menu

New Moon Bab 23 Kebenaran

Mode Malam
Bab 23 Kebenaran

RASANYA aku tidur lama sekali—sekujur tubuhku kaku, seolah-olah aku tidak bergerak sama sekali selama itu. Pikiranku linglung dan lamban; berbagai mimpi aneh—mimpi dan mimpi buruk—berpusar-pusar dalam benakku. Semua tampak sangat jelas. Kengerian dan kebahagiaan, semua berbaur jadi kebingungan yang aneh. Ada perasaan tak sabar bercampur ketakutan, keduanya bagian dari mimpi penuh frustrasi saat kakiku tak bisa berlari cepat... Dan di mana-mana ada monster, musuh-musuh bermata merah yang lebih menyeramkan daripada sesama mereka yang lebih beradab. Mimpi itu masih terpatri kuat – aku bahkan masih ingat nama-namanya. Tapi bagian yang paling kuat dan paling jelas dari mimpi itu bukanlah kengeriannya. Melainkan kehadiran malaikat itulah yang paling jelas kuingat.

Sulit rasanya membiarkan malaikat itu pergi dan bangun. Mimpi ini tak mau disingkirkan begitu saja ke gudang mimpi yang tak ingin kudatangi lagi. Aku melawannya dengan susah payah saat pikiranku mulai lebih awas, terfokus pada kenyataan. Aku tak ingat hari apa ini, tapi aku yakin ada yang menungguku, entah ku Jacob, sekolah, pekerjaan, atau hal lain. Aku menarik napas dalam-dalam, bertanya-tanya dalam hati bagaimana aku sanggup menjalani satu hari lagi.

Sesuatu yang dingin menyentuh dahiku lembut sekali

Kupejamkan mataku lebih rapat. Rupanya aku masih bermimpi, tapi anehnya, rasanya sungguh sangat nyata. Aku sudah hampir terbangun... beberapa detik lagi, dan mimpi akan lenyap.

Tapi aku sadar mimpi itu terasa kelewat nyata, kelewat nyata sehingga tak mungkin terjadi. Lengan sekeras batu yang kubayangkan memeluk tubuhku amat terlalu kokoh. Kalau kubiarkan lebih lama lagi, aku akan menyesal nanti. Dengan keluhan menyerah, kubuka paksa kelopak mataku untuk menghalau ilusi itu.

"Oh!" aku terkesiap kaget, dan melemparkan tinjuku ke muka.

Well jelas, aku sudah kelewatan; salah besar membiarkan imajinasiku jadi tak terkendali. Oke, mungkin "membiarkan" bukan istilah yang tepat. Aku memaksanya menjadi tak terkendali—bisa dibilang aku dikuntit halusinasiku sendiri—dan sekarang pikiranku meledak.

Dibutuhkan kurang dari setengah detik untuk menyadari bahwa, kepalang basah sudah telanjur sinting, ada baiknya kunikmati saja delusiku, mumpung delusinya menyenangkan.

Aku membuka lagi mataku – dan Edward masih di sana, wajahnya yang sempurna hanya beberapa sentimeter dari wajahku.

“Aku membuatmu takut, ya?” suaranya yang rendah bernada cemas.

Ini bagus sekali, sebagai delusi. Wajahnya, suaranya, aroma tubuhnya, segalanya – semua jauh lebih baik daripada tenggelam. Kilasan khayalanku yang rupawan itu mengawasi perubahan ekspresiku dengan waswas. Matanya hitam pekat, dengan bayangan menyerupai memar di bawahnya. Itu membuatku terkejut; Edward halusinasiku biasanya muncul dalam keadaan kenyang.

Aku mengerjap dua kali, susah payah berusaha mengingat hal terakhir yang aku yakin nyata. Alice juga ada dalam mimpiku, dan bertanya-tanya apakah ia benar-benar kembali, atau itu hanya khayalan. Kalau tidak salah, ia kembali pada hari aku nyaris tenggelam waktu itu...

"Oh. brengsek" makiku parau. Tenggorokanku seperti tersumbat.

"Ada apa, Bella?”

Aku mengerutkan kening pada Edward, tidak bahagia. Wajahnya bahkan jauh lebih cemas daripada sebelumnya.

“Aku sudah mati, kan?" erangku. "Aku benarbenar tenggelam. Brengsek, brengsek, brengsek! Charlie pasti sedih sekali."

Kening Edward berkerut. "Kau belum mati"

"Kalau begitu, mengapa aku tidak bangunbangun juga?" tantangku, mengangkat alis.

"Kau sudah bangun, Bella."

Aku menggeleng. "Tentu, tentu. Kau memang ingin aku mengira begitu. Kemudian keadaan akan lebih parah waktu aku terbangun nanti. Kalau aku masih bisa bangun, dan itu tidak akan terjadi, karena aku sudah mati. Cawat. Kasihan Charlie. Juga Renee dan Jake..." Suaraku menghilang, ngeri membayangkan apa yang telah kulakukan.

“Aku bisa mengerti kau salah mengartikan aku dengan mimpi buruk." Senyum Edward yang berumur singkat terlihat muram. "Tapi aku tidak bisa membayangkan apa yang telah kaulakukan sehingga kau masuk neraka. Memangnya kau banyak membunuh orang selagi aku tidak ada?"

Aku meringis. "Jelas tidak. Kalau saat ini aku berada di neraka, kau tidak akan ada di sini bersamaku."
Edward mendesah.

Pikiranku semakin jernih. Mataku berkelebat sebentar dari wajahnya—meski sebenarnya enggan-—ke jendela yang gelap dan terbuka, lalu kembali padanya. Kupandangi dia sambil mengingat-ingat... dan aku merasakan rona merah yang tidak familier menjalari pipiku dengan hangat saat lambat laun aku menyadari bahwa Edward sungguh-sungguh, benar-benar ada di sini bersamaku, tapi aku malah membuang-buang waktu dengan menjadi idiot. "Kalau begitu, semua itu benar-benar terjadi?" Nyaris sulit mengubah mimpiku menjadi kenyataan. Rasanya aku belum bisa menerima konsep itu.

"Tergantung." Senyum Edward masih kaku. "Kalau yang kaumaksud adalah kita hampir dibantai di Italia,ya, itu benar.”

"Aneh sekali," renungku. "Aku benar-benar pergi ke Italia. Tahukah kau, aku bahkan tak pernah pergi lebih jauh dari Alburquerque?”

Edward memutar bola matanya. "Mungkin sebaiknya kau tidur lagi. Kau masih linglung."

"Aku sudah tidak capek lagi.” Pikiranku kembali jelas sekarang. "Jam berapa sekarang? Sudah berapa lama aku tertidur?”

"Sekarang baru jam satu pagi lewat sedikit. Jadi, kira-kira empat belas jam."

Aku menggeliat saat Edward bicara. Tubuhku kaku sekali.

"Charlie?" tanyaku

Edward mengerutkan kening. “Tidur. Mungkin kau tahu saat ini aku melanggar aturan. Well, teknisnya sih tidak, karena kata Charlie aku tidak boleh menjejakkan kaki lagi melewati pintu, sementara aku masuk lewat jendela... Tapi meski begitu, maksudnya sudah jelas.”

"Charlie melarangmu datang ke sini?" tanyaku, perasaan tak percaya dengan cepat melebur menjadi amarah.

Sorot mara Edward sedih. "Memangnya apa yang kauharapkan?"

Sorot mataku marah. Aku harus bicara dengan ayahku—mungkin sekarang saat yang tepat untuk mengingatkan ayahku bahwa secara hukum aku sudah dianggap dewasa. Itu tidak berarti banyak tentu saja, kecuali dalam hal prinsip. Sebentar lagi tidak ada lagi alasan untuk melarangku. Aku mengalihkan pikiran ke hal-hal lain yang tidak terlalu menyakitkan.

"Ceritanya bagaimana?" tanyaku, benar-benar ingin tahu, sekaligus berusaha keras menjaga agar obrolan terus berlangsung juga untuk menenangkan diriku sendiri, supaya aku tidak membuat Edward kabur ketakutan oleh kerinduan menggebu-gebu yang bergejolak dalam diriku.

"Apa maksudmu?"

“Aku harus menceritakan apa pada Charlie? Apa alasanku menghilang selama... omong-omong berapa hari aku pergi?" Aku berusaha menghitunghitung.

“Hanya tiga hari.” Tatapan Edward mengeras, tapi kali ini senyumnya lebih alami. “Sebenarnya, aku berharap kau punya penjelasan bagus. Soalnya aku tidak tahu harus memberi alasan apa.”

Aku mengerang. "Hebat."

"Well mungkin Alice bisa memberi alasan yang tepat," kata Edward, berusaha menghibur hatiku.

Dan aku merasa terhibur. Siapa yang peduli apa yang harus kuhadapi nanti? Setiap detik ia di sini – begitu dekat, wajahnya yang sempurna berkilau dalam keremangan cahaya yang dipantulkan angka-angka jam alarmku – sangatlah berharga dan tidak patut disia-siakan.

"Jadi," aku memulai, memilih pertanyaan yang paling tidak penting—walaupun tetap sangat menarik—sebagai permulaan. Aku sudah diantarkan dengan selamat sampai ke rumah, jadi sebentar lagi Edward mungkin akan memutuskan untuk pergi, kapan saja. Aku harus membuatnya terus bicara. Lagi pula, surga sementara ini tidak sepenuhnya komplet tanpa suaranya. "Apa yang kaulakukan selama ini sampai tiga hari yang lalu?"

Wajah Edward langsung kecut. "Tidak ada yang menarik."

"Tentu saja tidak," gumamku. "Mengapa kau mengernyitkan muka seperti itu?"

"Well.." aku mengerucutkan bibir, menimbangnimbang. "Seandainya kau, misalnya, hanya mimpi, jawaban seperti itulah yang pasti akan kauucapkan. Imajinasiku pasti sudah mentok."

Edward mendesah. "Kalau aku menceritakannya padamu, apakah akhirnya kau akan percaya bahwa kau tidak sedang bermimpi buruk?" ,

"Mimpi buruk!" ulangku sinis. Edward menunggu jawabanku. "Mungkin," jawabku secelah berpikir sejenak. “Kalau menceritakannya padaku."

"Selama ini aku... berburu."

"Masa hanya itu yang kaulakukan?” kritikku. “Itu jelas tidak membuktikan aku sudah terbangun.”

Edward ragu-ragu, kemudian berbicara lambatlambat, memilih kata-kata dengan saksama. "Aku bukan berburu makanan... sebenarnya aku mencoba belajar... mencari jejak. Aku kurang bagus dalam hal itu.”

“Apa yang kaulacak?" tanyaku, tertarik.

"Bukan sesuatu yang penting." Kata-kata Edward tidak sejalan dengan ekspresinya; ia tampak gelisah, tidak nyaman.

"Aku tidak mengerti."

Edward ragu-ragu; wajahnya, mengilat oleh bias hijau aneh lampu jam, tampak terkoyak.

"Aku—" Edward menarik napas dalam-dalam. "Aku berutang maaf padamu. Tidak, tentu saja aku berutang banyak padamu, jauh lebih banyak daripada itu. Tapi kau harus tahu—" kata-kata mulai mengalir sangat cepat. Seingatku, beginilah cara Edward bicara bila sedang gelisah, sehingga aku harus berkonsentrasi penuh untuk menangkap semuanya— "bahwa aku sama sekali tidak tahu. Aku tidak menyadari kekacauan yang kutinggalkan. Kusangka kau aman di sini. Sangat aman. Aku tidak mengira Victoria—" bibir Edward melengkung ke belakang saat mengucapkan nama itu—"akan kembali. Harus kuakui, ketika melihatnya waktu itu, aku lebih memerhatikan pikiran James. Tapi aku sama sekali tidak melihat respons semacam ini dalam dirinya. Bahwa dia bahkan memiliki hubungan dengan James. Kurasa aku mengerti sekarang—Victoria sangat yakin pada James, jadi tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa James bisa gagal. Rasa percaya diri yang terlalu berlebihanlah yang menutupi perasaannya terhadap James – itu membuatku tidak melihat besarnya cinta Victoria kepada James, serta hubungan batin yang terjalin di antara mereka.

"Bukan berarti tindakanku meninggalkanmu menghadapi bahaya semacam itu bisa dimaafkan. Waktu aku mendengar apa yang kaukatakan pada Alice—apa yang dilihatnya sendiri—waktu aku sadar ternyata kau sampai harus bergaul dengan werewolf, werewolf yang tidak dewasa, kasar, makhluk terburuk lain selain Victoria—" Edward bergidik dan serbuan kata-katanya terhenti sejenak. "Ketahuilah, aku sama sekali tidak tahu tentang hal ini. Aku merasa muak, muak luar biasa, bahkan sampai sekarang, setiap kali aku bisa melihat dan merasakan kau aman dalam pelukanku. Sungguh bodoh dan tolol aku ini—"

"Hentikan," aku memotong perkataannya. Edward menatapku sedih, dan aku berusaha menemukan kata-kata yang tepat—yang akan membebaskan Edward dari kewajiban rekaannya sendiri ini, yang membuatnya sangat menderita. Tidak mudah mengutarakannya. Entah apakah aku bisa mengucapkannya tanpa menangis. Tapi aku harus mencoba melakukannya dengan benar. Aku tidak mau menjadi sumber perasaan bersalah dan kesedihan dalam hidupnya. Seharusnya Edward bahagia, tak peduli bagaimana akibatnya bagiku.

Aku benar-benar berharap bisa menunda bagian terakhir pembicaraan kami ini. Soalnya, ini hanya akan mengakhiri lebih cepat pertemuan kami. Mengandalkan latihan selama berbulan-bulan untuk berusaha bersikap normal di hadapan Charlie, aku memasang ekspresi datar.

"Edward," kataku. Mengucapkan namanya membuat tenggorokanku serasa terbakar. Aku bisa merasakan bayangan lubang itu,, siap menganga kembali dan mengoyak dadaku begitu Edward pergi nanti. Entah bagaimana aku bisa bertahan nanti. "Ini harus dihentikan sekarang. Kau tidak boleh berpikir begitu. Kau tidak bisa membiarkan... rasa bersalah ini menguasai hidupmu. Kau tidak bisa bertanggung jawab atas hal-hal yang terjadi padaku di sini. Itu bukan salahmu, itu hanyalah bagian dari bagaimana kehidupan sebenarnya bagiku. Jadi, kalau aku tersandung di depan bus atau hal lain suatu saat nanti, kau harus sadar bukan tugasmu untuk menyalahkan dirimu. Kau tidak boleh langsung kabur ke Italia hanya karena kau merasa bersalah tidak bisa menyelamatkan aku. Bahkan seandainya aku terjun dari tebing itu untuk mati, itu pilihanku sendiri, bukan kesalahanmu. Aku tahu sudah menjadi... sifatmu menanggung rasa bersalah untuk segala sesuatunya, tapi kau benar-benar tidak bisa membiarkan hal itu membuatmu melakukan halhal ekstrem! Itu sangat tidak bertanggung jawab— pikirkan Esme dan Carlisle dan—"

Aku nyaris tak bisa menahan tangis. Aku berhenti untuk menarik napas dalam-dalam, berharap bisa menenangkan diri. Aku harus membebaskannya. Aku harus memastikan ini tidak akan pernah terjadi lagi.

“Isabella Marie Swan," bisik Edward, ekspresi ganjil melintasi wajahnya. Ia nyaris tampak marah. "Jadi kau yakin aku meminta Volturi membunuhku karena merasa bersalah?"

Aku bisa merasakan wajahku memancarkan sikap tidak mengerti. "Memangnya bukan karena itu?"

"Merasa bersalah? Memang sangat. Lebih daripada yang bisa kaupahami."

“Jadi... apa maksudmu? Aku tidak mengerti."

"Bella, aku datang ke keluarga Volturi karena kukira kau sudah mati," ujarnya, suaranya lembut, matanya berapi-api. “Bahkan seandainya aku tidak punya andil dalam kematianmu"—Edward bergidik saat membisikkan  kata terakhir itu – “seandainya pun itu bukan salahku, aku akan tetap pergi ke Italia. Jelas, seharusnya aku lebih berhati-hati— seharusnya aku langsung bicara pada Alice, bukan menerima begitu saja perkataan Rosalie. Tapi, bayangkan saja, aku harus berpikir bagaimana waktu pemuda itu berkata Charlie sedang menghadiri pemakaman? Apa kemungkinannya?

"Kemungkinannya..." lalu Edward menggerutu, terusik. Suaranya pelan sekali hingga aku tidak yakin mendengar perkataannya dengan benar. "Kemungkinannya selalu berlawanan dengan keinginan kita. Kesalahan demi kesalahan. Aku tidak akan pernah mengkritik Romeo lagi."

"Tapi aku masih belum mengerti," kataku. "Justru itulah intinya. Memangnya kenapa?"

"Maaf?"

"Memangnya kenapa kalau aku sudah mati?"

Edward menatapku ragu beberapa saat sebelum menjawab. "Kau tidak ingat apa yang pernah kukatakan padamu sebelumnya?”

"Aku ingat semua yang pernah kaukatakan padaku." Termasuk kata-kata yang menegaskan semuanya.

Edward membelai bibir bawahku dengan ujungujung jarinya yang dingin. "Bella, sepertinya kau salah mengerti." Ia memejamkan mata, menggerakkan kepala ke depan dan ke belakang dengan senyum miring menghiasi wajahnya yang rupawan. Bukan senyum bahagia. "Kukira aku sudah menjelaskan dengan sangat jelas sebelumnya. Bella, aku tak sanggup hidup di dunia kalau kau tidak ada."

“Aku..." Kepalaku berputar sementara aku mencari-cari kara yang tepat. "Bingung." Benar. Penjelasannya sungguh tidak masuk akal bagiku.

Edward menatap mataku dalam-dalam dengan tatapannya Kang tulus dan bersungguh-sungguh. "Aku pembohong besar, Bella, aku harus jadi pembohong besar begitu.”

Aku mengejang, otot-ototku mengunci seolah bersiap menahan benturan. Otot dadaku mengejang, sakitnya luar biasa.

Edward mengguncang bahuku, berusaha melenturkan posturku yang kaku. "Dengarkan kata-kataku sampai selesai! Aku ini pembohong besar, tapi kau juga terlalu cepat percaya padaku." Edward meringis. "Itu... sangat menyakitkan."

Aku menunggu, masih kaku.

"Saat kita di hutan, waktu aku mengucapkan selamat tinggal—"

Aku tidak mengizinkan diriku mengingat kenangan buruk itu. Aku berusaha keras tetap berada di masa sekarang saja.

"Waktu itu kau tidak mau melepaskan aku," bisiknya. "Aku bisa melihatnya. Aku tidak ingin melakukannya—sungguh sangat menyakitkan bagiku melakukannya—tapi aku  tahu  kalau  aku tidak  bisa meyakinkanmu bahwa aku tidak mencintaimu lagi, pasti baru lama sekali kau bisa kembali menjalani hidup. Aku berharap, bila kau mengira aku sudah tidak mencintaimu lagi, maka kau pun akan melakukan hal yang sama."

"Perpisahan seketika," bisikku dari sela-sela bibir yang tak bergerak.

"Tepat sekali. Tapi aku tak pernah membayangkan ternyata mudah saja membohongimu! Kusangka itu mustahil dilakukan bahwa kau akan sangat meyakini hal yang sebenarnya sehingga aku harus berbohong dulu mati-matian
  sebelum aku bisa menanamkan sedikit saja benih keraguan dalam pikiranmu. Aku bohong, dan aku sangat menyesal—menyesal karena menyakitimu, menyesal karena itu upaya yang sia-sia. Menyesal karena aku tidak bisa melindungimu dari diriku yang sebenarnya. Aku berbohong untuk menyelamatkanmu, tapi ternyata tidak berhasil. Maafkan aku.

"Tapi bagaimana bisa kau malah percaya padaku? Padahal sudah ribuan kali aku menyatakan cintaku padamu, bagaimana kau bisa membiarkan satu kata saja menghancurkan kepercayaanmu padaku?"

Aku tidak menjawab. Aku terlalu shock untuk bisa membentuk respons yang rasional.

"Aku bisa melihatnya di matamu, kau sejujurnya percaya aku tidak menginginkanmu lagi. Konsep yang paling absurd dan konyol—seolah-olah aku bisa bertahan tanpa membutuhkanmu!"

Aku masih kaku. Kata-katanya tidak kumengerti, karena tidak masuk akal.

Edward mengguncang bahuku lagi, tidak keraskeras, tapi cukup membuat gigiku gemeletuk sedikit.

"Bella," desahnya. "Sungguh, apa yang ada dalam pikiranmu waktu itu!"

Dan tangisku pun pecah. Air mata menggenang dan kemudian mengalir deras di kedua pipiku.

"Sudah kukira," isakku. "Sudah kukira aku pasti bermimpi."

"Keterlaluan benar kau ini," sergah Edward, lalu tertawa-tawanya keras dan frustrasi. "Bagaimana caranya aku menjelaskan supaya kau mau percaya padaku? Kau tidak sedang tidur, dan kau belum mati. Aku ada di sini, dan aku cinta padamu. Aku selalu mencintaimu, dan akari selalu

mencintaimu. Aku memikirkanmu, melihat wajahmu dalam pikiranku, setiap detik selama kita berpisah.

Waktu kubilang aku tidak menginginkanmu lagi, bisa dibilang itu semacam sumpah palsu yang paling konyol."

Aku menggeleng sementara air mata terus menetes dari sudut-sudut mataku.

''Kau tidak percaya padaku, kan?” bisiknya, wajahnya yang pucat sekarang lebih pucat daripada biasanya – aku bisa melihatnya bahkan di bawah cahaya lampu remang-remang. “Mengapa kau malah percaya pada kebohongan, dan bukan kebenaran?”

"Memang tidak pernah masuk akal bahwa kau mencintaiku," aku menjelaskan suaraku tercekat. "Sejak dulu aku tahu itu.”

Mata Edward menyipit, dagunya mengeras.

"Akan kubuktikan bahwa kau sudah bangun," janjinya.

Ia merengkuh wajahku di antara kedua tangannya yang sekeras besi, tak menggubris pemberontakanku saat aku berusaha memalingkan wajah.

"Kumohon, jangan," bisikku.

Edward berhenti, bibirnya hanya beberapa sentimeter dari bibirku.

"Mengapa tidak?" tuntutnya. Napasnya berembus di wajahku, membuat kepalaku berputar.

"Kalau nanti aku terbangun"—Edward membuka mulut untuk protes, maka aku pun buru-buru mengoreksi—"oke, lupakan itu—kalau kau pergi lagi nanti, tanpa ini pun keadaan sudah cukup sulit."

Edward mundur sedikit, menatap wajahku.

"Kemarin, ketika aku hendak menyentuhmu, kau sangat... ragu-ragu, begitu hati-hati, tapi tetap sama. Aku ingin tahu mengapa. Apakah karena aku terlambat? Karena aku terlalu menyakiti hatimu? Karena kau sudah mencintai orang lain, seperti yang kumaksudkan bagimu? Kalau memang begitu, itu... cukup adil. Aku tidak akan mencela keputusanmu. Jadi, tidak usah mencoba menjaga perasaanku, please—ceritakan saja padaku sekarang apakah kau masih mencintaiku atau aduk setelah semua yang kulakukan padamu. Bisakah kau?" bisik Edward.

"Pertanyaan idiot macam apa itu?"

"Jawab saja. Please."

Lama sekali kutatap Edward dengan tajam. "Perasaanku terhadapmu takkan pernah berubah. Tentu saja aku cinta padamu—dan itu tak bisa diganggu gugat lagi!"

"Hanya itu yang perlu kudengar."

Lalu bibir Edward menempel di bibirku, dan aku tak mampu melawannya. Bukan karena ia ribuan kali lebih kuat daripada aku, tapi karena pertahanan diriku langsung ambruk begitu bibir kami bertemu. Ciuman kali ini tidak sehati-hati ciuman lain yang bisa kuingat, tapi itu bukan masalah. Kalau memang aku akan menghancurkan diriku lebih jauh lagi, maka lebih baik sekalian saja.

Maka aku pun membalas ciumannya, jantungku berdebar-debar tidak berirama saat napasku memburu dan jari-jariku membelai wajahnya dengan rakus. Aku bisa merasakan tubuhnya yang sekeras marmer menempel di setiap lekuk tubuhku,  dan  aku  sangat  gembira  ia  tidak mendengarkan aku—tak ada kepedihan di dunia yang dapat membenarkan kehilangan cinta ini. Tangan Edward meraba wajahku, sama seperti tanganku meraba wajahnya, dan saat bibir kami terpisah sejenak beberapa detik, ia membisikkan namaku.

Ketika kepalaku mulai terasa pusing, Edward menarik tubuhnya, tapi menempelkan telinganya di dadaku. Aku berbaring di sana, nanar, menunggu napasku tenang kembali.

"Omong-omong; kata Edward dengan nada biasa-biasa saja. “Aku tidak akan meninggalkanmu."

Aku tidak mengatakan apa-apa, dan Edward sepertinya bisa mendengar nada skeptis dalam diamku.

Ia mengangkat wajahnya dan menatapku lekatlekat. "Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Tidak tanpa kau," ia menambahkan dengan nada lebih serius. "Dulu aku meninggalkanmu karena ingin kau punya kesempatan untuk menjalani hidup yang normal dan bahagia sebagai manusia. Aku bisa melihat akibatnya bila kau terus bersamaku— membuatmu terus-menerus dalam bahaya, merenggutmu dari duniamu, mempertaruhkan  nyawamu setiap  kali aku bersamamu. Jadi aku harus berusaha. Aku harus melakukan sesuatu, dan tampaknya, pergi adalah satu-satunya jalan. Kalau aku tidak beranggapan kau akan lebih baik, aku tidak akan pernah pergi. Aku terlalu egois. Hanya kau yang lebih penting daripada apa yang kuinginkan... yang kubutuhkan. Apa yang kuinginkan dan kubutuhkan adalah bersamamu, dan aku tahu aku tidak akan pernah cukup kuat meninggalkanmu lagi. Terlalu  banyak  alasan  untuk  tinggal—syukurlah! Sepertinya kau tidak bisa aman, tak peduli betapa pun jauhnya jarak di antara kita."

"Jangan janjikan apa-apa," bisikku. Kalau aku membiarkan  diriku berharap, tapi ternyata  harapanku kosong... itu akan membunuhku. Seandainya semua vampir yang tak kenal belas kasihan itu tak sanggup menghabisiku, kehilangan harapan pasti bisa melakukannya.

Bola mata Edward yang hitam berkilat marah. "Jadi kau – pikir aku bohong sekarang?"

“Tidak—tidak  bohong."  Aku  menggeleng,  berusaha berpikir jernih. Mempelajari hipotesis bahwa ia memang

mencintaiku, namun tetap berpikir objektif dan klinis, sehingga aku tidak akan jatuh dalam perangkap harapan. "Kau memang bersungguh-sungguh... sekarang. Tapi bagaimana dengan besok, kalau kau memikirkan kembali semua alasan mengapa kau meninggalkanku dulu? Atau bulan depan, kalau Jasper lepas kendali lagi terhadapku?"

Edward tersentak.

Ingatanku melayang ke hari-hari terakhir hidupku sebelum Edward meninggalkanku, berusaha melihatnya melalui saringan apa yang dikatakannya padaku sekarang. Dari sudut pandang itu, membayangkan bahwa ia meninggalkanku saat masih mencintaiku, meninggalkanku demi aku, aku jadi mengerti sikapnya yang dingin dan menjauhiku.  "Kau toh  tidak  melakukannya  tanpa memikirkannya masakmasak lebih dulu, kan?" tebakku. "Nanti pun kau akan melakukan apa yang kauanggap benar."

"Aku tidak setegar yang kaukira," sergah Edward. "Benar atau salah tidak lagi berarti banyak buatku; aku akan tetap kembali. Sebelum Rosalie mengabarkan berita itu padaku, aku sudah tidak lagi berusaha menjalani hidup seminggu demi seminggu, atau bahkan sehari demi sehari. Aku berjuang untuk bisa bertahan hidup dari satu jam ke satu jam berikutnya. Hanya soal waktu saja—dan tidak lama lagi sebenarnya—aku akan muncul lagi di depan jendelamu dan memohon agar kau mau menerimaku kembali. Aku tidak keberatan memohon sekarang, kalau memang itu maumu."

Aku meringis. "Kumohon, seriuslah.”

"Oh, aku serius kok," tegas Edward, sikapnya garang sekarang. "Bisakah kau mencoba mendengarkan apa yang akan kukatakan padamu?

Maukah kau memberiku kesempatan menjelaskan apa artinya kau bagiku?”

Edward menunggu, mengamati wajahku saat ia berbicara

untuk memastikan aku benar-benar mendengarkan.

"Sebelum kau. Bella, hidupku bagaikan malam tanpa bulan. Gelap pekat, tapi bintang-bintang— titik-titik cahaya dan alasan... Kemudian kau melintasi langitku bagaikan meteor. Tiba-tiba saja semua seperti terbakar; ada kegemerlapan, ada keindahan. Setelah kau tidak ada, setelah meteor tadi lenyap di batas cakrawala, semuanya hitam kembali. Tidak ada yang berubah, tapi mataku sudah dibutakan oleh cahaya terang tadi. Aku tidak bisa lagi melihat bintang-bintang. Jadi tidak ada alasan lagi untuk apa pun juga.”

Aku ingin memercayainya. Tapi ini hidupku tanpa dia yang Edward lukiskan, bukan sebaliknya.

"Matamu akan menyesuaikan diri lagi," gumamku.

"Itulah masalahnya—tidak bisa."

"Bagaimana dengan hal-hal yang bisa mengalihkan pikiranmu?"

Edward tertawa tanpa emosi. "Itu hanya bagian dari kebohonganku, Sayang. Tidak ada yang bisa mengalihkan pikiran dari... dari penderitaan. Jantungku sudah hampir sembilan puluh tahun tak lagi berdetak, tapi ini berbeda. Rasanya seakan-akan jantung hatiku hilang—seolah-olah rongga dadaku kosong. Seakan-akan, segala sesuatu dalam diriku kutinggalkan di sini bersamamu."

"Lucu," gumamku.

Edward mengangkat sebelah alisnya yang sempurna itu. "Lucu?"

Maksudku aneh—kukira hanya aku yang merasa seperti itu. Banyak sekali bagian diriku yang hilang juga. Sudah lama sekali aku tak pernah benarbenar bisa bernapas." Kuisi paru-paruku dengan udara, menikmati sensasinya. "Dan jantungku. Jelas-jelas sudah hilang."

Edward memejamkan mata dan menempelkan telinganya dadaku lagi. Kubiarkan pipiku menempel di rambutnya, merasakan teksturnya di kulitku, menghirup aroma wangi tubuhnya.

"Kalau begitu, melacak tidak bisa mengalihkan pikiran?" tanyaku, ingin tahu, sekaligus ingin mengalihkan pikiranku sendiri. Aku sudah nyaris berharap lagi. Aku tidak akan mampu menghentikan diri terlalu lama. Jantungku berdetak, menyanyi di dadaku.

"Tidak." Edward mendesah. "Itu tidak pernah menjadi sesuatu yang dilakukan untuk mengalihkan pikiran. Itu kewajiban."

"Apa maksudmu?"

"Maksudnya, walaupun aku tidak pernah mengharapkan akan muncul bahaya dari Victoria, aku tidak akan membiarkannya lolos begitu saja setelah... Well, seperti kataku tadi, aku payah dalam hal itu. Aku berhasil melacaknya sampai jauh ke Texas, tapi kemudian aku mengikuti petunjuk palsu sampai ke Brazil—padahal sebenarnya dia malah datang ke sini." Edward mengerang. "Aku bahkan tidak berada di benua yang benar! Dan sementara itu, lebih buruk daripada ketakutanku yang paling buruk—"

"Kau memburu Victoria?" aku setengah memekik begitu bisa menemukan suaraku, melesat naik dua oktaf.

Dengkur Charlie di kejauhan terhenti, dan sejurus kemudian mulai lagi dengan berirama.

"Tidak berhasil," jawab Edward, mengamati ekspresi garangku dengan mimik bingung. "Tapi pasti bisa lebih baik lain kali. Dia tidak akan menodai udara yang segar ini dengan menarik napas dan mengembuskannya lebih lama lagi.”

"Itu... tidak bisa," akhirnya aku bisa juga bersuara. Gila. Walaupun dibantu Emmett atau Jasper sekalipun. Ini lebih buruk daripada bayanganku yang lain: Jacob Black berdiri berhadap-hadapan dengan sosok Victoria yang kejam dan buas. Aku tak sanggup membayangkan Edward di sana, walaupun ia jauh lebih bisa bertahan daripada sahabatku yang setengah manusia itu.

"Sudah terlambat baginya. Aku mungkin masih bisa mengabaikan kejadian waktu itu, tapi tidak sekarang, setelah—"

Aku menyelanya lagi, berusaha memperdengarkan nada tenang. "Bukankah kau baru saja berjanji tidak akan meninggalkan aku?"

tanyaku, melawan kata-kata yang kuucapkan, tidak mengizinkannya tertanam di hatiku. "Janji itu tidak sejalan dengan ekspedisi pelacakan yang memakan waktu lama, bukan?”

Kening Edward berkerut. Geraman pelan terdengar dari dadanya. "Aku akan menepati janjiku, Bella. Tapi Victoria—" geraman itu semakin jelas terdengar—"harus mati. Segera."

"Tak usah tergesa-gesa," ujarku, berusaha menyembunyikan kepanikanku. "Mungkin dia tidak akan kembali. Gerombolan Jake mungkin berhasil membuatnya kabur ketakutan. Sungguh tidak ada alasan untuk tetap mencarinya. Selain itu, aku punya masalah lain yang lebih besar ketimbang Victoria."

Mata Edward menyipit, tapi ia mengangguk. "Memang benar. Masalah werewolf memang masalah besar."
Aku mendengus. "Yang kumaksud bukan Jacob. Masalahku jauh lebih parah daripada segerombolan serigala remaja yang berbuat onar."

Kelihatannya Edward ingin mengatakan sesuatu, tapi kemudian mengurungkannya. Giginya terkatup dengan suara berdetak, dan ia berbicara di sela-selanya. "Benarkah?" tanyanya. “Kalau begitu, apa masalah terbesarmu? Masalah yang membuat kembalinya Victoria mencarimu terasa bagaikan persoalan sepele bila dibandingkan dengannya?"

"Bagaimana kalau yang kedua terberat?" elakku.

"Baiklah," Edward setuju, curiga.

Aku terdiam. Aku tidak yakin bisa menyebutkan namanya. “Ada pihak-pihak lain yang akan datang mencariku," aku mengingatkannya dengan bisikan pelan.

Edward mendesah, tapi reaksinya tidak sekuat yang kubayangkan, apalagi bila dibandingkan dengan responsnya terhadap Victoria tadi.

"Jadi keluarga Volturi hanya yang kedua terberat?"

"Sepertinya kau tidak kalut mendengarnya," komentarku.

"Well, kita punya banyak waktu untuk memikirkannya masak-masak. Bagi mereka waktu artinya sangat jauh berbeda denganmu, atau bahkan aku. Mereka menghitung tahun seperti kau menghitung hari. Aku tidak heran bila kau sudah berumur tiga puluh tahun baru mereka teringat lagi padamu," imbuh Edward enteng.

Kengerian melandaku.

Tiga puluh tahun.

Kalau begitu, janji-janji Edward tidak berarti apa-apa, pada akhirnya. Bila suatu hari nanti aku akan mencapai umur tiga puluh tahun, berarti Edward tidak mungkin berencana tinggal lama. Kepedihan mengetahui hal itu membuatku sadar bahwa aku mulai berharap, tanpa mengizinkan diriku melakukannya.

"Kau tidak perlu takut," ujar Edward, cemas saat melihat air mataku mulai merebak lagi. “Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu."

"Selama kau ada di sini." Bukan berarti aku peduli apa yang terjadi pada diriku setelah ia pergi.
Edward merengkuh wajahku dengan kedua tangannya yang sekeras batu, memegangnya eraterat sementara matanya yang sekelam malam menatap mataku lekat-lekat dengan daya gravitasi yang menyerupai lubang hitam.

"Tapi kauhilang tadi tiga puluh!” bisikku. Air mata merembes keluar dari sudut mata. "Jadi apa? Kau akan tinggal, tapi membiarkan aku menjadi tua? Yang benar saja."

Sorot mata Edward melembut, sementara mulutnya mengeras. "Tepat seperti itulah yang akan kulakukan. Pilihan apa lagi yang kupunya? Aku tidak bisa hidup tanpa kau, tapi aku tidak mau menghancurkan jiwamu."

“Apakah itu sungguh-sungguh karena..." Aku berusaha menjaga suaraku tetap datar, tapi pertanyaan ini terlalu sulit untuk dilontarkan. Aku ingat bagaimana ekspresi Edward waktu Aro nyaris memohon padanya untuk mempertimbangkan ide membuatku abadi. Ekspresi muak itu. Apakah kengototan Edward untuk tetap mempertahankan aku sebagai manusia sungguh-sungguh karena jiwaku, atau karena ia tak yakin dirinya menginginkan aku bersamanya sebegitu lama?

“Ya?" tanya Edward, menunggu pertanyaanku. Aku malah mengajukan pertanyaan lain. Hampir— tapi tidak persis—sama susahnya.

"Tapi bagaimana kalau nanti aku sudah tua sekali dan orang-orang mengira aku ibumu?

Nenekmu?" Suaraku pucat oleh perasaan jijik—aku bisa melihat wajah Gran lagi dalam mimpiku tentang bayangan dalam cermin waktu itu.

Seluruh wajah Edward melembut sekarang. Ia mengusap air mata dari pipiku dengan bibirnya. "Itu tidak penting bagiku," embusan napasnya menerpa kulitku. "Kau akan selalu menjadi orang yang paling cantik bagiku. Tentu saja..." Edward ragu-ragu, sedikit tersentak. "Kalau kau menjadi lebih tua daripada aku – kalau kau menginginkan sesuatu yang lebih – aku bisa memahaminya, Bella. Aku berjanji tidak akan menghalangimu kalau kau ingin meninggalkan aku."

Mata Edward tampak bagaikan batu akik cair dan benar-benar tulus. Ia berbicara seolah-olah telah memikirkan rencana tolol ini masak-masak.

"Kau tentunya sadar suatu saat nanti aku akan mati, bukan?" desakku.

Edward juga sudah memikirkan hal itu. "Aku akan menyusulmu secepat aku bisa."

"Ini benar-benar..." Aku mencari kata yang tepat. "Gila."

"Bella, hanya itu satu-satunya cara yang tertinggal—"

"Mari kita mundur dulu sejenak," tukasku; merasa marah membuatku jauh lebih mudah untuk berpikir jernih dan tegas. "Kau pasti masih ingat pada keluarga Volturi, kan? Aku tidak bisa tetap menjadi manusia selamanya. Mereka akan membunuhku. Walaupun seandainya  mereka tidak memikirkan aku sampai aku berumur tiga puluh tahun"—aku mendesiskan kalimat itu—"apa kau benar-benar mengira mereka bakal lupa?"

"Tidak," jawab Edward lambat-lambat, menggelengkan kepala. "Mereka tidak akan lupa. Tapi..."

"Tapi?"

Edward menyeringai sementara aku menatapnya kecut. Mungkin bukan aku satu-satunya yang sinting di sini. "Aku punya beberapa rencana."

"Dan rencana-rencana itu," tukasku, suaraku semakin masam dalam setiap katanya. "Rencanarencana itu pasti berpusat padaku yang tetap menjadi manusia.”
Sikapku membuat ekspresi Edward mengeras "Itu sudah jelas." Nadanya kasar, wajahnya yang bak malaikat itu arogan.

Kami bertatapan garang beberapa saat.

Kemudian aku menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahu, dan mendorong lengan Edward jauh-jauh supaya bisa duduk tegak.

"Kau ingin aku pergi?" tanya Edward, dan hatiku terasa nyeri melihat bagaimana pemikiran itu menyakiti hatinya, meski ia berusaha tidak menunjukkannya.

"Tidak." jawabku. "Aku yang akan pergi."

"Boleh aku bertanya kau akan ke mana?" tanyanya.

"Aku akan pergi ke rumahmu," jawabku, masih menggapai-gapai tanpa melihat.

Edward berdiri dan menghampiriku. "Ini sepatumu. Kau akan naik apa ke sana?"

"Trukku."

“Suaranya mungkin akan membuat Charlie terbangun," kata Edward sebagai upaya untuk membuatku mengurungkan niat.

Aku mendesah. “Aku tahu. Tapi jujur saja, sekarang pun aku pasti akan dihukum tidak boleh keluar rumah beberapa minggu. Jadi mumpung sudah basah, kecebur saja sekalian."

"Itu tidak benar Charlie pasti akan menyalahkan aku, bukan kau."

"Kalau punya ide lain yang lebih baik, katakan saja."

“Tetaplah di sini." Edward menyarankan, tapi ekspresinya tidak berharap.

“Jangan harap. Tapi silakan saja kalau kau mau tetap di sini. Anggap saja di rumah sendiri," dorongku, kaget sendiri mendengar betapa wajarnya caraku menyindir, lalu bergegas menuju pintu.

Tiba-tiba saja Edward sudah berdiri di hadapanku, menghalangi jalan.

Aku mengerutkan kening, dan berbalik menuju jendela. Tidak terlalu tinggi kok dari tanah, dan di bawah sebagian besar berupa rerumputan...

"Oke," desah Edward. "Aku akan membopongmu."

Aku mengangkat bahu. "Terserah. Tapi mungkin sebaiknya kau juga berada di sana."

"Mengapa begitu?"

"Karena kalau kau sudah punya pendapat, sulit sekali mengubah pendapatmu. Jadi aku yakin kau pasti ingin mendapat kesempatan mengutarakan pandangan-pandanganmu."

"Pandangan-pandanganku mengenai apa?" tanya Edward dari sela-sela rahangnya yang terkatup rapat.

"Ini bukan lagi hanya mengenai kau. Kau bukan pusat semesta alam, tahu." Kalau pusat semesta alam pribadiku, tentu saja, adalah cerita lain. "Kalau kau akan membuat keluarga Volturi mendatangi kita hanya gara-gara hal tolol seperti mempertahankan aku sebagai manusia, maka keluargamu perlu didengar juga pendapatnya."

"Pendapat mereka mengenai apa?" tanya Edward, setiap kata diucapkan dengan jelas.

"Ketidakabadianku. Aku akan melakukan voting untuk menentukannya."
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊