menu

New Moon Bab 10 Padang Rumput

Mode Malam
Bab 10 Padang Rumput

JACOB tidak menelepon.

Pertama kalinya aku menelepon, Billy yang mengangkat dan mengatakan Jacob masih tidur. Aku berusaha mengorek keterangan, memastikan Billy sudah membawanya ke dokter. Menurut Billy sudah, tapi entah mengapa, untuk alasan yang aku sendiri tak tahu, aku kok tidak begitu percaya padanya. Aku menelepon lagi, beberapa kali sehari, selama dua hari berikutnya, tapi tak ada yang mengangkat.

Sabtunya kuputuskan untuk menemui Jacob, masa bodoh dengan undangan. Tapi rumah merah kecil itu kosong. Aku jadi takut—sesakit itukah Jacob sampai harus dirawat di rumah sakit? Aku mampir ke rumah sakit dalam perjalanan pulang, tapi menurut perawat jaga di meja depan, baik Jacob maupun Billy tidak datang ke rumah sakit.

Kuminta Charlie menelepon Harry Clearwater begitu ia sampai di rumah dan kantor. Aku menunggu, waswas, sementara Charlie mengobrol dengan teman lamanya; obrolan mereka sepertinya sangat lama tanpa sekali pun menyebut-nyebut nama Jacob. Kedengarannya Harry-lah yang baru saja pulang. dari rumah sakit... menjalani tes jantung. Kening Charlie berkerut, tapi Harry bercanda dengannya, menceritakan yang luculucu, sampai Charlie tertawa lagi. Barulah kemudian Charlie bertanya tentang Jacob, dan sekarang ia tak lagi banyak bicara sehingga aku tak bisa mengikuti percakapan, karena ia hanya mengucapkan hmmm dan yeah berulang-ulang. Aku mengetuk-ngetukkan jari ke konter di samping Charlie, sampai ia memegang tanganku untuk menghentikannya.

Akhirnya Charlie menutup telepon dan berpaling padaku.

"Kata Harry, saluran teleponnya bermasalah, jadi itulah sebabnya teleponmu tidak nyambung. Billy membawa Jake ke dokter di reservasi, dan kelihatannya dia sakit mono. Dia ke capekan, dan kata Billy, dia tidak boleh ditengok," lapor Charlie.

"Tidak boleh ditengok?" tanyaku tak percaya.

Charlie mengangkat sebelah alis. "Sekarang kau jangan ikut campur, Bells. Billy tahu apa yang terbaik untuk Jake. Sebentar lagi juga dia sembuh dan bisa ke sini lagi. Bersabarlah."

Aku tidak memaksa. Charlie terlalu khawatir memikirkan Harry. Jelas itu lebih penting—tidak tepat mengganggu pikirannya dengan hal-hal sepele. Jadi aku naik ke lantai atas dan menyalakan komputer. Aku menemukan situs kedokteran dan mengetikkan kata "mononukleosis" ke kolom pencarian.

Yang kutahu tentang mono hanyalah bahwa seseorang bisa tertular penyakit itu dari berciuman, sesuatu yang jelas tak mungkin terjadi pada Jake. Aku membaca gejala-gejalanya dengan cepat—kalau demam memang ia mengalaminya, tapi bagaimana dengan gejala yang lain? Tidak ada radang tenggorokkan parah, tidak ada kelelahan, tidak ada pusing kepala, setidaknya tidak sebelum ia pulang dari bioskop: ia bahkan sempat berkata dirinya "sehat walafiat”. Benarkah penyakitnya muncul secepat itu? Berdasarkan artikel itu, sepertinya yang harus muncul lebih dulu adalah radang tenggorokannya.

Kupandang layar komputer dan bertanya-tanya dalam hati mengapa, tepatnya, aku melakukan hal ini. Mengapa aku merasa sangat... sangat curiga, seperti tidak percaya pada cerita Billy? Untuk apa Billy berbohong pada Harry?

Aku saja yang konyol, mungkin. Aku hanya khawatir, dan jujur saja. aku takut tidak diperbolehkan bertemu Jacob—itu membuatku gelisah.

Aku menyimak keterangan lain dalam artikel itu, menggali lebih banyak informasi. Aku berhenti begitu sampai pada bagian yang menjelaskan penyakit mono bisa bertahan lebih dari sebulan.

Sebulan? Mulutku ternganga.

Tapi Billy tak mungkin menerapkan aturan tidak boleh dijenguk sampai selama itu. Tentu saja tidak. Jake bisa gila kalau disuruh berbaring terus di tempat tidur tanpa seorang pun bisa diajak bicara.

Apa sebenarnya yang ditakutkan Billy? Menurut artikel itu, pengidap mono harus menghindari aktivitas fisik, tapi tidak ada penjelasan tentang aturan tidak boleh dijenguk. Penyakit itu kan tidak terlalu menular.

Kuputuskan untuk memberi Billy waktu satu minggu sebelum mulai mengorek-ngorek lagi. Satu Minggu sudah cukup lama.

Ternyata satu minggu itu lama sekali. Hari Rabu aku yakin tidak bakal mampu bertahan hidup sampai Sabtu.

Ketika memutuskan untuk tidak mengganggu Billy dan Jacob selama seminggu, aku sebenarnya tak yakin Jacob bakal menuruti aturan Billy. Setiap hari sesampainya di rumah dari sekolah, aku berlari ke pesawat telepon untuk mengecek pesan-pesan. Tidak pernah ada pesan untukku.

Aku melanggar janjiku sendiri dengan mencoba meneleponnya tiga kali, tapi saluran teleponnya masih rusak.

Aku terlalu sering tinggal di rumah, dan terlalu sering sendirian. Tanpa Jacob, juga adrenalin dan kegiatan yang bisa mengalihkan pikiran, semua yang selama ini kutekan mulai menghantuiku lagi. Mimpi-mimpi itu mulai menyerangku lagi. Aku tidak lagi bisa melihat bagian akhirnya datang. Yang ada hanya kehampaan yang mengerikan— terkadang di hutan, terkadang di lautan pakis kosong tempat rumah putih itu tak lagi ada. Sesekali ada Sam Uley disana, di hutan, mengawasiku lagi. Aku tidak memedulikan dia— tidak ada kenyamanan yang kurasakan dengan kehadirannya, aku malah merasa semakin sendirian. Walhasil, aku selalu terbangun setelah menjerit ketakutan, setiap malam.

Lubang di dadaku kini semakin parah. Kusangka aku sudah bisa mengendalikannya, tapi aku mendapati diriku meringkuk, setiap hari, sambil mencengkeram pinggang dan megap-megap kehabisan udara.

Aku tak mampu menghadapi kesendirian dengan baik.

Aku lega tak terkira di pagi hari waktu terbangun—setelah menjerit, tentu saja—dan teringat sekarang hari Sabtu. Berarti hari ini aku bisa menelepon Jacob. Dan kalau saluran telepon masih tetap belum berfungsi, aku akan ke La Push.

Bagaimanapun caranya, pokoknya hari ini harus lebih baik daripada seminggu terakhir yang sepi ini.

Aku menghubungi nomor telepon Jacob, lalu menunggu tanpa berharap apa-apa. Jadi aku kaget waktu Billy mengangkat telepon pada dering kedua.

“Halo?”

“Oh. hai, cerita teleponnya sudah berfungsi lagi! Hai, Billy. Ini Bella. Aku hanya ingin tahu kabar Jacob. Apakah dia sudah bisa ditengok? Aku sedang berpikir-pikir untuk mampir–“

"Maafkan aku, Bella,” sela Billy, dan aku bertanya-tanya apakah ia sedang nonton televisi; kedengarannya perhatian Billy sedang tertuju pada hal lain. "Dia tidak ada di rumah."

"Oh." Butuh sedetik untuk mencernanya. "Kalau begitu dia sudah sembuh?”

"Yeah," jawab Billy, setelah sempat ragu-ragu sejenak. "Ternyata bukan mono. Hanya virus biasa.”

"Oh. Kalau begitu... ke mana dia?"

"Dia pergi jalan-jalan bersama teman-temannya ke Port

Angeles—kalau tidak salah mau nonton film atau sebangsa-nya. Dia pergi seharian."

"Well, aku lega mendengarnya. Aku khawatir sekali. Aku senang dia cukup sehat untuk pergi jalan-jalan." Suaraku terdengar palsu sementara aku mengoceh tidak keruan.

Jacob sudah sembuh, tapi tidak merasa perlu meneleponku. Ia pergi dengan teman-temannya. Sementara aku duduk di rumah, merindukannya setiap jam. Aku kesepian, cemas, bosan... tercabikcabik – dan sekarang kecewa karena menyadari perpisahan kami selama seminggu ini ternyata tidak memiliki dampak yang sama terhadapnya.

“Kau menginginkan sesuatu?" Billy bertanya sopan.

“Tidak, tidak juga."

“Well, akan kusampaikan padanya kau menelepon,” Billy berjanji. “Bye, Bella.”
“Bye,” sahutku, tapi Billy sudah lebih dulu menelepon telepon.

Sesaat aku hanya bisa mematung dengan telepon masih di tangan.

Jacob pasti berubah pikiran, seperti yang kutakutkan selama ini. Ia mengikuti saranku dan tidak menyia-nyiakan waktunya untuk seseorang yang tidak bisa membalas perasaannya. Aku merasa darah menyusut dari wajahku.

"Ada yang tidak beres?" tanya Charlie sambil menuruni tangga.

"Tidak," dustaku, meletakkan gagang telepon. "Kata Billy, Jacob sudah sehat. Dia tidak kena mono. Syukurlah."

"Jadi dia mau datang ke sini, atau kau yang ke sana?" tanya Charlie sambil lalu, mulai mengadukaduk isi lemari es.

"Tidak dua-duanya," aku mengakui. "Dia pergi dengan teman-temannya yang lain."

Nada suaraku akhirnya menarik perhatian Charlie. Ia mendongak menatapku dengan sikap mendadak kaget, tangannya membeku memegangi sebungkus keju lembaran.

"Bukankah sekarang masih terlalu pagi untuk makan siang?" tanyaku seringan mungkin, berusaha mengalihkan pikiran.

"Tidak, aku hanya mau membuat sesuatu untuk bekal ke sungai..."

"Oh, mau mancing hari ini?"

"Well, Harry menelepon... dan hari tidak hujan." Charlie sibuk menyiapkan setumpuk makanan di atas konter sembari bicara. Tiba-tiba ia mengangkat wajahnya lagi seolah-olah menyadari sesuatu. "Katakan, kau mau aku di rumah saja menemanimu, berhubung Jake pergi?"

"Tidak apa-apa, Dad," kataku, berusaha memperdengarkan nada tak peduli. "Ikan makan lebih lahap bila cuaca cerah."

Charlie menatapku, wajahnya jelas bimbang. Aku tahu ia khawatir, takut meninggalkan aku sendirian, kalau-kalau aku “bermuram durja” lagi.

"Sungguh, Dad. Mungkin aku akan menelepon Jessica,” dalihku buru-buru. Aku lebih suka sendirian daripada diawasi terus seharian oleh Charlie. "Kami harus belajar Kalkulus. Aku bisa meminta bantuannya." Bagian itu benar. Tapi aku harus bisa sendiri tanpa meminta bantuan Jessica.

"Ide bagus. Kau terlalu banyak bermain dengan Jacob, teman-temanmu yang lain bakal mengira kau sudah melupakan mereka."

Aku tersenyum dan mengangguk, seolah-olah peduli pendapat teman-temanku.

Charlie berbalik, tapi lalu berputar lagi dengan ekspresi khawatir. "Hei, kau mau belajar di sini atau di rumah Jess, kan?"

"Tentu, mau di mana lagi?"

"Well, aku hanya ingin kau berhati-hati untuk tidak masuk ke hutan, seperti yang sudah kukatakan padamu sebelumnya."

Butuh semenit bagiku untuk memahaminya, karena saat itu pikiranku sedang tertuju pada hal lain. "Masalah dengan beruang lagi?"

Charlie mengangguk, keningnya berkerut. "Ada hiker yang hilang—polisi hutan menemukan kemahnya tadi pagi, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Di sana ada jejak-jejak binatang besar... tentu saja binatang itu bisa saja datang kemudian, karena mencium bau makanan... Pokoknya, mereka sekarang sedang memasang jebakan untuk menangkapnya."

“Oh,” ucapku sambil lalu. Aku tidak benar-benar mendengarkan peringatannya; aku jauh lebih kalut memikirkan situasiku dengan Jacob daripada kemungkinan menjadi mangsa beruang.

Aku senang Charlie terburu-buru. Ia tidak menungguku menelepon Jessica, jadi aku tidak perlu bersandiwara. Aku menyibukkan diri dengan mengumpulkan semua buku sekolahku di meja dapur untuk kumasukkan ke tas; mungkin itu terlalu  berlebihan, dan bila Charlie  tidak  begitu bersemangat pergi memancing, itu pasti akan membuatnya curiga.

Aku begitu sibuk terlihat sibuk hingga tidak menyadari betapa mengerikannya hari kosong yang membentang di hadapanku sampai aku melihat Charlie meluncur pergi. Hanya butuh kira-kira dua menit memandangi telepon dapur yang diam seribu bahasa untuk memutuskan aku tidak mau tinggal di rumah hari ini. Aku menimbang-nimbang beberapa pilihan.

Aku tidak akan menelepon Jessica. Sepanjang pengamatanku, Jessica sudah menyeberang ke sisi gelap. Aku bisa naik truk ke La Push dan mengambil motorku— pikiran menarik, tapi masalahnya satu: siapa yang akan mengantarku ke UGD kalau aku membutuhkannya nanti?

Atau... aku toh sudah punya peta dan kompas di trukku. Aku yakin sudah cukup memahami prosesnya sehingga tidak akan tersesat. Mungkin aku bisa mengeliminasi dua garis lagi hari ini, dengan begitu kami akan lebih maju daripada jadwal bila nanti Jacob mau menemuiku lagi. Aku menolak memikirkan kapan kira-kira itu akan terjadi. Atau apakah itu takkan pernah terjadi lagi.

Aku sempat merasakan secercah perasaan bersalah saat menyadari bagaimana perasaan Charlie kalau tahu aku mau ke hutan; tapi aku mengabaikannya. Pokoknya aku tidak bisa tinggal di rumah lagi hari ini.

Beberapa menit kemudian aku sudah berada di jalan tanah yang tidak mengarah ke tempat tertentu. Aku membuka semua jendela dan menyetir secepat yang bisa dilakukan trukku, mencoba menikmati embusan angin yang menerpa wajahku. Hari berawan, tapi nyaris kering – hari yang cerah untuk ukuran Forks.

Untuk memulai dibutuhkan waktu yang lebih lama daripada bila per* bersama Jacob. Setelah memarkir truk di tempat biasa, aku harus menghabiskan waktu tak kurang dari lima belas menit untuk mempelajari jarum kecil di permukaan kompas serta tanda-tanda di peta yang sekarang sudah lecek itu. Setelah yakin mengikuti jalur yang benar, aku mulai berjalan memasuki hutan.

Hutan penuh kehidupan hari ini, semua makhluk kecil menikmati kekeringan yang hanya sementara. Namun entah bagaimana, bahkan dengan kicauan burung-burung dan dengung serangga yang mengitari kepalaku dengan berisik, juga bunyi langkah kaki tikus yang berkelebat menerobos semak belukar, hutan terkesan lebih menyeramkan hari ini; membuatku teringat pada mimpi burukku yang terbaru. Aku  tahu itu hanya karena aku sendirian, kehilangan siulan riang Jacob serta suara sepasang kaki lain menginjak tanah yang lembab.

Perasaan gelisah itu semakin kuat saat aku semakin dalam memasuki pepohonan. Aku mulai susah bernapas—bukan karena berkeringat,  tapi karena  aku mengalami kesulitan dengan lubang tolol di dadaku lagi. Kudekap tubuhku dengan kedua tangan dan berusaha mengenyahkan kepedihan itu dari pikiranku. Nyaris saja aku berbalik, tapi aku tak ingin menyia-nyiakan upaya yang telah kulakukan.

Ritme langkah-langkahku mulai menumpulkan pikiran dan kepedihanku, sementara aku terus merangsek maju. Napasku akhirnya mulai teratur, dan aku senang tak jadi pulang. Aku semakin piawai menjelajah alam; aku tahu aku sekarang bisa berjalan lebih cepat.

Aku tidak tahu apakah aku jauh lebih efisien sekarang. Kalau tidak salah, mungkin aku sudah berjalan enam kilometer lebih, dan bahkan belum mulai mencari. Kemudian, dengan ketiba-tibaan yang membuatku kehilangan orientasi, aku melangkah melewati lengkingan pendek yang terbentuk dari dua pohon maple merambat— menerobos semak pakis setinggi dada—dan memasuki padang rumput.

Ini tempat yang sama, itu aku yakin benar. Belum pernah aku melihat tempat terbuka lain yang begitu simetris. Bentuknya bulat sempurna, seolah-olah ada orang yang dengan sengaja membuat lingkaran sempurna, mencabuti pohonpohon tanpa meninggalkan jejak sedikit pun di rerumputan yang melambai-lambai. Ke arah timur sayup-sayup aku mendengar suara mata air menggelegak.

Tempat ini tidak terlalu memesona tanpa cahaya matahari, namun tetap sangat indah dan tenang. Sekarang bukan musimnya bunga-bunga liar; permukaannya tertutup rumput tebal yang mengayun tertiup angin sepoi-sepoi,  bagaikan riak air di permukaan danau.

Ini tempat yang sama... tapi aku tidak menemukan yang kucari-cari di sini.

Kekecewaan datang nyaris seketika seperti saat kesadaran itu datang. Aku terhenyak ke tanah, berlutut di pinggir padang terbuka, mulai terengahengah.

Apa gunanya pergi lebih jauh lagi? Tak ada yang tertinggal di sini. Tidak lebih dari kenangan yang bisa kupanggil kembali setiap kali aku menginginkannya, asal aku rela menanggung kepedihan yang menyertainya—kepedihan yang kurasakan sekarang, yang membuatku menggigil. Tidak ada yang istimewa dengan tempat ini bila dia tak ada. Aku tak yakin benar apa yang kuharap akan kurasakan di sini, tapi padang rumput ini hampa oleh atmosfer, hampa oleh segalanya, sama seperti tempat-tempat lain. Sama seperti mimpi burukku. Kepalaku berputar-putar, pusing sekal.

Setidaknya aku datang sendirian. Aku merasakan serbuan perasaan syukur saat menyadari hal itu. Kalau aku menemukan padang rumput ini bersama Jacob... Well, aku tak mungkin bisa menyamarkan lubang tak berdasar tempatku jatuh sekarang. Bagaimana aku bisa menjelaskan keadaanku yang hancur berkepingkeping, kondisiku yang meringkuk seperti bola untuk menjaga agar lubang kosong itu tidak mencabik-cabik tubuhku? jauh lebih baik bila tidak ada yang melihatku.

Dan aku juga tak perlu menjelaskan pada siapa pun mengapa aku begitu tergesa-gesa meninggalkan tempat ini. Jacob pasti akan berasumsi, setelah begitu bersusah-payah melacak keberadaan tempat ini, bahwa aku ingin menghabiskan waktu lebih dari hanya beberapa detik di sini. Tapi sekarang pun aku sudah berusaha mendapatkan kekuatan untuk bisa berdiri lagi. memaksa diriku bangkit supaya bisa pergi dari sini. Terlalu banyak kepedihan yang harus ditanggung di tempat kosong ini—kalau perlu aku  bahkan tidak keberatan merangkak.

Untung saja aku sendirian!

Sendirian. Aku mengulangi kata itu dengan kepuasan muram sambil memaksa diriku bangkit meski hatiku sakit sekali. Tepat saat itu sesosok tubuh melangkah keluar dari sela-sela pepohonan di sebelah utara, kira-kira tiga puluh langkah jauhnya.

Berbagai macam emosi berkecamuk dalam diriku detik juga. Pertama adalah terkejut; aku berada jauh dari jalan setapak mana pun, dan tidak mengira akan ada orang lain di sini. Kemudian saat mataku terfokus pada sosok tak bergerak itu, melihat tubuhnya yang bergeming dan kulitnya yang pucat, serbuan harapan yang menyakitkan mengguncangku. Aku menekannya habis-habisan, berjuang melawan sayatan pedih penderitaan saat mataku menjalar ke wajah di bawah rambut yang hitam, bukan wajah yang ingin kulihat. Berikutnya muncul rasa takut; ini bukan wajah yang kutangisi, namun jaraknya cukup dekat hingga aku tahu cowok yang menghadap ke arahku itu bukan hiker yang tersesat.
Kemudian, akhirnya, aku mengenalinya.

"Laurent!" pekikku, kaget bercampur senang.

Respons yang tak masuk akal. Mungkin seharusnya aku berhenti pada perasaan takut.

Laurent adalah salah satu anggota kelompok James saat kami pertama kali bertemu. Ia tidak ikutdalam perburuan yang terjadi kemudian— perburuan di mana akulah mangsanya—tapi itu hanya karena ia takut; aku dilindungi kelompok lain yang lebih besar daripada kelompoknya. Akan lain ceritanya kalau tidak begitu—saat itu ia tidak menyesal tidak menjadikanku makanannya. Tentu saja ia pasti sudah berubah, karena ia pergi ke Alaska untuk tinggal bersama kelompok beradab lain, keluarga lain yang juga menolak minum darah manusia demi alasan etis. Keluarga lain seperti... tapi aku tidak membiarkan diriku memikirkan nama itu.

Ya, takut pasti lebih masuk akal, tapi yang kurasakan hanya kepuasan berlebihan. Padang rumput ini kembali menjadi tempat magis. Magis yang lebih gelap daripada yang kuharapkan, jelas, namun tetap magis. Inilah koneksi yang kucari. Bukti, walau bagaimanapun kecilnya, bahwa—di suatu tempat di dunia yang sama dengan tempatku tinggal—dia ada.
Mustahil melihat bahwa Laurent masih persis sama seperti dulu. Kurasa sungguh tolol dan manusiawi sekali mengharapkan ada semacam perubahan dari tahun lalu. Tapi memang ada sesuatu... aku tak tahu persis apa itu.

"Bella?" tanya Laurent, tampak lebih terperangah dari pada yang kurasakan.

“Kau ingat.” Aku tersenyum. Sungguh konyol aku bisa begitu gembira karena ada vampir yang mengingat namaku.

Laurent nyengir. “Aku tidak mengira akan bertemu kau di sini." Ia melenggang menghampiriku, ekspresinya takjub.

“Apa tidak terbalik? Aku memang tinggal di sini. Kusangka kau sudah pergi ke Alaska."

Laurent berhenti kira-kira sepuluh langkah dariku, menelengkan kepala ke satu sisi. Wajahnya adalah wajah paling tampan yang kulihat untuk kurun waktu yang rasanya seperti berabad-abad. Kuamati garis-garis wajahnya dengan perasaan lega yang rakus. Ini dia orang kepada siapa aku tidak perlu berpura-pura—seseorang yang sudah tahu setiap hal yang tak pernah bisa kuungkapkan.

"Kau benar," ia sependapat. "Aku memang pergi ke Alaska. Meski begitu, aku tidak mengira... Waktu aku mendapati rumah keluarga Cullen sudah kosong, kusangka mereka sudah pindah."

“Oh." Aku menggigit bibir ketika nama itu membuat lukaku yang masih basah kembali berdarah. Butuh sedetik
  untuk menenangkan diri. Laurent menunggu dengan sorot ingin tahu.

"Mereka memang sudah pindah," akhirnya bisa juga aku memberi tahunya.

"Hmm,” gumam Laurent. "Kaget juga aku, mereka meninggalmu. Bukankah kau sejenis peliharaan mereka?"

Matanya sama sekali, tidak memancarkan sorot menghina.

Aku tersenyum kecut. "Semacam itulah."

"Hmmm," ujarnya, tampak berpikir lagi.

Saat itulah aku sadar mengapa ia tampak sama— terlalu sama. Setelah Carlisle memberi tahu kami Laurent tinggal dengan keluarga Tanya, aku mulai membayangkan dia, meski aku jarang memikirkannya, dengan mata keemasan yang sama seperti yang dimiliki... keluarga Cullen—aku meringis saat memaksa nama itu keluar. Mata yang dimiliki semua vampir baik.
Tanpa sengaja aku mundur selangkah, dan mata merahnya yang gelap dan penuh keingintahuan itu mengikuti gerakanku.

"Apakah mereka sering mengunjungimu?" tanyanya, nadanya masih biasa-biasa saja, tapi tubuhnya bergerak ke arahku.

"Berbohonglah," suara beledu indah itu berbisik cemas dari benakku.

Aku terkejut mendengar suaranya, tapi seharusnya itu tidak membuatku kaget. Bukankah saat ini aku berada dalam bahaya yang tak terbayangkan? Sepeda motor tidak ada apa-apanya dibandingkan ini.

Aku melakukan apa yang diperintahkan suara itu.

"Sesekali." Aku berusaha tetap terdengar ringan, rileks.
  "Waktu terasa lebih panjang bagiku, rasanya. Sementara mereka, kau tahu, mudah dialihkan perhatiannya..." Aku mulai melantur. Aku harus berusaha keras menutup mulut.

"Hmmm," kata Laurent lagi. "Bau rumahnya seperti sudah lama tidak ditinggali..."

"Kau harus berbohong lebih baik lagi, Bella," desak suara itu.

Aku mencoba. "Aku harus memberi tahu Carlisle kalau kau mampir. Dia pasti menyesal tidak sempat menemuimu.” Aku berpura-pura berfikir sebentar. "Tapi mungkin aku tidak perlu menceritakannya pada... Edward, kurasa–“ aku nyaris tak mampu menyebut namanya, dan itu membuat ekspresiku aneh, mementahkan gertakanku sendiri “– karena dia sangat pemarah.. Well, aku yakin kau masih ingat. Dia masih sensitif kalau mengingat kejadian dengan James waktu itu Aku memutar bola mata dan melambaikan tangan dengan lagak cuek, seolah-olah itu semua sejarah lama, tapi ada secercah nada histeris dalam suaraku. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah Laurent bakal mengenalinya.

"Benarkah begitu?" Laurent menanggapi dengan senang... sekaligus skeptis.

Aku menjawab singkat, agar suaraku tidak menunjukkan kepanikanku. "Mm-hmm.”

Laurent melangkah ke samping dengan sikap biasa-biasa saja, memandang berkeliling padang rumput kecil itu. Kusadari langkah itu membawanya semakin dekat denganku. Di kepalaku suara itu merespons dengan geraman rendah.

“Bagaimana keadaan di Denali? Kata Carlisle, kau tinggal bersama Tanya?" suaraku melengking kelewat tinggi.

Pertanyaan itu membuatnya diam sebentar. "Aku sangat menyukai Tanya," ia merenung. "Apalagi saudara perempuannya Irina... aku tidak pernah menetap terlalu lama di satu tempat sebelumnya, dan aku menikmati keuntungan  dan hal-hal baru yang bisa kurasakan. Tapi larangannya sulit... Heran juga aku, mereka bisa bertahan begitu lama." Ia tersenyum padaku seperti mengajak berkomplot. "Kadang-kadang aku melanggarnya."

Aku tak sanggup menelan ludah. Kakiku mulai bergerak mundur, tap, langsung membeku saat matanya yang merah berkelebat turun dan menangkap gerakan itu.

"Oh," kataku dengan suara lemah. "Jasper juga punya masalah dengan itu."

"Jangan bergerak," suara itu berbisik. Aku berusaha melakukan apa yang ia perintahkan. Sulit, tapi; insting untuk lari nyaris tak bisa dikendalikan.

"Benarkah?" Laurent tampak tertarik. "Itukah sebabnya mereka pergi?"

"Bukan," jawabku jujur. "Jasper lebih berhatihati di rumah."
"Benar," Laurent sependapat. "Begitu juga aku."

Satu langkah maju yang diambilnya jelas disengaja.

"Apakah Victoria pernah menemukanmu?" tanyaku, napasku tersengal, sangat ingin mengalihkan perhatiannya. Itu pertanyaan pertama yang muncul di benakku, dan aku langsung menyesalinya begitu kata-kata itu terlontar dari mulutku. Victoria—yang memburuku bersama James, kemudian menghilang—bukanlah seseorang yang ingin kuingat pada saat-saat genting seperti ini.

Tapi pertanyaan itu menghentikannya.

"Ya," jawab Laurent, ragu-ragu melangkah. "Sebenarnya kedatanganku ke sini adalah untuk membantunya." Ia mengernyit. "Dia tidak akan senang kalau tahu hal ini."

"Tahu apa?" tanyaku bersemangat, mengundangnya untuk terus bicara. Laurent memandang garang ke arah pepohonan, jauh dariku. Aku memanfaatkan kelengahannya  itu dengan mundur satu langkah.

Laurent kembali memandangku dan tersenyum—ekspresinya membuatnya terlihat seperti malaikat berambut hitam.

"Kalau dia tahu aku membunuhmu," jawabnya sambil mendengkur merayu.

Aku terhuyung-huyung mundur. Geraman panik di kepalaku membuatnya semakin sulit didengar.

"Dia ingin melakukannya sendiri,” Laurent melanjutkan senang. "Dia agak... kesal denganmu. Bella."

"Aku?" pekikku.

Laurent menggeleng dan terkekeh. "Aku tahu, menurutku sepertinya itu juga agak sedikit bodoh. Tapi James pasangannya, dan Edward-mu membunuhnya."

Bahkan di sini, di ambang maut, namanya masih merobek lukaku yang masih basah bagaikan pisau bergerigi tajam.

Laurent tidak menyadari reaksiku. "Menurutnya lebih tepat membunuhmu daripada membunuh Edward—itu baru adil, pasangan untuk pasangan. Dia memintaku memetakan arah untuknya, katakanlah begitu. Tak kukira kau begitu mudah ditemukan. Jadi mungkin rencana Victoria tidak sempurna—ternyata kau bukanlah sasaran balas dendam seperti yang dia bayangkan, karena kau pasti tidak berarti banyak bagi Edward bila dia meninggalkanmu sendiri di sini tanpa perlindungan."
Pukulan lain, sayatan lain ke dadaku. Laurent bergerak sedikit, dan aku terseok mundur selangkah.

Kening Laurent berkerut. "Kurasa dia bakal marah, bagaimanapun juga."

“Kalau begitu mengapa tidak kautunggu saja dia?" bujukku dengan suara tercekik.

Seringaian licik membelah wajahnya. "Well, kau bertemu
  denganku di saat yang tidak tepat, Bella. Kedatanganku ke sini bukan untuk menjalankan misi Victoria—aku sedang berburu. Aku sangat haus, dan baumu... sungguh menerbitkan air liur."

Laurent menatapku dengan sikap setuju, seolaholah perkataan itu dimaksudkan sebagai pujian.

"Ancam dia," delusi indah itu memerintahkan, suaranya terdistorsi oleh kengerian.

"Dia pasti tahu kau yang melakukannya," bisikku, mematuhi perintah suara itu. "Kau tidak akan bisa lolos."

"Mengapa tidak?" Senyum Laurent melebar. Ia memandang ke sekeliling padang terbuka kecil yang dikitari pepohonan itu. "Baumu akan tersapu hujan berikutnya. Tak ada yang akan menemukan mayatmu—kau hanya akan dinyatakan hilang, seperti banyak, banyak sekali manusia lain. Tidak ada alasan bagi Edward untuk mengira itu perbuatanku, kalau dia cukup peduli untuk menyelidiki. Yakinlah, tidak ada masalah pribadi dalam hal ini, Bella. Hanya karena aku haus."

"Memohonlah," halusinasiku memohon.

"Please?” pintaku.

Laurent menggeleng, wajahnya ramah, "Anggap saja begini, Bella. Kau sangat beruntung karena akulah yang menemukanmu."

"Benarkah begitu?" tanyaku, mencuri kesempatan untuk mundur satu langkah lagi.

Laurent mengikuti, gesit dan anggun.

"Ya," ia meyakinkanku. "Aku akan sangat cepat. Kau tidak akan merasakan apa-apa, aku janji. Oh, aku akan berbohong pada Victoria mengenainya nanti, tentu saja, hanya untuk menenangkan hatinya. Tapi kalau kau tahu apa yang dia rencanakan untukmu, Bella..." Laurent menggeleng dengan gerak lamban, seakan-akan nyaris jijik. "Berani sumpah, kau pasti akan berterima kasih padaku untuk ini."  Kutatap ia dengan ngeri.

Laurent mengendusi angin yang menerbangkan helai-helai rambutku ke arahnya. "Menerbitkan air liur," ia mengulangi kata-katanya, menghirup dalam-dalam.

Tubuhku mengejang, bersiap lari, mataku menyipit saat aku mengkeret ngeri,dan raungan marah Edward bergema di kejauhan, di bagian belakang kepalaku. Namanya menembus semua dinding yang kubangun untuk menahannya. Edward, Edward, Edward. Aku akan mati. Tidak apa-apa bila aku memikirkan dia sekarang. Edward, aku cinta padamu.
Melalui mataku yang menyapit, kulihat Laurent berhenti mengendus udara dan memalingkan kepala secepat kilat ke kiri. Aku tak berani mengalihkan pandanganku darinya, mengikuti matanya meski ia tak perlu mengalihkan perhatian ataupun trik lain untuk mengalahkanku. Aku terlalu takjub untuk merasa lega ketika ia pelanpelan mulai mundur menjauhiku.

"Aku tak percaya," ucapnya, suaranya begitu pelan hingga aku nyaris tidak mendengarnya.

Barulah saat itu aku menoleh. Mataku menyapu padang rumput, mencari interupsi yang memperpanjang hidupku.

Awalnya aku tidak melihat apa-apa, dan mataku secepat kilat kembali ke Laurent. Ia mundur lebih cepat lagi sekarang, matanya menatap tajam ke dalam hutan.

Lalu aku melihatnya; sesosok makhluk hitam besar muncul dari sela-sela pepohonan, tenang seperti bayangan, dan berjalan mantap menghampiri si vampir. Tubuhnya besar sekali— setinggi kuda, tapi lebih gemuk, jauh lebih berotot. Moncongnya yang panjang meringis, memamerkan sederet taring setajam belati. Geraman liar meluncur dari sela-sela giginya, menggelegar melintasi ruang terbuka seperti suara petir menyambar.

Beruang itu. Hanya saja, ternyata hewan itu bukan  beruang. Namun tetap saja, pasti monster hitam raksasa inilah makhluk yang menggegerkan warga itu. Dari jauh orang akan mengira itu beruang. Hewan apa lagi yang badannya bisa sebesar dan sekekar itu?

Aku berharap akan beruntung dan bisa melihatnya dari jauh. Tapi yang terjadi malah hewan itu melangkah tanpa suara melintasi rerumputan, hanya tiga meter dari tempatku berdiri.

"Jangan bergerak sedikit pun," suara Edward berbisik

Kupandangi makhluk mengerikan itu, pikiranku kacau saat aku berusaha menemukan nama hewan itu. Bentuknya jelas mirip anjing, begitu juga caranya bergerak. Aku hanya bisa memikirkan satu kemungkinan, terpaku dalam kengerian yang amat sangat. Namun tak pernah terbayangkan olehku serigala bisa sebesar itu.

Lagi-lagi hewan itu menggeram, dan aku bergidik ngeri mendengarnya.
Laurent mundur ke pinggir pepohonan, dan, meski membeku ketakutan, pikiranku dilanda kebingungan. Mengapa Laurent mundur? Memang serigala itu sangat besar, tapi makhluk itu tetap hanya binatang. Mengapa vampir takut pada binatang? Dan Laurent sangat ketakutan. Matanya membelalak ngeri, sama seperti aku.

Seperti menjawab pertanyaanku, tiba-tiba saja serigala raksasa itu tidak sendirian. Mengapit di sisi kiri dan kanannya, ada dua hewan raksasa lain melenggang diam memasuki padang rumput. Yang satu berbulu abu-abu gelap, satunya lagi cokelat, namun keduanya tidak setinggi serigala pertama. Serigala abu-abu muncul dari balik pepohonan hanya beberapa meter dariku, matanya terpaku pada Laurent.

Belum lagi aku sempat bereaksi, dua serigala lain menyusul, membentuk huruf V, seperti kawanan burung yang bermigrasi ke selatan. Itu berarti monster cokelat kemerahan yang merangsck menembus semak belukar berada cukup dekat  denganku hingga aku bisa menyentuhnya.

Tanpa sengaja aku terkesiap dan melompat mundur – tindakan paling tolol yang bisa kulakukan. Lagi-lagi aku membeku, menunggu serigala-serigala itu berbalik menyerangku, mangsa yang lebih lemah. Sempat terlintas dalam benakku semoga Laurent segera beraksi dan melumat gerombolan serigala itu-itu mudah saja baginya. Kurasa di antara dua pilihan di depanku, di mangsa sekawanan serigala hampir bisa dibilang pilihan yang lebih buruk.

Serigala yang paling dekat denganku, yang berbulu cokelat kemerahan, memalingkan kepala sedikit begitu mendengarku terkesiap.

Mata serigala itu gelap, nyaris hitam. Hewan itu menatapku sepersekian detik, matanya yang gelap terkesan terlalu cerdas untuk hewan liar.

Sementara hewan itu memandangiku, mendadak aku teringat pada Jacob—lagi-lagi dengan perasaan bersyukur. Setidaknya aku datang ke sini sendirian, ke padang rumput negeri dongeng yang penuh monster-monster mengerikan ini. Setidaknya Jacob tidak akan ikut mati. Setidaknya aku tidak bertanggung jawab atas kematiannya.

Geraman rendah yang sekali lagi keluar dari moncong pemimpin gerombolan membuat serigala cokelat-merah itu memalingkan kepala secepat kilat, kembali kepada Laurent.

Laurent menatap gerombolan monster serigala itu dengan perasaan shock dan takut yang tak bisa ditutup-tutupi. Perasaan pertama bisa kupahami. Tapi aku terperangah waktu, tanpa aba-aba lebih dulu, ia berbalik dan menghilang di balik pepohonan.

Dia kabur.

Detik itu juga kawanan serigala itu langsung mengejarnya, berlari cepat melintasi padang rumput terbuka dengan langkah-langkah bertenaga, menggeram dan  mengatup-ngatupkan moncong dengan keras dan nyaring. Kedua tanganku serta-merta terangkat ke atas, secara naluriah menutup telinga. Suara itu menghilang dengan sangat cepat begitu gerombolan serigala lenyap di balik hutan.

Kemudian aku sendirian lagi.

Lututku terkulai, tak sanggup menopang berat tubuhku, dan aku terjatuh dengan posisi tangan bertumpu di tanah, isak tangis memenuhi kerongkonganku.

Aku tahu aku harus segera pergi, sekarang juga. Berapa lama serigala-serigala itu akan mengejar Laurent sebelum berbalik dan mengejarku? Atau akankah Laurent melawan mereka? Mungkinkah ia yang nanti akan kembali mencariku?

Awalnya aku tak bisa bergerak; lengan dan kakiku gemetaran, dan aku tak tahu bagaimana bisa kembali berdiri.

Pikiranku tak bisa menghalau ketakutan, kengerian, ataupun kebingungan yang kurasakan. Aku tidak memahami apa yang baru saja kusaksikan.

Vampir tak seharusnya kabur dari sekawanan anjing raksasa seperti itu. Apa gunanya gigi yang tajam dan kulit mereka yang sekeras granit?

Dan serigala-serigala seharusnya tidak mengganggu Laurent. Walaupun ukuran mereka yang luar biasa itu mengajar mereka untuk tidak takut pada apa pun, tetap saja tak masuk akal mengapa mereka mengejarnya. Aku ragu kulit Laurent yang sedingin marmer memancarkan bau yang menyerupai makanan. Mengapa mereka malah mengabaikan makhluk berdarah panas dan lemah seperti aku dan justru mengejar Laurent?

Aku tidak mengerti sama sekali.

Angin dingin menyapu padang rumput, mengayunkan rumput-rumput seolah ada sesuatu yang menggerakkannya.

Aku cepat-cepat berdiri, mundur walaupun angin menerpaku tanpa mencederai. Tersandungsandung panik, aku berbalik dan langsung lari menerobos pepohonan.

Beberapa jam berikutnya sungguh mengerikan. Butuh waktu tiga kali lebih lama untuk meloloskan diri dari pepohonan daripada untuk mencapai padang. Awalnya aku tidak memerhatikan ke mana aku melangkah, pikiranku hanya terfokus pada melarikan diri. Setelah cukup tenang untuk ingat bahwa aku punya kompas, aku sudah jauh di pelosok hutan yang asing dan menakutkan. Kedua tanganku gemetar sangat hebat sehingga aku harus meletakkan kompas di tanah berlumpur untuk bisa membacanya. Beberapa menit sekali aku harus berhenti untuk meletakkan kompas dan mengecek bahwa aku masih berjalan ke barat laut, mendengarkan—bila suara-suara itu tidak tersembunyi di balik langkah-langkah kakiku yang panik—bisikan pelan berbagai hal yang tak kelihatan di sela-sela dedaunan.

Pekikan burung jaybird membuatku terlompat ke belakang dan jatuh menimpa pohon cemara muda berdaun lebat. Akibatnya lenganku tergoresgores dan rambutku terbelit daun-daun cemara. Tupai yang mendadak berkelebat lewat membuatku menjerit begitu keras hingga menyakitkan bahkan telingaku sendiri.

Akhirnya pohon-pohon mulai renggang. Aku muncul dijalan kosong kira-kira satu setengah kilometer dari tempatku meninggalkan truk tadi. Meskipun didera kelelahan yang amat sangat, aku berlari-lari kecil menyusuri jalan sampai menemukan trukku. Sesampai di dalamnya tangisku kembali meledak. Kukunci pintu truk rapat-rapat sebelum merogoh kantong untuk mengeluarkan kuncinya. Raungan suara mesin terasa melegakan dan waras. Suara itu membantuku menahan air mata sementara aku memacu trukku secepatnya menuju jalan utama.

Sesampainya di rumah, kondisiku sudah lebih tenang, tapi masih kacau-balau. Mobil polisi Charlie sudah terparkir di

halaman—aku bahkan tidak menyadari hari sudah malam. Langit sudah menggelap.

"Bella?" seru Charlie begitu aku membanting pintu depan dan cepat-cepat memutar kunci.

"Yeah, ini aku." Suaraku lemah.

"Dari mana saja kau?" tanyanya menggelegar, muncul dari ambang pintu dapur dengan wajah garang.

Aku ragu-ragu. Ayahku mungkin sudah menelepon keluarga Stanley. Sebaiknya aku menceritakan hal yang sebenarnya saja.

"Aku pergi hiking," aku mengaku.

Mata Charlie kaku. "Mengapa tidak jadi pergi ke rumah Jessica?"

"Aku sedang malas belajar Kalkulus hari ini."

Charlie bersedekap. "Kan sudah kubilang untuk menjauhi hutan."

"Yeah, aku tahu. Jangan khawatir, aku tidak akan melakukannya lagi," Aku bergidik.

Sepertinya baru saat itulah Charlie benar-benar memerhatikan keadaanku. Aku ingat tadi aku sempat meringkuk di  tanah  hutan;  jadi  pastilah  keadaanku benar-benar berantakan.

"Apa yang terjadi?" desak Charlie.

Lagi, aku memutuskan mengatakan hal yang sebenarnya, setidaknya sebagian, adalah pilihan terbaik. Aku terlalu terguncang untuk berpurapura aku tadi menikmati hari yang tenang dengan flora dan fauna hutan.

"Aku melihat beruang itu." Aku berusaha mengatakannya dengan tenang, tapi suaraku tinggi dan gemetar. "Ternyata bukan beruang—tapi sejenis serigala. Dan jumlahnya ada lima. Ada yang berbulu hitam besar, abu-abu, cokelat kemerahan..."  Mata Charlie membelalak ngeri. Ia bergegas menghampiriku dan menyambar bagian atas lenganku.

“Kau tidak apa-apa?"

Kepalaku mengangguk-angguk lemah.

"Ceritakan padaku apa yang terjadi."

"Mereka tidak menggubrisku. Tapi setelah mereka pergi, aku lari dan terjatuh-jatuh."

Charlie melepaskan bahuku dan memelukku erat-erat. Selama beberapa saat ia tidak mengatakan apa-apa.

“Serigala," gumamnya. "Apa?"
"Menurut polisi hutan, jejak-jejaknya bukan jejak beruang— tapi serigala tidak sebesar itu..." "Mereka ini raksasa" "Berapa banyak katamu tadi?" “Lima.” Charlie menggeleng, keningnya berkerut cemas.
Akhirnya ia bicara dengan nada yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. "Tidak boleh hiking lagi." "Pasti," aku berjanji dengan patuh.

Charlie menelepon ke kantor untuk melaporkan apa yang kulihat. Aku berbohong sedikit saat mengatakan di mana persisnya aku melihat serigala-serigala itu—kubilang saja aku sedang menyusuri jalan setapak yang mengarah ke utara. Aku tak ingin ayahku tahu seberapa jauh aku telah masuk ke dalam hutan, melanggar larangannya, dan, yang lebih penting lagi, aku tidak mau orang lain berkeliaran di dekat tempat Laurent mungkin mencariku. Pikiran itu membuatku mual.

"Kau lapar?" tanya Charlie setelah menutup telepon.

Aku menggeleng, meskipun seharusnya perutku keroncongan. Aku belum makan seharian.

"Capek saja," jawabku. Aku berbalik menuju tangga.
  "Hei," seru Charlie, suaranya mendadak berubah curiga lagi. "Bukankah kau tadi bilang Jacob pergi seharian?"

"Kata Billy begitu," jawabku, bingung mendengar pertanyaannya.

Charlie mengamati ekspresiku sebentar, dan tampaknya puas dengan apa yang dilihatnya di sana.

"Hah."

"Kenapa?" tuntutku. Kedengarannya Charlie seolah menuduhku telah berbohong padanya tadi pagi. Mengenai hal lain selain belajar dengan Jessica.

"Well, hanya saja waktu aku menjemput Harry tadi, aku melihat Jacob di depan toko yang ada di sana bersama teman-temannya. Aku melambai menyapanya, tapi dia... Well aku tak yakin dia melihatku. Sepertinya dia sedang berdebat dengan teman-temannya. Dia tampak aneh, seperti kesal mengenai sesuatu. Dan... berbeda. Seolah-olah kau bisa melihat anak itu bertumbuh! Setiap kali melihatnya, sepertinya dia semakin bertambah besar."

"Kata Billy, Jake dan teman-temannya pergi ke Port Angeles untuk nonton film. Mungkin mereka sedang menunggu teman di sana."

"Oh." Charlie mengangguk dan berjalan ke dapur.

Aku berdiri di ruang depan, berpikir tentang Jacob yang berdebat dengan teman-temannya. Aku penasaran apakah ia mengonfrontir Embry rentang kedekatannya dengan Sam. Mungkin itulah sebabnya ia meninggalkanku hari ini—kalau itu berarti ia bisa menuntaskan masalahnya dengan Embry aku ikut senang.

Aku berhenti sebentar untuk memastikan pintu masih terkunci rapat sebelum masuk ke kamar. Tindakan konyol sebenarnya. Apa gunanya kunci bagi monster-monster yang  kulihat siang tadi? Asumsiku, gagang pintu saja sudah cukup untuk menghalangi masuknya serigala, karena mereka tidak memiliki ibu jari untuk memegang. Dan kalau Laurent datang ke sini...

Atau... Victoria.

Aku berbaring di tempat tidurku, tapi tubuhku bergetar begini hebat hingga aku susah tidur. Aku meringkuk rapat-rapat di bawah selimut, dan menghadapi fakta-fakta mengerikan.

Tidak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada pencegahan yang bisa kuambil. Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Tidak ada orang yang bisa menolongku.

Aku sadar, dengan perut melilit mual, bahwa situasinya sekarang lebih buruk daripada itu. Karena semua fakta itu juga mengacu pada Charlie. Ayahku, tidur di kamar yang bersebelahan dengan kamarku, hanya terpisah sedikit saja dari inti sasaran yang terpusat padaku. Bau tubuhku akan menggiring mereka ke sini, tak peduli aku ada di sini atau tidak.

Tremor itu mengguncang-guncang tubuhku sampai gigi-gigiku gemeletukan.

Untuk menenangkan diri aku membayangkan hal yang tidak mungkin: aku membayangkan serigala-serigala besar itu berhasil menangkap Laurent di hutan dan membantai makhluk yang tidak bisa mati dan tidak bisa dihancurkan itu, seperti mereka memangsa habis manusia normal lainnya. Meski absurd, bayangan itu membuatku tenang. Kalau serigala-serigala itu berhasil menangkapnya, ia tidak bisa mengatakan pada Victoria bahwa aku sendirian di sini. Bila ia tidak kembali, mungkin Victoria mengira keluarga Cullen masih melindungiku. Seandainya kawanan serigala itu bisa memenangkan pertarungan...

Vampir-vampir baikku takkan pernah kembali; betapa
  melegakan membayangkan vampir jenis lain juga bisa menghilang.

Kupejamkan mataku rapat-rapat dan menunggu datangnya ketidaksadaran—hampir tidak sabar lagi menunggu mimpi burukku dimulai. Lebih baik bermimpi buruk daripada melihat seraut wajah tampan yang pucat tersenyum padaku sekarang dari balik kelopak mataku.

Dalam imajinasiku, mata Victoria hitam oleh dahaga, cemerlang oleh antisipasi, dan bibirnya menekuk, menampilkan gigi-giginya yang berkilau dalam kegembiraan. Rambut merahnya terang laksana api; berkibar-kibar kusut mengitari wajahnya yang liar.

Kata-kata Laurent tadi terngiang-ngiang dalam benakku. Kalau kau tahu apa yang dia rencanakan untukmu...

Aku menempelkan tinjuku kuat-kuat ke mulut agar tidak menjerit.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊