menu

Twilight Bab 11 Kesulitan

Mode Malam
Bab 11 Kesulitan

Semua memperhatikan ketika kami berjalan bersama-sama menuju meja lab. Aku sadar ia tak lagi duduk jauhjauh seperti biasa. Sebagai gantinya, ia duduk cukup dekat. Lengan kami nyaris bersentuhan.

Mr. Banner sudah masuk kelas—betapa perencanaan waktunya sangat tepat—sambil menarik kereta beroda dengan TV dan VCR yang kelihatannya berat dan ketinggalan jaman. Hari menonton film—suasana senang di kelas nyaris nyata.

Mr. Banner memasukkan tape ke VCR dan berjalan ke dinding untuk mematikan lampu.

Kemudian, ketika ruangan sudah gelap, sekonyong-konyong aku terkejut menyadari Edward duduk sangat dekat denganku. Aku terkesiap oleh aliran listrik yang melanda sekujur tubuhku, kagum karena kesadaranku akan keberadaannya melebihi yang sudah-sudah. Dorongan sinting untuk meraih dan menyentuhnya, membelai wajahnya yang sempurna, sekali saja dalam gelap, nyaris membuatku sinting. Aku menyilangkan lengan erat-erat di dada, jemariku mengepal. Aku kehilangan akal sehat.

Pembukaan film dimulai, cahayanya sekejap menyinari ruangan. Otomatis aku melirik ke arahnya. Aku tersenyum malu-malu menyadari postur tubuhnya sama seperti aku, tangannya mengepal di balik lengan, matanya melirikku juga. Aku langsung memalingkan wajah sebelum kehabisan napas. Benar-benar konyol kalau aku sampai pusing.

Jam pelajaran sepertinya sangat panjang. Aku tak bisa berkonsentrasi pada filmnya—aku bahkan tidak tahu filmnya tentang apa. Sia-sia aku berusaha tenang, aliran listrik yang sepertinya mengalir dari salah satu bagian tubuhnya tak pernah berkurang. Sesekali aku membiarkan diriku melirik ke arahnya, tapi kelihatannya ia juga tak pernah bisa tenang. Hasrat kuat untuk menyentuhnya pun sama sekali tak berkurang, dan kepalan tanganku semakin erat hingga jari-jariku sakit karenanya.

Aku mendesah lega ketika Mr. Banner menyalakan lampu kembali. Kurenggangkan dekapan lenganku, melemaskan jemariku yang kaku. Edward tertawa geli di sebelahku.

“Well, tadi itu menarik,” gumamnya. Suaranya misterius dan tatapannya hati-hati.

“Hmmm,” hanya itu yang bisa kukatakan. “Yuk?” ajaknya, sambil bangkit dengn lincah.

Aku nyaris mengerang. Waktunya kelas Olahraga. Aku berdiri hati-hati, khawatir keseimbanganku terpengaruh oleh hasrat baru yang muncul diantara kami.

Tanpa bicara ia mengantarku ke kelas berikut, lalu berhenti di ambang pintu. Aku berbalik untuk mengucapkan selamat tinggal. Wajahnya membuatku bingung—ekspresinya sedih, nyaris terluka, sekaligus begitu menawan hingga keinginan untuk menyentuhnya kembali menyala-nyala, sama kuatnya seperti sebelumnya. Aku tak sanggup bicara.

Ia mengulurkan tangan, ragu-ragu, matanya sarat pergumulan, dan dengan lembut ia membelai pipiku dengan ujung jemarinya. Kulitnya dingin seperti biasa, namun jejak yang ditinggalkan jari-jarinya terasa hangat di kulitku—seperti terbakar, tapi aku tidak merasa nyeri.

Ia berbalik tanpa kata-kata dan langsung meninggalkanku.

Aku berjalan memasuki gymnasium, nyaris melayang-layang dan sempoyongan. Aku menuju ruang ganti, mengganti pakaian dalam keadaan melamun, hanya samar-samar menyadari kehadiran orang-orang di sekitarku. Barulah ketika seseorang menyerahkan raket padaku, aku sepenuhnya sadar. Raket itu tidak berat, namun terasa tak mantap di tanganku. Kulihat beberapa anak mengamatiku diam-diam. Pelatih Clapp menyuruh kami berpasang-pasangan. Untung sia-sia kesopanan Mike masih ada; dan ia berdiri di sebelahku.

“Mau berpasangan denganku?”

“Terima kasih, Mike—kau tahu, kau tak perlu melakukannya,” aku meringis penuh penyesalan.

“Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggumu.” Ia tersenyum. Kadang-kadang rasanya mudah sekali untuk menyukai Mike.

Keadaan tidak berjalan lancar. Entah bagaimana aku memukul kepalaku sendiri dengan raket dan mengenai bahu Mike dengan ayunan yang sama. Aku menghabiskan sisa pelajaran menyendiri di pojok belakang lapangan, raketnya aman tersimpan. Meski aku telah mencederainya, Mike bermain cukup baik; ia memenangkan tiga dari empat babak seorang diri. Ia mengajakku ber-high five yang seharusnya tak perlu ketika pelatih akhirnya meniup peluit tanda kelas berakhir.

“Jadi,” katanya sambil meninggalkan lapangan. “Jadi apa?”

“Kau jalan dengan Cullen, heh?” tanyanya, nadanya menantang.

Perasaan suka yang tadi kurasakan padanya lenyap.

“Itu bukan urusanmu, Mike,” aku mengingatkannya, diam-diam mengutuk Jessica ke pusat neraka paling panas.

“Aku tidak suka,” ia tetap mengatakannya juga. “Memang tidak perlu,” sergahku marah.

“Caranya memandangmu... seolah ingin memakanmu,” ia meneruskan, mengabaikan keberatanku.

Kutahan emosiku yang sewaktu-waktu bisa meledak, tapi akhirnya aku toh tertawa kecil. Ia memandang marah padaku. Aku melambai dan langsung menuju ruang loker.

Aku berpakaian dengan cepat, sesuatu yang lebih hebat mangaduk-aduk perutku, pertengkaranku dengan Mike sudah jauh dari ingatanku. Aku bertanya-tanya apakah Edward menungguku, atau apakah seharusnya aku menemuinya di mobil. Bagaimana kalau saudara-saudaranya ada disana? Aku merasakan gelombang ketakutan yang mendalam. Tahukah mereka kalau aku tahu? Apakah seharusnya aku tahu mereka tahu bahwa aku tahu, atau tidak?

Ketika beranjak meninggalkan gymnasium, aku baru saja memutuskan akan langsung pulang tanpa melihat lapangan parkir. Tapi kekhawatiranku tidak perlu. Edward menantiku, bersandar santai di dinding gymnasium, wajahnya yang luar biasa tampan kini tampak tenang. Ketika aku berjalan ke sisisnya, aku merasa sensasi lega yang aneh.

“Hai, desahku, tersenyum lebar.

“Halo.” Senyumnya mempesona. “Bagaimana kelas Olahragamu?”

Wajahku berubah agak kecewa. “Baik-baik saja.” Aku berbohong.

“Benarkah?” tanyanya tidak percaya. Pandangannya bergeser sedikit, melirik ke belakangku, matanya menyipit. Aku menoleh dan melihat Mike berjalan memunggungi kami.

“Apa?” desakku.

Ia kembali menatapku, masih tegang. “Newton membuatku kesal.”

“Kau tidak sedang mendengarkan lagi, kan?” aku terperanjat.

Tiba-tiba selera humorku lenyap.

“Bagaimana kepalamu?” tanyanya polos.

“Kau ini bukan main!” Aku berbalik, berjalan cepat ke lapangan parkir, meskipun tidak bermaksud begitu.

Dengan mudah Edward menyusul.

“Kau sendiri yang bilang, aku tak pernah melihatmu di kelas Olahraga—aku jadi penasaran.” Ia tidak terdengar menyesal, jadi aku mengabaikannya. Kami berjalan tanpa bicara—aku diam karena malu dan geram—menuju mobilnya. Tapi belum sampai di tempat Edward memarkir Volvo-nya, langkahku terhenti—kerumunan orang, semua cowok, tampak mengerumuninya. Lalu aku sadar mereka tidak sedang mengerumuni Volvo, melainkan mobil convertible merah Rosalie, mereka tampak sangat tertarik. Tak satu pun dari mereka bahkan mendongak ketika Edward menyelinap diantara mereka dan membuka pintu mobilnya. Aku langsung masuk ke jok penumpang, juga luput dari perhatian.

“Kelewat mencolok,” gumamnya. “Mobil apa itu?” tanyaku.

“M3.”

“Aku tidak paham jenis-jenis mobil.”

“Itu keluaran BMW.” Ia memutar bola matanya, tanpa memandangku, mencoba memundurkan mobil tanpa menabrak para penggila mobil yang sedang berkerumun itu.

Aku mengangguk—aku pernah mendengarnya.

“Kau masih marah?” tanyanya sambil berhati-hati mengemudikan mobilnya meninggalkan sekolah.

“Jelas.”

Ia menghela napas. “Maukah kau memaafkanku kalau aku meminta maaf?”

“Mungkin... kalau kau bersungguh-sungguh. Dan kalau kau berjanji takkan mengulanginya lagi,” aku bersikeras.

Sorot matanya sekonyong-konyong berubah tajam. “Bagaimana kalau aku bersungguh-sungguh, dan aku setuju membiarkanmu mengemudi Sabtu nanti?” ujarnya.

Aku mempertimbangkannya, dan memutuskan itu tawaran terbaik yang bisa kudapat. “Setuju.”

“Kalau begitu aku sangat menyesal telah membuatmu marah.” Ketulusan membara di matanya untuk waktu lama—membuat irama jantungku berantakan—kemudian berubah jadi santai. “Dan aku akan tiba di depan rumahmu pagi-pagi sekali Sabtu nanti.”

“Mmm, rasanya tidak akan terlalu membantu bila Charlie melihat Volvo asing di halaman rumahnya.”

Senyumnya kini rendah hati. “Aku tidak berencana membawa mobil.”

“Bagaimana—“

Ia menyelaku. “Jangan khawatir soal itu. Aku akan datang, tanpa mobil.”

Aku tidak mendesaknya lagi. Aku punya pertanyaan yang lebih penting.

“Apakah sudah tiba saatnya?” tanyaku. Dahinya berkerut. “Kurasa sudah.”

Aku tetap menjaga kesopananku sambil menunggu.

Ia menghentikan mobilnya. Aku mendongak, terkejut—tentu saja kami sudah sampai di rumah Charlie. Edward memarkir mobilnya di belakang trukku. Bermobil dengannya akan lebih mudah bila aku hanya membuka mata ketika kami sudah sampai. Ketika menatapnya lagi, ia sedang menatapku, mengamatiku.

“Dan kau masih ingin tahu kenapa kau tak bisa melihatku berburu?” Ia tampak serius, tapi rasanya aku melihat kejailan di matanya.

“Well,” ujarku, “aku terutama ingin tahu bagaimana reaksimu.” “Apa aku membuatmu takut?” Ya, sudah jelas ia sedang melucu. “Tidak,” aku berbohong. Ia tidak percaya.

“Aku minta maaf telah membuatmu takut,” ia tetap bersikeras sambil tersenyum simpul, tapi kemudian semua gurauan itu lenyap. “Hanya saja membayangkan kau ada di sana... sementara kami berburu.” Rahangnya mengeras.

“Pasti buruk?”

Ia berkata dengan rahang rapat. “Sangat.” “Karena...”

Ia menarik napas dalam-dalam dan memandang melewati kaca depan, ke awan-awan yang menggayut tebal, yang seolah dapat diraih.

“Ketika kami berburu,” katanya pelas, dengan enggan, “kami membiarkan indra mengendalikan diri kami... tanpa banyak menggunakan pikiran. Terutama indra penciuman kami. Kalau kau berada di dekatku ketika aku kehilangan kendali seperti itu..” Ia menggeleng, masih menatap awan tebal itu dengan murung,

Aku tetap menjaga ekspresiku, menantikan kelebatan matanya yang beberapa saat kemudian mengamatik reaksiku atas ucapannya. Wajahku tidak menunjukkan apa-apa.

Namun pandangan kami bertemu, dan  keheningan  itu semakin kental—dan berubah. Getaran yang kurasakan siang tadi memenuhi atmosfer saat ia menatap mataku tanpa berkedip. Ketika kepalaku mulai berputar, aku sadar aku tak bernapas. Ketika akhirnya aku menghela napas gemetar, memecah kekakuan dia antara kami, ia memejamkan mata.

“Bella, kurasa kau harus masuk sekarang.” Suaranya rendah dan serak, matanya kembali menatap awan.

Kubuka pintunya, den embusan angin sangat dingin yang menyerbu ke dalam mobil menjernihkan pikiranku. Khawatir kehilangan keseimbangan, dengan hati-hati aku keluar dari mobil dan menutupnya tanpa menoleh. Suara jendela diturunkan membuatku berbalik.

“Oh, Bella?” ia memanggilku, suaranya lebih tenang. Ia menjulurkan tubuhnya di jendela yang terbuka, tersenyum tipis.

“Ya?”

“Besok giliranku.” “Giliran apa?”

Senyumnya melebar, memamerkan kilauan deretan giginya.

“Bertanya padamu.” Lalu ia menghilang, mobilnya melaju cepat sepanjang jalan dan lenyap di belokan bahkan sebelum aku mengumpulkan kesadaranku. Aku berjalan menuju rumah sambil tersenyum. Jelas ia berencana menemuiku berok, kalau tak ada halangan.

Malam itu Edward muncul dalam mimpiku, seperti biasa. Bagaimanapun tidurku berubah, mimpi itu menimbulkan getaran yang sama seperti yang muncul siangnya, dan aku berguling kian kemari, gelisah, hingga sering kali terbangun. Menjelang subuh akhirnya aku jatuh ke dalam tidur yang melelahkan dan tanpa mimpi.

Ketika terbangun aku masih merasa lelah, tapi juga tegang. Aku mengenakan kaus turtleneck cokelat dan celana pendek. Makan pagi berlangsung biasa, tenang seperti yang kuharapkan. Charlie menggoreng telur untuknya sendiri; aku makan semangkuk sereal. Aku bertanya-tanya apakah ia lupa mengenai rencanaku Sabtu ini. Ia menjawab pertanyaanku yang tak sempat terlontar ini ketika beranjak membawa piringnya ke tempat cuci piring.

“Mengenai Sabtu ini...” katanya, berjalan menyeberangi dapur, dan menyalakan keran.

Aku berkata takut-takut. “Ya, Dad?”

“Kau masih kepingin ke Seattle?” tanyanya.

“Begitulah rencanaku.” Aku nyengir, berharap ia tidak menyinggungnya sehingga aku tak perlu berbohong.

Ia menuang sabun cuci piring ke piringnya dan menggosok-gosoknya dengan sikat. “Dan kau yakin takkan sempat ke pesta dansa?”

“Aku tidak akan ke pesta dansa, Dad.” Aku menatapnya jengkel.

“Tak adakah yang mengajakmu?” tanyanya, berusaha menyembunyikan kepeduliannya dengan berkonsentrasi membilas piring.

Aku berkelit. “Kali ini anak ceweklah yang mengajak.” “Oh.” Ia mengeringkan piring dengan wajah cemberut.”

Aku merasa kasihan padanya. Pasti sulit menjadi ayah; hidup dalam kekhawatiran bahwa anak gadisnya akan bertemu cowok yang disukainya, tapi juga mengkhawatirkan sebaliknya. Betapa ngeri, pikirku bergidik seandainya Charlie bahkan sedikit saja mencurigai siapa yang sebenarnya yang kusukai.

Kemudian Charlie pergi sambil melambai, dan aku naik, menyikat gigi, dan mengumpulakn bukubukuku. Ketika mendengar mobil patroli Charlie menjauh, aku hanya bisa bertahan sebentar sekali sebelum mengintip ke luar jendela. Mobil silver itu sudah ada disana, menunggu di tempat Charlie biasa parkir. Aku setengah berlari menuruni tangga, keluar rumah, membayangkan berapa lama rutinitas aneh ini akan berlanjut. Aku tak pernah menginginkannya berakhir.

Ia menunggu di mobil, sepertinya tidak memperhatikan waktu aku menutup pintu tanpa perlu repotrepot mengunci. Aku berjalan menuju mobil, berhenti malu-malu sebelum membuka pintu dan masuk ke dalam. Ia tersenyum, tenang—dan seperti biasa, begitu sempurna dan tampan hingga membuatku tersiksa.

“Selamat pagi.” Suaranya lembut. “Bagaimana kabarmu hari ini?” matanya menjelajahi wajahku, seolah pertanyaannya lebih dari sekedar basa-basi.

“Baik, terima kasih.” Aku selalu baik—lebih dari baik—setiap kali berada di dekatnya.

Pandangannya melekat pada lingkaran di bawah mataku. “Kau tampak lelah.”

“Aku tak bisa tidur,” aku mengaku, tanpa sadar menggerai rambutku agar sedikit menutupi wajah.

“Aku juga,” godanya sambil menyalakan mesin mobil. Aku  mulai terbiasa dengan suara deruman halus itu. Aku yakin deruman trukku akan membuatku kaget, kalau aku sempat mengendarainya lagi.

Aku tertawa. “Kurasa itu benar. Kurasa aku tidur agak lebih banyak darimu.” “Aku berani bertaruh untuk itu.”

“Jadi, apa yang kaulakukan semalam?” tanyaku.

Ia tergelak. “Tidak bisa. Hari ini giliranku bertanya.”

“Oh, kau benar. Apa yang ingin kau ketahui?”  Dahiku  mengerut. Aku tidak bisa membayangkan apa pun tentangku yang bisa membuatnya tertarik.

“Apa warna kesukaanmu?” tanyanya, raut wajahnya serius. Aku menggerak-gerakkan mataku. “Setiap hari berubah-ubah.” “Kalau hari ini?” Ia masih tenang.

“Barangkali cokelat.” Aku biasa berpakaian sesuai dengan suasana hatiku.

Ia mendengus, ekspresi seriusnya berubah. “Cokelat?” tanyanya ragu-ragu.

“Tentu. Warna cokelat itu hangat. Aku rindu cokelat. Semua yang seharusnya berwarna cokelat— batang pohon, bebatuan, debu—disini semua itu dilapisi warna hijau,” keluhku.

Ia sepertinya terkesima mendengar celotehanku. Sesaat ia berpikir, menatap mataku.

“Kau benar,” katanya serius. “Warna cokelat itu hangat.” Tangannya menyentuh lembut, tapi masih sedikit ragu-ragu, merapikan rambutku ke balik bahu.

Kami sudah tiba di sekolah. Ia berbalik menghadapku sambil memarkir mobil.

“Musik apa yang kaumainkan di CD palyer-mu saat ini?” tanyanya, wajahnya muram, seolah sedang menginterogasi pembunuh.

Aku jadi sadar tak pernah memindahkan CD yang diberikan Phil. Ketika kusebut nama bandnya, ia tersenyum mengejek, tatapan aneh terpancar di matanya. Ia membuka laci di bawah CD player mobilnya, mengeluarkan satu dari tiga puluh atau lebih CD yang diselipkan dalam satu wadah sempit dan menyerahkannya padaku. “Debussy, lalu ini?” Satu alisnya terangkat.

Itu CD yang sama. Aku mengamati sampulnya yang tak asing lagi, sambil terus menunduk.

Sepanjang hari itu terus berlanjut seperti itu. Sambil mengantarku ke kelas Bahasa Inggris, ketika menemuiku seusai kelas Bahasa Spanyol, sewaktu makan siang, ia terus-menerus menanyakan detail-detail remeh dalam hidupku. Film yang kusuka dan tidak kusuka, beberapa tempat yang pernah kukunjungi, dan mengenai buku-buku—untuk yang satu ini tak ada habisnya.

Aku tidak bisa mengingat terakhir kali aku bicara sebanyak itu. Sering kali aku tersadar, pasti aku telah membuatnya bosan. Tapi ia kelihatannya menyerap semua informasi yang kusampaikan, dan rentetan pertanyaannya yang bertubi-tubi memaksaku meneruskannya. Kebanyakan pertanyaannya mudah, hanya sedikit sekali yang membuat wajahku merona merah. Tapi ketika wajahku akhirnya toh merah padam, ia malah mulai melontarkan rentetan pertanyaan baru lagi.

Seperti ketika ia menanyakan batu kesukaanku, dan aku langsung menjawab topaz tanpa berpikir. Ia menderaku dengan pertanyaan-pertanyaan itu begitu cepat sehingga aku merasa sedang menjalani psikotes saat kau langsung menyebutkan kata pertama yang terlintas dalam benakmu. Aku yakin ia pasti akan melanjutkan daftar pertanyaan dalam benaknya, kalau saja wajahku tidak merah padam. Wajahku memerah karena, selama ini batu kesukaanku adalah garnet. Ketika memandang matanya yang bertanya matanya yang berwarna topaz, mustahil aku tidak ingat alasannya mengapa aku kini menyukai topaz. Dan, tentu saja, ia takkan menyerah hingga aku mengakui mengapa aku jadi malu.

“Katakan,” akhirnya ia memerintahkan setelah bujukkannya tidak berhasil—dadal hanya karena aku berhasil mengelak menatap wajahnya.

“Itu warna matamu hari ini,” desahku, pasrah, memandangi tanganku yang bermain-main dengan rambutku. “Kurasa kalau kau menanyakannya dua mingu lalu, aku akan bilang onyx.” Aku mengatakan terlalu banyak dari seharusnya, dan aku khawatir ini akan menimbulkan kemarahan aneh yang muncul setiap kali aku

salah bicara dan mengungkapkan obsesiku terlalu jelas. Tpai ia terdiam hanya sedetik.

“Kau suka bunga apa?” desaknya lagi.

Aku menghela napas lega, dan terus menjawab pertanyaannya.

Kelas Biologi menjadi masalah lagi. Edward terus melontarkan pertanyaan sampai Mr. Banner memasuki kelas, sambil menarik kereta audiovisual lagi. Ketika guru itu mendekati panel lampu, aku melihat Edward menggeser kursinya agak sedikit jauh. Tapi itu tidak membantu. Begitu ruangan gelap, percikan listrik itu muncul lagi, hasrat yang sama untuk mengulurkan tangan dan menyentuh kulitnya yang dingin seperti kemarin telah kembali.

Aku mencondongkan tubuh ke meja, meletakkan dagu di atas lengan yang kulipat, jemariku yang tersembunyi meremas ujung meja saat aku berusaha mengabaikan hasrat konyol yang membuaku resah. Aku tak melihat ke arahnya, khawatir ia juga sedang memandangku, dan itu hanya membuatku sulit mengendalikan diri. Aku mencoba menonton dengan sungguh-sungguh, namun pada akhir pelajaran aku tak tahu apa yang baru saja kusaksikan. Aku menghela napas lega ketika Mr. Banner menyalakan lampu kembali, akhirnya memandang Edward; ia sedang menatapku, sorot matanya bingung.

Tanpa berkata-kata ia bangkit dan diam tak bergerak, menungguku. Kami berjalan ke gymnasium tanpa bicara, seperti kemarin. Dan seperti kemarin juga ia menyentuh wajahku tanpa berkata-kata—kali ini dengan punggung tangannya yang dingin, membelai kening hingga rahangku—sebelum akhirnya berbalik dan pergi.

Pelajaran Olahraga berlalu cepat ketika aku menyaksikan Mike berlaga dalam nomor tunggal bulu tangkis. Ia tidak berbicara padaku hari ini, entah karena ekspresiku yang hampa atau karena ia masih marah karena pertengkaran kami kemarin. Di suatu tempat, di sudut benakku, aku merasa bersalah. Tapi aku tak bisa berkonsentrasi padanya.

Setelah itu aku langsung mengganti pakaian, gelisah, tahu semakin cepat aku bergerak, semakin cepat pula aku akan menemui Edward. Tekanan itu membuatku lebih tegang daripada biasanya, tapi akhirnya aku melangkah keluar, merasakan kelegaan yang sama ketika melihatnya berdiri disana. Senyum lebar mengembang di wajahku. Ia balas tersenyum sebelum mengamatiku lebih dalam.

Pertanyaan-pertanyaannya berbeda sekarang, tak mudah untuk dijawab. Ia ingin tahu apa yang kurindukan dari rumahku, ia memaksaku menggambarkan apa saja yang tidak biasa baginya. Berjam-jam kami duduk di depan rumah Charlie, langit mulai gelap dan hujan sekonyong-konyong turun membasahi sekeliling kami.

Aku berusaha menggambarkan hal-hal abstrak seperti aroma antiseptik—pahit, agak lengket, tapi masih menyenangkan—bunyi cicada yang melingking dan agak lantang, pepohonan kering yang rapuh, luasnya langit, warna biru dan putih yang membentang sepanjang kaki langit, nyaris tak terselingi pegununganpegunungan rendah dengan bebatuan vulkanik ungu. Hal tersulit yang harus kujelaskan adalah mengapa itu semua begitu indah bagiku—untuk menjelaskan keindahan yang tidak ada hubungannya dengan tumbuhtumbuhan berduri yang sering tampak sekarat, keindahan yang lebih berkaitan dengan lekuk tanah yang menonjol, dengan lembah-lembah yang menekuk dangkal di antara bukit-bukit berbatu, dan cara menggapai matahari. Aku sadar menggunakan kedua tanganku ketika menggambarkan semua itu padanya.

Pertanyaannya yang sederhana namun menyelidik membuatku terus berbicara dengan bebasnya. Dalam cahaya temaram badai, aku dibuatnya lupa untuk merasa malu karena telah memonopoli pembicaraan. Akhirnya, ketika aku selesai mendeskripsikan kamarku yang berantakan di rumah, bukannya melontarkan pertanyaan lain, ia malah terdiam. “Kau sudah selesai?” tanyaku lega.

“Hampir selesai pun tidak—tapi ayahmu sebentar lagi pulang.”

“Charlie!” Aku tiba-tiba menyadari keberadaannya, dan mendesah. Aku menerawang ke langit yang gelap karena derasnya hujan, tapi aku tak tahu jam berapa sekarang. “Jam berapa sekarang?” tanyaku sambil melihat jam. Aku kaget melihat waktu—Charlie sedang dalam perjalanan pulang sekarang.

“Sudah twilight—rembang petang,” gumam Edward, memandang langit barat yang gelap tertutup awan. Nada suaranya melamun, seolah pikirannya jauh entah dimana. Aku menatapnya ketika ia memandang ke luar kaca depan mobil.

“Ini saat paling aman bagi kami,” katanya, menjawab tatapanku yang bertanya-tanya. “Saat termudah, tapi juga yang paling sedih, mengingat... ini adalah akhir satu hari lain, kembalinya sang malam. Kegelapan begitu mudah ditebak, bukankah begitu?” Ia tersenyum muram.

“Aku suka malam. Tanpa kegelapan kita takkan pernah melihat bintang.” Aku mengerutkan kening. “Meski disini tak banyak yang bisa dilihat.”

Ia tertawa, dan suasana di tengah-tengah kami tiba-tiba ceria

lagi.

“Charlie akan sampai sebentar lagi. Jadi, kecuali kau mau

memberitahunya kau akan memberitahunya kau akan bersamaku Sabtu nanti...” Alisnya naik sebelah.

“Terima kasih, tapi tidak!” Kukumpulkan buku-bukuku, tubuhku kaku karena terlalu lama duduk. “Jadi, kalau begitu besok giliranku?”

“Tentu saja tidak!” Wajah marahnya menggodaku. “Aku sudah bilang belum selesai, kan?”

“Ada apa lagi sih?”

“Kau akan tahu besok.” Ia mencondongkan tubuh meraih pegangan pintuku dan membukakannya. Kedekatannya yang tiba-tiba membuat jantungku berdetak liar.

Tapi tangannya membeku di pegangan pintu. “Kacau,” gumamnya.

“Apa?” aku terkejut melihat rahangnya terkunci erat, tatapannya gelisah.

Ia melirikku sebentar. “Masalah lagi,” katanya muram.

Ia membuka pintu itu dalam gerakan luwes, lalu bergerak, nyaris menarik dirinya menjauh dariku.

Lampu sorot yang menembus hujan menarik perhatianku. Sebuah mobil menepi dan berhenti hanya beberapa meter di depan kami.

“Charlie sudah dekat,” ia mengingatkanku, memandang menembus hujan lebat yang mengguyur mobil tadi.

Meski bingung dan penasaran, aku langsung melompat keluar.

Hujan terdengar lebih keras ketika membasahi jaketku.

Aku mencoba mengenali sosok yang duduk di jok depan mobil tadi, tapi terlalu gelap. Aku bisa melihat sosok Edward dalam sorotan lampu mobil yang baru saja datang tadi; ia masih menatap ke depan, tatapannya terpaku pada sesuatu atau seseorang yang tak bisa kulihat. Ekspresinya aneh, antara putus asa dan menantang.

Kemudian ia menyalakan mesin mobilnya, bannya berdecit di pelataran yang basah. Dalam sekejap Volvo itu menghilang dari pandangan.

“Hei, Bella,” suara serak yang tak asing lagi memanggilku dari jok pengemudi mobil hitam kecil itu.

“Jacob?” tanyaku, menyipitkan mata menembus hujan. Mobil patroli Charlie muncul dari belokan jalan, lampunya menyinari mobil di depanku.

Jacob sudah keluar dari mobil, senyumnya yang lebar tampak nyata meski saat itu gelap. Di jok penumpang duduk seseorang yang lebih tua, pria bertubuh kekar dengan wajah yang kuingat—wajah yang berkeriput, pipi yang kendur, dengan kulit keriput bagai jaket kulit tua. Dan sepasang mata yang tak disangkasangka sangat familier, mata hitam yang tampak terlalu muda dan sekaligus kuno untuk sebuah wajahnya yang lebar. Itu ayah Jacob, Billy Black. Aku langsung mengenalinya, meski sudah lebih dari lima tahun sejak terakhir kali aku melihatnya. Aku nyaris lupa namanya jika Charlie tidak menyebutnya pada hari pertama kedatanganku disini. Ia memandangku, mengamati wajahku, jadi aku tersenyum malu-malu padanya. Matanya lebar, seolaholah ngeri, hidungnya kembang-kempis. Senyumku memudar.

Masalah lagi, seperti kata Edward.

Billy masih menatapku lekat-lekat, waswas. Diam-diam aku mengerang. Apakah Billy mengenali Edward semudah itu? Mungkinkah ia benar-benar mempercayai legenda mustahil yang diceritakan anaknya?

Jawabannya tampak jelas di mata Billy. Ya. Ya, ia percaya.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊