan aku menonton.” “Kau pasti benar-benar menyukai laki-laki ini,” ia mengamatiku curiga.

“Aku mendesah dan memutar bola mataku.

Aku mendengar deruman mobil diparkir di depan rumah. Aku melompat dan mulai membersihkan piring bekas makanku.

“Tinggalkan saja piring-piring itu, aku bisa mencucinya malam ini. Kau sudah terlalu memanjakanku.”

Bel pintu berbunyi, dan Charlie berjalan terhuyung-huyung untuk membukanya. Aku hanya beberapa jengkal di belakangnya.

Aku tidak menyadari betapa derasnya hujan di luar sana. Edward berdiri di bawah bias lampu teras, tampak seperti model pria dalam iklan jas hujan.

“Ayo masuk, Edward.”

Aku mendesah lega ketika Charlie menyebut namanya dengan benar.

“Terima kasih, Kepala Polisi Swan,” sahut Edward dengan suara penuh hormat.

“Oh, panggil saja aku Charlie. Sini, kusimpankan jaketmu.” “Terima kasih, Sir.”

“Silahkan duduk, Edward.” Aku meringis.

Edward dengan luwes duduk di kursi satu dudukan,

memaksaku duduk di sofa, di sebelah Charlie. Aku cepat-cepat melirik jengkel padanya. Ia mengedip di belakang Charlie.

“Jadi, kudengar kau mau mengajak putriku menonton pertandingan baseball.” Faktanya, hanya di Washington-lah pertandingan olahraga luar ruangan tetap berjalan tak peduli hujan deras atau tidak.

“Ya, Sir, begitulah rencananya.” Ia tidak tampak terkejut bahwa aku mengatakan yang sebenarnya pada ayahku. Lagipula, ia mungkin saja mendengarkan. “Well, kurasa kau lebih punya kekuatan untuk itu.” Charlie tertawa, dan Edward ikut tertawa.

“Oke.” Aku bangkit berdiri. “Sudah cukup menertawakanku.  Ayo kita pergi.” Aku kembali menyusuri lorong dan mengenakan jaket. Mereka mengikuti.

“Jangan pulang terlalu larut, Bell.”

“Jangan khawatir, Charlie, aku akan mengantarnya pulang sebelum larut,” Edward berjanji.

“Kaujaga putriku baik-baik, oke?”

Aku mengerang, tapi mereka mengabaikanku. “Dia akan aman bersamaku, aku janji, Sir.”

Charlie tak bisa meragukan ketulusan Edward, yang terdengar pada setiap kata-katanya.

Aku melangkah keluar sambil mengentakkan kaku. Mereka tertawa, dan Edward mengikutiku.

Aku berhenti tiba-tiba di teras. Disana, di belakang trukku, tampak Jeep berukuran sangat besar. Bannya lebih tinggi dari pinggangku. Di depan lampu depan dan belakangnya ada bemper baja dan empat lampu sorot besar terkait di rangka bemper yang besar. Atapnya merah mengkilat.

Charlie bersiul pelan.

“Kenakan sabuk pengamanmu,” sahutnya tercekat.

Edward mengikuti ke sisiku dan membukakan pintu. Aku mengira-ngira jarak ke jok dan bersiap-siap melompat naik. Ia mendesah, kemudian mengangkatku dengan satu tangan. Kuharap Charlie tidak memperhatikan.

Ketika ia beralih ke jok pengemudi, dalam langkah manusia normal, aku berusaha mengenakan sabuk pengamanku. Tapi terlalu banyak kaitan.

“Ini semua untuk apa?” tanyaku ketika ia membuka pintu. “Itu perlengkapan keselamatan off-road.” “Oh-oh.”

Aku mencoba menemukan setiap kaitan yang tepat, tapi tidak mudah. Ia mendesah lagi dan mencondongkan tubuh untuk membantuku. Aku senang hujannya sangat lebat sehingga kurasa Charlie tidak terlalu jelas melihat kemari. Berarti ia tidak bisa melihat tangan Edward yang menyentuh leherku, menyusuri tulang selangkaku. Aku menyerah berusaha menolongnya dan berkonsentrasi agar tidak terengah-engah.

Edward memasukkan kunci kontak dan menyalakan mesin.

Kami berlalu meninggalkan rumah. “Ini... mmm... Jeep-mu besar sekali.”

“Ini punya Emmett. Kurasa kau pasti tidak ingin berlari sepanjang jalan.”

“Di mana kalian menyimpan benda ini?”

“Kami merenovasi salah satu bangunan lain di rumah kami dan menjadikannya garasi.”

“Apa kau tidak akan mengenakan sabuk pengamanmu?” Ia menatapku tak percaya.

Lalu aku tiba-tiba mengerti.

“Berlari sepanjang jalan? Itu berarti kita masih harus berlari separuh perjalanan?” Suaraku naik beberapa oktaf.

Ia tersenyum tegang. “Kau tidak akan berlari.” “Aku bakal mual.”

“Pejamkan saja matamu, kau akan baik-baik saja.”

Kugigit bibirku, melawan rasa panik.

Ia mencondongkan tubuh mengecup keningku, kemudian mengerang. Aku menatapnya, bingung.

“Kau harum sekali ketika hujan,” jelasnya.

“Dalam artian yang baik, atau buruk?” tanyaku hati-hati. Ia mendesah. “Keduanya, selalu keduanya.” Aku tak tahu bagaimana dapat melihat jalan dalam kegelapan dan guyuran hujan, tapi entah bagaimana ia menemukan jalan kecil yang tidak bisa dibilang jalan dan lebih menyerupai jalan setapak pegunungan. Untuk waktu yang cukup lama kami tak mungkin bercakap-cakap, karena aku melonjak-lonjak seperti mata bor. Meski begiut Edward kelihatannya menikmati perjalanan, tersenyum lebar sepanjang jalan.

Kemudian kami tiba di ujung jalan; pepohonan membentuk dinding hijau pada ketika sisi Jeep. Hujan tinggal gerimis, setiap detik semakin pelan, dan langit tampak lebih terang di balik awan.

“Maaf, Bella, kita harus jalan kaku dari sini.” “Kau tahu? Aku akan menunggu disini saja.”

“Apa yang terjadi dengan semua nyalimu? Kau sangat luar biasa pagi ini.”

“Aku belum melupakan pengalaman terakhirku.” Mungkinkah itu baru kemarin?

Ia mengitari bagian depan mobil, dan menuju sisiku dalam kelebatan. Ia mulai melepaskan kaitan sabuk pengamanku.

“Biar aku yang melakukannya, kau terus saja,” protesku. “Hmmm...” ia berpikir sambil cepat-cepat menyelesaikannya.

“Sepertinya aku harus memanipulasi ingatanmu.”

Sebelum aku bereaksi, ia menarikku dari Jeep dan membuatku berdiri di tanah. Nyaris tak berembun sekarang ini; Alice benar.

“Memanipulasi ingatanku?” tanyaku gugup.

“Semacam itu.” Ia memperhatikanku lekat-lekat, dengan hati-hati, tapi jauh di dalam matanya ada rasa humor. Ia meletakkan kedua tangannya di Jeep di kedua sisi kepalaku dan mencondongkan tubuh, memaksaku menempel ke pintu. Ia mencondongkan tubuhnya semakin dekat, wajahnya hanya beberapa senti dariku. Aku tak bisa melepaskan diri.

“Nah,” desahnya, aromanya saja telah mengganggu proses berpikirku, “apa tepatnya yang kau khawatirkan?” “Well, mm, menabrak pohon—” aku menelan ludah, “—dan sekarat. Kemudian mual.”

Ia menahan senyum. Kemudian ia menunduk dan dengan lembut menyapukan bibir dinginnya di lekukan leherku.

“Kau masih khawatir sekarang?” gumamnya di atas kulitku. “Ya.” Aku berusaha berkonsentrasi. “Tentang menabrak

pepohonan dan menjadi mual.”

Menggunakan hidungnya, ia menyusuri leherku hingga ke ujung dagu. Napasnya yang dingin menggelitik kulitku.

“Sekarang?” Bibirnya berbisik di rahangku. “Pepohonan,” aku terengah. “Mual.”

Ia mengangkat wajah untuk mengecup kelopak mataku. “Bella, kau tidak berpikir aku akan menabrak pohon, kan?”

“Tidak, tapi aku mungkin.” Tak ada kepercayaan diri dalam suaraku. Ia mengendus kemenangan dengan mudah.

Perlahan-lahan ia mencium menuruni pipiku, berhenti tepat di sudut mulutku.

“Akankah kubiarkan pohon melukaimu?” Bibirnya nyaris menyapu bibir bawahku yang gemetaran.

“Tidak,” desahku. Aku tahu pertahananku nyaris hancur, tapi tak ada yang bisa kulakukan.

“Kaulihat,” katanya, bibirnya bergerak di bibirku. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan, ya kan?”

“Tidak,” aku mendesah, menyerah.

Kemudian dengan dua tangan ia meraih wajahku nyaris dengan kasar, dan menciumku sepenuh hati, bibirnya yang tak mau berkompromi melumat bibirku.

Sungguh tak ada alasan untuk perilakuku. Jelas aku mestinya tahu lebih baik saat ini. Namun toh aku tak bisa menahan diri untuk tidak bereaksi seperti kali pertama. Bukannya tetap diam dengan aman, lenganku malah terangkat dan memeluk erat lehernya, dan sekonyong-konyong aku pun melebur dengan tubuhnya yang kaku. Aku mendesah dan mengangkat bibirku.

Ia tergagap mudur, dengan mudah melepaskan cengkramanku. “Sialan, Bella!” ujarnya terengah-engah. “Kau akan menjadi

alasan kematianku, aku bersumpah.”

Aku berjongkok, mengaitkan tanganku di lutut agar tidak jatuh ke tanah.

“Kau tidak bisa mati,” gumamku, berusaha mengatur napas. “Aku mungkin mempercayai itu sebelum aku bertemu

denganmu.  Sekarang  ayo  keluar  dari  sini  sebelum  aku melakukan

sesuatu yang sangat bodoh,” geramnya.

Ia mengangkatku ke punggungnya seperti sebelumnya, dan bisa kulihat ia berusaha keras untuk memperlakukanku selembut sebelumnya. Aku mengunci kedua kakiku di pinggangnya, dan melingkarkan tanganku erat-erat di lehernya.

“Jangan lupa untuk memejamkan mata,” ia mengingatkan dengan nada kasar.

Aku cepat-cepat membenamkan wajahku di  bahunya,  di bawah lenganku sendiri, dan memejamkan mata.

Dan aku nyaris tak bisa merasakan bahwa kami sedang bergerak. Aku bisa merasakannya meluncur di bawahku, tapi ia bisa saja sedang berjalan di jalan setapak, gerakannya terlalu halus. Aku tergoda untuk mengintip, hanya untuk melihat apakah ia benar-benar terbang menembus hutan seperti sebelumnya, tapi aku menahannya. Tidak sebanding dengan rasa pusing yang menyiksa itu. Aku menghibur diri sendiri dengan mendengarkan irama napasnya yang teratur. Aku tidak begitu yakin apakah kami sudah berhenti hingga tangannya meraih ke belakang dan menyentuh rambutku.

“Sudah sampai, Bella.”

Aku memberanikan diri membuka mata, dan cukup yakin, kami sudah berhenti. Dengan kaku kulepaskan cengkramanku dari tubuhnya dan merosot ke tanah, mendarat di punggungku.

“Oh!” dengusku ketika terempas ke tanah yang  basah.

Ia menatapku tak percaya, jelas-jelas tak yakin apakah ia masih terlalu marah padaku untuk menganggapku lucu. Tapi ekspresiku yang kebingungan membuatnya santai, dan ia pun tertawa terbahak- bahak.

Aku bangkit berdiri, mengabaikannya sambil membersihkan lumpur dan bagian belakang jaketku. Itu hanya membuatnya tertawa lebih keras. Merasa jengkel, aku mulai melangkah ke dalam hutan.

Aku merasakan lengannya memeluk pinggangku. “Kau mau kemana, Bella?”

“Nonton pertandingan baseball. Kau kelihatannya tidak tertarik lagi bermain, tapi aku yakin yang lain akan bersenang-senang tanpa dirimu.”

“Kau berjalan ke arah yang salah.”

Aku berbalik tanpa melihat ke arahnya, dan berjalan mengentak-entak ke arah sebaliknya. Ia menangkapku lagi.

“Jangan marah, aku tak dapat menahan diri. Kau seharusnya melihat wajahmu sendiri.” Ia tergelak sebelum bisa menahannya.

“Oh, jadi hanya kau yang berhak marah?” tanyaku, alisku terangkat.

“Aku tidak marah padamu.”

“’Bella, kau akan menjadi alasan kematianku’?” aku mengingatkannya dengan nada sinis.

“Itu hanya pernyataan sesungguhnya.”

Aku berusaha menjauhkan diri darinya lagi, tapi ia menangkapku dengan cepat. “Kau marah,” aku berkeras. “Ya.”

“Tapi kau baru bilang—”

“Aku tidak marah padamu. Tidak bisakah kau melihatnya, Bella?” Tiba-tiba ia tegang, seluruh selera humornya lenyap. “Tidakkah kau mengerti?”

“Mengerti apa?” tuntutku, bingung dengan perubahan suasana hatinnya yang tiba-tiba, begitu juga kata-katanya.

“Aku takkan pernah marah padamu—bagaimana mungkin bisa?

Kau begitu berani, percaya... hangat.”

“Lalu kenapa?” bisikku, mengingat suasana hatinya yang kelam yang menjauhkannya dariku, yang selalu kuinterpretaskan sebagai perasaan frustasi yang rasional—frustasi akan kelemahanku, kelambananku, dan reaksi manusiaku yang tak terkendali...

Hati-hati ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku. “Aku membangkitkan kemarahanku sendiri,” katanya lembut. “Karena selalu membahayakan dirimu. Eksistensiku sendiri membahayakanmu. Kadangkadang aku benar-benar membenci diriku sendiri. Aku harus lebih kuat, aku harus bisa—”

Kuletakkan tanganku di atas mulutnya. “Jangan.”

Ia meraih tanganku, memindahkannya dari bibirnya, namun meletakkannya di wajahnya.

“Aku mencintaimu,” katanya. “Itu alasan menyedihkan untuk apa yang kulakukan, tapi itu masih benar.”

Itulah pertama kalinya ia menyatakan cintanya padaku—dalam begitu banyak kata-kata. Ia mungkin tidak menyadarinya, tapi aku tentu saja menyadarinya. “Sekarang, kumohon bersikaplah yang baik,” ia melanjutkan, dan membungkuk untuk menyapukan bibirnya dengan lembut di bibirku.

Aku diam tak bergerak. Lalu mendesah.

“Kau berjanji pada Kepala Polisi Swan akan mengantarku pulang tidak sampai larut, ingat? Sebaiknya kita pergi sekarang.”

“Ya, Ma’am.”

Ia tersenyum sedih dan melepaskanku, kecuali satu tanganku. Ia membimbingku menaiki ketinggian beberapa meter, menembus semak-semak yang basah dan padat, mengitari pohon cemara berdaun yang besar sekali, dan kami pun sampai, di ujung lapangan terbuka yang luas di pangkuan puncak Pegunungan Olympic. Luasnya dua kali stadion baseball.

Aku bisa melihat yang lain semua ada disana; Esme, Emmett, Rosalie yang duduk di atas pecahan batu yang menonjol adalah yang terdekat dengan kami, mungkin jauhnya seratus meter. Lebih jauh lagi aku bisa melihat Jasper dan Alice, setidaknya jaraknya seperempat mil, kelihatannya sedang melempar-lempar sesuatu, tapi aku tak melihat bolanya. Kelihatannya Carlisle sedang menandai base, tapi benarkah base-base itu terpisah sejauh itu?

Ketika kami sampai, Esme, Emmett, dan Rosalie bangkit berdiri. Esme menghampiri kami. Emmett mengikuti setelah lama menatap punggung Rosalie. Rosalie telah bangkit dengan gemulai dan melangkah ke lapangan tanpa melirik ke arah kami. Perutku langsung mual, gelisah.

“Kaukah yang kami dengar tadi, Edward?” Esme bertanya sambil mendekati kami.

“Kedengarannya seperti beruang tersedak,” Emmett membenarkan.

Aku tersenyum ragu-ragu kepada Esme. “Itu memang dia.” “Bella tahu-tahu melakukan sesuatu yang lucu,” Edward

menjelaskan, cepat-cepat membalasku. Alice telah meninggalkan posisinya dan sedang berlari, atau menari ke arah kami. Ia meluncur cepat dan berhenti dengan luwes di dekat kami. “Sudah waktunya,” ia mengumumkan.

Begitu ia berbicara, gemuruh petir yang menggelegar mengguncang hutan, kemudian pecah di barat kota.

“Menyeramkan, bukan?” kata Emmett dengan nada akrab, sambil mengedip padaku.

“Ayo.” Alice meraih tangan Emmett dan mereka berlari ke lapangan yang luas. Alice berlari bagai rusa. Emmet juga nyaris seanggun dan secepat Alice—mesli begitu ia takkan pernah bisa dibandingkan dengan rusa.

“Kau siap bermain?” Edward bertanya,  tatapannya bersemangat, berkilat-kilat.

Aku mencoba terdengar bersemangat. “Ayo, tim!”

Ia mengejek dan, setelah mengacak-acak rambutku, mengejar kedua saudaranya. Larinya lebih agresif, lebih mirip cheetah daripada rusa, dan dengan cepat ia mendahului mereka. Keanggunan dan kekuatan itu mempesonaku.

“Mau ikut turun?” Esme bertanya dengan suaranya yang lembut dan merdu, dan aku menyadari aku telah melongo menatap Edward. Dengan cepat kubenahi ekspresiku dan mengangguk. Esme tetap menjaga jarak beberapa meter di antara kami, dan aku bertanya-tanya apakah ia masih berhati-hati agar tidak membuatku takut. Ia menyamakan langkah kami tanpa terlihat tidak sabar.

“Anda tidak bermain bersama mereka?” tanyaku malu-malu. “Tidak, aku lebih suka menjadi wasit—aku suka menjaga

mereka tetpa jujur,” ia menjelaskan.

“Kalau begitu, apakah mereka suka bermain curang?”

“Oh ya—kau harus dengar agrumentasi mereka! Sebenarnya, kuharap kau tak perlu mendengarnya, kau akan berpikir mereka dibesarkan sekawanan serigala.”

“Anda terdengar seperti ibuku,” aku tertawa, terkejut. “Ia juga tertawa. “Well, aku memang menganggap mereka anak-anakku dalam banyak hal. Aku tak pernah bisa menghilangkan naluri keibuanku—apakah Edward bilang bahwa aku kehilangan seorang anak?”

“Tidak,” gumamku, terkejut, berusaha memahami kehidupan mana yang sedang diingatnya.

“Ya, bayi pertamaku dan satu-satunya. Dia meninggal hanya beberapa hari setelah dilahirkan, makhluk kecil yang malang,” ia mendesah. “Itu menghancurkan hatiku—itu sebabnya aku melompat dari tebing, kau tahu,” tambahnya terus terang.

“Edward hanya bilang Anda j-jatuh,” ujarku terbata-bata.  “Selalu  sang  pria  sejati.”  Ia tersenyum.  “Edward  putra baruku

yang pertama. Aku selalu menganggapnya begitu, meskipun dia lebih

tua dariku, setidaknya dalam satu cara.” Ia tersenyum hangat padaku. “Itu sebabnya aku senang dia menemukanmu, Sayang.” Ungkapan sayang itu terdengar sangat alami meluncur dari bibirnya. “Dia sudah

terlalu lama menjadi laki-laki aneh, aku sedih melihatnya sendirian.”

“Kalau begitu, Anda tidak keberatan?” aku bertanya, kembali ragu-ragu. “Bahwa aku... sangat tidak tepat untuknya?”

“Tidak.” Ia tampak bersimpati. “Kaulah yang diinginkannya. Entah bagaimana, pasti akan ada jalan keluarnya, katanya, meskipun dahinya berkerut waswas. Gelegar petir terdengar lagi.

Esme menghentikan langkah; rupanya kami telah sampai di ujung lapangan. Kelihatannya mereka telah membentuk tim. Edward berada jauh di sisi kiri lapangan, Carlisle berdiri diantara base pertama dan kedua, dan Alice memegang bola, berada di titik yang pasti merupakan posisi pitcher.

Emmett mengayunkan tongkat aluminium; suaranya berdesis nyaris tak terdengar di udara. Aku menunggunya menghampiri home base, tapi saat ia mengambil posisi, aku baru menyadari bahwa ia sudah disana—lebih jauh dari posisi pitcher yang kupikir mungkin. Jasper berdiri beberapa meter di belakangnya, sebagai anggota tim lawan. Tentu saja tak satupun dari mereka memakai sarung tangan. “Baik,” seru Esme lantang, dan aku tahu bahkan Edward pun

akan mendengarnya, sejauh apa pun posisinya. “Ke posisi

masing-masing.”

Alice berdiri tegak, seolah-olah tak bergerak. Gayanya tampak licik daripada mengancam. Ia memegang bola dengan kedua tangannya setinggi pinggang, dan kemudian, bagai serangan kobra, tangan kanannya mengayun dan bola menghantam tangan Jasper.

“Apakah itu strike?” Aku berbisik kepada Esme.

“Kalau mereka tidak memukulnya, baru disebut strike,” ia memberitahu.

Jasper melempar bolanya kembali pada Alice. Alice tersenyum sebentar. Kemudian tangannya mengayun lagi.

Kali ini entah bagaimana tongkat pemukulnya berhasil memukul bola yang tak tampak itu tepat pada waktunya. Bunyi pukulan itu menggetarkan, menggelegar; menggema hingga ke pegunungan—aku langsung mengerti mengapa mereka memerlukan badai petir.

Bola itu meluncur bagai meteor di atas lapangan, melayang menembus hutan yang mengelilingi.

“Home run,” aku bergumam.

“Tunggu,” Esme mengingatkan, mendengarkan dengan saksama, satu tangan terangkat. Emmett tampak seperti kelebatan dari satu base ke base berikut, Carlisle membayanginya. Aku tersadar Edward menghilang.

“Out!” Esme berteriak lantang. Aku menatap tak percaya ketika Edward melompat keluar dari tepi pepohonan, tangannya yang terangkat menggengam bola, senyumnya yang lebar nyata bahkan olehku.

“Emmett memukul paling keras,” jelas Esme, “tapi Edward berlari paling cepat.”

Inning berlanjut di depan mataku yang keheranan. Mustahil mengikuti kecepatan bola yang melayang dan kecepatan mereka mengelilingi lapangan.

Aku mempelajari alasan lain mengapa mereka menungggu badai petir untuk bermain ketika Jasper, berusaha menghindari tangkapan sempurna Edward, memukul bola mati ke arah Carlisle. Carlisle lari mengejar bola dan kemudian mengejar Jasper ke base pertama. Ketika mereka bertabrakan, suaranya bagai tabrakan dua batu besar. Aku melompat dengan waswas, tapi entah bagaimana mereka sama sekali tidak terluka.

“Safe,” seru Esme dengan suaranya yang tenang.

Tim Emmett memimpin dengan skor satu—Rosalie melayang mengelilingi base demi base setelah Emmett berhasil memukul bola jauh-jauh—ketika Edward menangkap bola ketika. Ia berlari cepat ke sisiku, wajahnya memancarkan rasa senang.

“Bagaimana menurutmu?” tanyanya.

“Yang jelas, aku takkan pernah bisa duduk sepanjang pertandingan Major League Baseball kuno yang membosankan lagi.”

“Dan kedengarannya kau sering melakukannya sebelumnya,” ia tertawa.

“Aku agak kecewa,” godaku. “Kenapa?” tanyanya, bingung.

“Well, akan menyenangkan kalau aku bisa menemukan satu saja

hal yang kaulakukan tak lebih baik daripada siapapun di planet ini.”

Ia menyunggingkan senyumnya yang istimewa, membuatku kehabisan napas.

“Giliranku,” katanya, menuju base.

Ia bermain pintar, menjaga bola tetap rendah, jauh dari jangkauan Rosalie yang tangannya selalu siap di pinggir lapangan, melampaui dua base bagai kilat sebelum Emmett berhasil mengembalikan bolanya dalam permainan. Carlisle membuat sebuah pukulan sangat jauh keluar lapangan—dengan suara dentuman yang menyakitkan telingaku—sehingga dia dan Edward berhasil menyelesaikan putaran. Alice ber-high five dengan mereka.

Skor terus berubah ketika pertandingan berlanjut, dan mereka saling menertawakan layaknya pemain baseball normal saat mereka bergantian memimpin. Kadang-kadang Esme menyuruh mereka tenang. Petir terus bergemuruh, tapi kami tetap kering seperti yang diperkirakan Alice.

Sekarang giliran Carlisle memukul dan Edward menangkap. Tiba-tiba Alice terkesiap. Mataku tertuju pada Edward, seperti biasa, dan aku melihat kepalanya tersentak untuk memandang Alice. Mata mereka bertemu dan dalam sekejap sesuatu terjadi diantara mereka. Edward sudah berada di sisiku sebelum yang lainnya dapat bertanya kepada Alice apa yang terjadi.

“Alice?” suara Esme tegang.

“Aku tidak melihat—aku tak bisa mengatakannya,” bisiknya. Semua sudah berkumpul.

“Ada apa, Alice?” Carlisle bertanya dengan suara tenang

berwibawa.

“Mereka melesat jauh lebih cepat daripada yang kukira. Bisa kulihat penglihatanku sebelumnya keliru,” gumamnya.

Jasper mendekati Alice, posturnya protektif. “Apa yang berubah?” tanyanya.

“Mereka mendengar kita bermain, dan itu membuat mereka berbelok,” katanya menyesal, seolah-olah ia bertanggung jawab atas apa pun yang membuatnya ketakutan.

Tujuh pasang mata yang gesit menandang wajahku, kemudian berpaling.

“Seberapa cepat?” Carlisle bertanya, bebalik menghadap Edward.

Ketegangan menyelimuti wajahnya.

“Kurang dari lima menit. Mereka berlari—mereka ingin bermain.” Wajah Edward geram. “Kau bisa melakukannya?” Carlisle bertanya padanya, matanya kembali berkilat-kilat memandangku.

“Tidak, tidak sambil menggendong—” Ia terdiam.  “Lagipula,  hal terakhir yang kita butuhkan adalah mereka mencium aromanya dan mulai berburu.”

“Berapa banyak?” tanya Emmett pada Alice.” “Tiga,” jawab Alice singkat.

“Tiga!” sahut Emmett meremehkan. “Biarkan mereka datang.” Otot lengannya yang kekar tampak tegang.

Selama sesaat yang tampaknya lebih lama daripada yang sesungguhnya, Carlisle berpikir. Hanya Emmett yang tampak tenang; yang lain menatap wajah Carlisle dengan tatapan gelisah.

“Mari kita lanjutkan saja permainan ini,” akhirnya Carlisle memutuskan. Suaranya tenang dan datar. “Alice bilang, mereka hanya penasaran.”

Semua ini diucapkan dalam curahan kata-kata yang hanya berlangsung beberapa detik. Aku mendengarkan dengan saksama dan menangkap sebagian besar maksudnya, meskipun aku tak bisa mendengar apa yang sekarang Esme tanyakan pada Edward dengan getaran bibirnya yang tak bersuara. Aku

hanya melihat Edward menggeleng samar dan wajah Esme tampak lega.

“Kau yang menangkap, Esme,” katanya. “Cukup untukku.” Dan dia pun berdiri di depanku.

Yang lain kembali ke lapangan, dengan waswas menyapu hutan yang gelap dengan mata mereka yang tajam. Alice dan Esme tampak memfokuskan pandangan ke sekitar tempatku berdiri.

“Uraikan rambutmu,” Edward berkata dengan nada suara rendah dan datar.

Aku mematuhinya, melepaskan ikat rambutku dan mengibaskan rambutku hingga tergerai. Aku mengatakan apa yang tampak di depan mataku. “Yang lain berdatangan sekarang.”

“Ya, kumohon diamlah, jangan bersuara, jangan bergerak dari sisiku.” Ia menyembunyikan dengan baik ketegangan dalam suaranya, tapi toh aku dapat menangkapnya. Ia menarik rambut panjangku ke depan, menutupi wajah.

“Itu takkan membantu,” kata Alice lembut. “Aku dapat  mencium baunya dari seberang lapangan.”

“Aku tahu.” Sekelumit perasaan putus asa mewarnai nada suaranya.

Carlisle berdiri di base, dan yang lain iktu bermain dengan setengah hati.

“Apa yang Esme tanyakan padamu?” bisikku.

Ia ragu-ragu sesaat sebelum menjawab. “apakah mereka haus,” gumamnya enggan.

Detik-demi detik berlalu; sekarang permainan berlanjut tanpa semangat. Tak seorang pun berani memukul lebih keras dari pukulan asal-asalan, dan Emmett, Rosalie, dan Jasper berdiri di tengah lapangan. Ketika sesekali terlepas dari ketakutan yang membuat buntu pikiranku, aku menyadari mata Rosalie tertuju padaku. Tatapannya tanpa ekspresi, tepi sesuatu dari bentuk mulutnya membuatku berpikit ia marah.

Edward sama sekali tidak memperhatikan permainan, mata dan pikirannya menerawang ke hutan.

“Maafkan aku, Bella,” gumamnya marah. “Sungguh bodoh dan tak bertanggung jawab telah mengeksposmu seperti ini. Aku sungguh menyesal.”

Aku mendengar napasnya berhenti, matanya menatap hampa sisi kanan lapangan. Ia setengah melangkah, memposisikan diri di antara aku dan apa yang bakal datang.

Carlisle, Emmett, dan yang lain berpaling ke arah yang sama, mendengarkan suara langkah yang kelewat samar bagi telingaku.

Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊