menu

Eclipse Bab 25 Cermin

Mode Malam
Bab 25 Cermin

KUPAKSA mataku yang membeku dalam keadaan membelalak saking syoknya – bergerak, sehingga aku tak lagi bisa melihat benda oval yang terbungkus balutan rambut berwarna terang itu menggeletar.

Edward kembali bergerak. Dengan gerakan cepat dan tenang, ia memisah-misahkan mayat tanpa kepala itu.
Aku tak sanggup mendekatinya – aku tak mampu membuat kakiku bergerak; keduanya terpaku ke batu di bawahnya. Tapi aku mengawasi setiap tindakannya dengan saksama, mencari bukti apakah ia terluka. Debar jantungku melambat ke irama yang lebih normal setelah tidak menemukan tanda-tanda cedera sedikit pun. Ia tetap setangkas dan seanggun biasanya. Aku bahkan tidak melihat robekan sedikit pun di bajunya.

Edward tidak menatapku, di tempat aku berdiri kaku di dinding tebing, ngeri, sementara ia menumpuk potongan kaki dan badan yang masih menggeletar dan berkedut-kedut itu, kemudian menutupinya dengan daun-daun pinus kering.
Ia masih tidak mau membalas tatapanku yang syok sementara ia berlari memasuki hutan menyusul Seth.
Aku belum pulih sepenuhnya dari keterkejutan saat ia dan Seth kembali, Edward membawa Riley dalam dekapannya. Seth membawa potongan yang besar – badan Riley – dengan mulut. Mereka menaruh bawaan mereka ke onggokan yang sudah ada, dan Edward mengeluarkan benda segi empat perak dari saku bajunya. Dibukanya tutup korek butan itu dan disulutnya sebarang ranting kering. Api langsung menyala, lidah apinya yang berwarna jingga dengan cepat menjilat onggokan. "Ambil semua potongan,” kata Edward dengan suara pelan kepada Seth.

Bersama-sama, vampir dan werewolf menyusuri kawasan perkemahan, sesekali melempar onggokan kecil batu putih ke kobaran api. Seth     membawa potongan-potongan itu     dengan moncongnya. Otakku tidak bekerja cukup baik untuk memahami mengapa        ia        tidak mengubah diri untuk        membawa potongan-potongan itu dengan tangannya.

Edward tetap berkonsentrasi pada pekerjaannya.

Kemudian selesailah semuanya, dan api yang berkobar mengirimkan asap ungu menyesakkan ke langit. Asap tebal bergulung-gulung lambat, tampak lebih padat daripada seharusnya; baunya seperti dupa yang terbakar, dan aromanya sangat tidak enak. Berat, terlalu menyengat.

Seth mengeluarkan suara seperti tertawa mengejek lagi, jauh di dalam dadanya.

Senyum berkelebat di wajah Edward yang tegang.

Edward mengulurkan tangan – telapak tangannya mengepal. Seth menyeringai, memamerkan sederet gigi

panjang-panjang dan tajam, lalu menyundulkan hidungnya ke tangan Edward.

"Kerja tim yang bagus," gumam Edward.

Seth menggonggong tertawa.

Kemudian Edward menghela napas dalam-dalam, dan berbalik perlahan-lahan untuk menghadapku.

Aku tidak memahami ekspresinya. Sorot matanya sinis seolah-olah aku musuh lain, lebih dari sinis; takut. Padahal ia tadi tidak menunjukkan ketakutan sama sekali saat menghadapi Victoria dan Riley... Pikiranku buntu, terperangah dan tak berdaya, seperti tubuhku. Kupandangi dia, bingung. "Bella sayang,” ujarnya dengan nada paling lembut berjalan menghampiriku dengan kelambanan dilebihlebihkan. Kedua tangan terangkat, telapak tangan menghadap ke depan Meski bingung, sikap Edward itu anehnya membuatku teringat tersangka yang mendekati polisi, menunjukkan dirinya tidak bersenjata...

"Bella, bisa tolong jatuhkan batu itu, please? Hati-hati. Jangan lukai dirimu sendiri."

Aku sudah lupa sama sekali pada senjataku, walaupun sekarang aku sadar telah menggenggamnya kuat sekali sampai-sampai buku jariku menjerit protes. Apakah buku jariku patah lagi, Carlisle jelas akan menggipsku kali ini.

Beberapa meter dariku, Edward ragu-ragu, kedua tangannya masih terangkat, matanya masih memancarkan sorot takut.

Baru beberapa detik kemudian aku ingat bagaimana caranya menggerakkan jari-jariku. Kemudian batu itu jatuh

berkeletak ke tanah, sementara tanganku tetap membeku dalam posisi yang sama.
Edward sedikit lebih rileks setelah tanganku kosong, tapi tak juga mendekat.

"Kau tidak perlu takut, Bella,” bisik Edward. "Kau aman. Aku tidak akan menyakitimu."

Janji membingungkan itu malah semakin membuatku bingung. Kupandangi ia seperti anak imbesil, berusaha memahami.

"Semua baik-baik saja Bella. Aku tahu sekarang kau ketakutan,tapi     semua     sudah berakhir. Tidak ada yang     akan menyakitimu.     Aku takkan     menyentuhmu.     Aku     tidak     akan menyakitimu,” ucapnya lagi.

Mataku mengerjap-ngerjap hebat, dan akhirnya aku bisa bicara juga. "Kenapa kau bicara begitu terus?"

Aku maju selangkah menghampirinya, tapi Edward malah menjauhiku.

"Ada apa?" bisikku. "Apa maksudmu?"

"Apa kau..." Mata keemasan Edward tiba-tiba sama bingungnya dengan aku. "apa kau tidak takut padaku?"

"Takut padamu? Kenapa?"

Aku maju selangkah lagi dengan kaki goyah, kemudian tersandung sesuatu, mungkin kakiku sendiri. Edward menangkap tubuhku, dan aku menyembunyikan wajahku di dadanya lalu mulai tersedu.

"Bella, Bella, maafkan aku. Semua sudah berakhir, sudah berakhir."

"Aku baik-baik saja," aku terkesiap. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya. Kalut. Beri aku waktu sebentar."

Kedua lengan Edward memelukku erat. "Aku benarbenar minta maaf,” gumamnya berkali-kali.

Aku terus memeluknya sampai akhirnya bisa bernapas, kemudian aku menciumnya, dadanya, bahunya, lehernya, setiap bagian dirinya yang bisa kuraih. Perlahan-lahan, otakku mulai bekerja lagi.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku di sela-sela ciumanku. "Apakah dia melukaimu?"

"Aku benar-benar tidak apa-apa,” Edward meyakinkanku, membenamkan wajahnya di rambutku.

“Seth?”

Edward terkekeh. "Lebih dari baik-baik saja. Sangat bangga pada dirinya sendiri bahkan."

"Yang lain-lain? Alice. Esme? Serigala-serigala?"

"Semuanya baik-baik saja. Di sana juga sudah selesai. Semua berjalan lancar seperti yang kujanjikan. Bagian terburuk justru terjadi di sini."

Sesaat aku membiarkan diriku mencerna keterangan itu, membiarkan otakku menyerapnya hingga berdiam di kepalaku.

Keluarga dan teman-temanku aman. Victoria takkan pernah memburuku lagi. Semua telah berakhir.

Kami semua akan baik-baik saja.

Tapi aku tak sepenuhnya mampu menyerap kabar baik itu saat sedang bingung seperti ini.

"Katakan padaku kenapa,” desakku. "Kenapa kau kira aku akan takut padamu!'

"Maafkan aku,” kata Edward, lagi-lagi meminta maaf – untuk apa? Aku tidak mengerti. "Maafkan aku. Aku tidak mau kau melihat itu tadi. Melihatku dalam keadaan seperti tadi. Aku tahu aku pasti membuatmu takut."

Aku harus memikirkan perkataannya itu sebentar, bagaimana ia tadi ragu-ragu mendekatiku, kedua tangan terangkat. Seolah-olah aku bakal lari bila ia bergerak terlalu cepat...
"Kau serius?" tanyaku akhirnya. "Kau... apa? Kaukira kau membuatku takut sehingga aku bakal lari?" dengusku. Mendengus itu bagus; suara tidak bisa bergetar atau pecah saat mendengus. Kedengarannya lumayan tak peduli.

Edward memegang daguku dan mengangkat kepalaku untuk membaca ekspresiku.

"Bella, aku hanya.” Edward ragu-ragu, kemudian memaksakan perkataan itu keluar dari mulutnya. “aku baru saja memenggal dan mencabik-cabik tubuh makhluk hidup hanya dalam jarak delapan belas meter darimu. Itu tidak membuatmu merasa terganggu?"

Edward mengerutkan kening padaku.

Aku mengangkat bahu. Mengangkat bahu juga bagus. Sangat bosan kelihatannya. "Tidak juga. Aku hanya takut kau dan Seth bakal terluka. Aku ingin membantu, tapi tidak banyak yang bisa kulakukan.."

Ekspresi Edward yang tiba-tiba marah membuat suaraku menghilang.

"Ya." sergahnya, nadanya ketus. "Aksimu dengan batu itu. Kau tahu kau nyaris membuatku terkena serangan jantung? Padahal bagiku bukan perkara mudah untuk terkena serangan jantung."

Tatapan Edward membuatku sulit menjawabnya.

''Aku ingin membantu... Seth terluka.."

"Seth hanya pura-pura terluka Bella. Itu tipuan. Tapi lalu kau..!" Ia menggeleng-gelengkan kepala, tak mampu menyelesaikan kalimatnya. "Seth tidak bisa melihat apa yang kau lakukan. Jadi aku harus turun tangan. Seth agak kesal karena tidak bisa mengklaim kemenangan ini sebagai usahanya sendiri."

"Jadi Seth hanya... pura-pura?"

Edward mengangguk dengan tegas.

"Oh."

Kami memandangi Seth,yang mengabaikan kami dan memandangi kobaran api. Perasaan puas terpancar dari setiap helai bulunya.

"Well, aku kan tidak tahu.” tukasku,merasa kesal sekarang. "Lagi pula, tidak mudah menjadi satu-satunya pihak yang tidak berdaya di sini. Tunggu saja sampai aku menjadi vampire nanti! Aku tidak akan duduk-duduk bengong lagi lain kali."

Emosi campur aduk melintas di wajah Edward sebelum akhirnya menunjukkan sikap geli. "Lain kali? memangnya kau mengantisipasi perang lagi?"

"Dengan kesialanku? Siapa tahu?"

Edward memutar bola matanya. tapi bisa kulihat ia gembira, kelegaan membuat kepala kami ringan. Semua sudah berakhir.

Atau... benarkah begitu?

"Tunggu dulu. Bukankah kau mengatakan sesuatu sebelumnya..?" Aku tersentak. teringat persis bagaimana kejadiannya tadi, apa yang akan kukatakan pada Jacob nanti? Hatiku yang terpecah berdenyut-denyut sakit. Sulit dipercaya, nyaris mustahil, tapi bagian terberat hari ini belum berakhir bagiku, kemudian aku menguatkan diri. "Tentang masalah tadi. Dan Alice, yang harus memberikan perkiraan waktu yang tepat kepada Sam. Katamu waktunya bakal berdekatan. Apanya yang berdekatan?"

Mata Edward kembali melirik Seth, dan mereka berpandangan.

"Well?" tanyaku.

“Tidak ada apa-apa, sungguh.” Edward buru-buru menjawab. "Tapi kita benar-benar harus segera berangkat....."

Ia mulai menarik untuk menaikkanku ke punggungnya, tapi aku mengejang dan menolak.

"Jelaskan maksudmu."

Edward merengkuh wajahku dengan kedua tangannya.

"Waktu kita sangat sedikit, jadi jangan panik, oke? Sudah ku bilang tak ada alasan untuk takut. Percayalah padaku, please?"

Aku mengangguk, berusaha menyembunyikan kengerian yang mendadak muncul, sebanyak apa lagi yang bisa kutanggung tanpa membuat ku pingsan? "Tidak ada alasan untuk takut. Baiklah."

Edward mengerucutkan bibir sejenak, memutuskan apa yang harus disampaikan. Kemudian ia melirik Seth sekilas, seolah-olah serigala itu memanggilnya.

"Apa yang dia lakukan?" tanya Edward.

Seth mendengking; nadanya gugup dan cemas. Membuat bulu kudukku meremang. Semuanya sunyi selama sedetik yang terasa sangat panjang.

Kemudian Edward terkesiap. "Tidak!"dan sebelah tangannya melayang seolah ingin menyambar sesuatu yang tidak bisa kulihat. "Jangan...!"

Entakan mengguncang tubuh Seth, dan lolongan panjang yang memilukan mengoyak paru-parunya.
Pada saat bersamaan Edward jatuh berlutut, mencengkeram kedua sisi kepala dengan dua tangan, wajahnya mengernyit sakit.
Aku menjerit, hatiku disergap perasaan takut,lalu jatuh berlutut di sampingnya. Bodohnya, aku berusaha menarik tangan Edward yang menutupi wajah, telapak tanganku yang basah oleh keringat, menggelincir di kulitnya yang licin bagaikan marmer.

"Edward! Edward!"

Mata Edward terfokus padaku, setelah mengerahkan segenap daya, akhirnya ia juga bisa membuka mulut.

"Tidak apa-apa. Kita akan baik-baik saja. Itu.." Ia terdiam dan kembali meringis.
"Apa yang terjadi?" pekikku saat Seth melolong karena penderitaan yang dalam.

"Semua beres. Kita akan baik-baik saja," sergah Edward.

"Sam.. bantu dia.."

Dan detik itulah aku menyadari, ketika Edward menyebut nama Sam, bahwa bukan ia atau Seth yang dimaksudkannya. Tak ada kekuatan tak kasatmata yang menyerang mereka. Kali ini krisis itu tidak terjadi di sini.

Ia menggunakan kata ganti orang ketiga jamak untuk menyebut kawanan serigala itu.

Adrenalinku sudah terkuras habis. Tak ada lagi yang tersisa. Aku merosot lemas, dan Edward menangkapku sebelum tubuhku membentur bebatuan. Ia melesat berdiri, aku berada dalam dekapannya.

"Seth!" teriak Edward.

Seth masih membungkuk, tubuhnya masih mengejang sedih, terlihat seperti hendak menerjang masuk ke hutan.

"Tidak!" Edward memerintahkan. "kau harus langsung pulang. Sekarang. Secepat kau bisa!"

Seth mendengking-dengking, menggelengkan kepalanya yang besar.

"Seth, percayalah padaku."

Serigala besar itu menatap mata Edward yang sedih selama satu detik yang panjang, kemudian meluruskan tubuhnya dan melesat memasuki pepohonan, lenyap seperti hantu.

Edward mendekapku erat-erat di dadanya, kemudian kami juga meleset menembus hutan yang dipenuhi bayangbayang mengambil jalan yang berbeda dengan si serigala.

"Edward." Susah payah kukeluarkan suara dari tenggorokanku yang tercekat. "Apa yang terjadi Edward? Apa yang terjadi pada Sam? Kita mau ke mana? apa yang terjadi?"

"Kita harus kembali ke lapangan,” jawab Edward dengan suara pelan. “Kami sudah tahu besar kemungkinan ini bakal terjadi. Pagi-pagi sekali tadi, Alice melihatnya dan menyampaikannya melalui Sam kepada Seth. Keluarga Volturi memutuskan sekaranglah waktunya untuk turun tangan."

Keluarga Volturi.

Terlalu banyak. Pikiranku menolak mencerna keterangan itu, pura-pura tidak bisa mengerti.

Pohon-pohon melesat melewati kami. Begitu cepatnya Edward berlari menuruni bukit hingga rasanya seolah-olah kami terjun bebas, jatuh tak terkendali.

"Jangan panik. Mereka bukan datang untuk mencari kita. Hanya kontingen normal yang terdiri atas para pengawal yang biasa membersihkan kekacauan seperti ini. Bukan sesuatu di luar kewajaran, mereka hanya melaksanakan tugas. Tentu saja, sepertinya mereka begitu     cermat memilih     waktu kedatangan.     Dan     itu membuatku yakin bahwa tak seorang pun di Italia akan berduka cita bila para vampire baru itu berhasil mengurangi jumlah keluarga Cullen." Kata-kata itu meluncur dari sela-sela rahang Edward yang terkatup rapat, keras dan muram. "Aku akan mengetahui secara persis apa yang mereka pikirkan kalau mereka sudah sampai di lapangan nanti."

"Karena itukah kita kembali?" bisikku. Sanggupkah aku menghadapi hal ini? Bayangan jubah hitam berkibar-kibar merayap masuk ke otakku yang tak ingin mengingat mereka, dan aku tersentak, menepis pikiran itu jauh-jauh. Pertahanan diriku nyaris jebol.

"Itu sebagian alasannya. Kebanyakan, akan lebih aman jika kita bersatu menyambut kedatangan mereka saat ini. Mereka tidak punya alasan untuk mengusik kita, tapi...ada Jane bersama mereka. Kalau dia tahu kita sendirian di suatu tempat, jauh dari yang lain, bisa-bisa itu akan membuatnya tergoda. Seperti Victoria, Jane mungkin bisa menebak aku pasti bersamamu. Demetri, tentu saja, pasti bersamanya. Kalau Jane memintanya."

Aku tak ingin memikirkan nama itu. Aku tidak mengingat wajah polos kekanakan yang rupawan itu dibenakku. Suara aneh keluar dan kerongkonganku.
"Ssstt, Bella. ssstt. Semua akan baik-baik saja. Alice bisa melihat kalau semua akan baik-baik saja."

Alice bisa melihatnya? "Tapi... kalau begitu di mana serigala-serigala? Di mana kawanan itu?” "Kawanan?"

"Mereka harus buru-buru menyingkir. Keluarga Volturi tidak suka bila kita melakukan gencatan senjata dengan werewolf."

Bisa kudengar napasku memburu semakin cepat. tapi aku tak kuasa mengendalikannya. Aku mulai terengahengah.

"Aku bersumpah, mereka akan baik-baik saja.” Edward berjanji. "Keluarga Volturi tidak akan mengenali baunya, mereka tidak akan menyadari tadi ada serigala di sini, mereka tidak familier dengan spesies ini. Mereka akan baikbaik saja."

Aku tidak bisa memproses penjelasannya. Konsentrasiku tercabik-cabik perasaan takut. Kita akan baik-baik saja. begitu katanya tadi... dan Serth, melolong sedih... Edward menghindari pertanyaan pertamaku, mengalihkan perhatianku ke keluarga Volturi...

Aku sudah dekat sekali dengan tepian tebing, hanya mencengkeram dengan ujung-ujung jemariku.

Pohon-pohon melesat lewat begitu cepat dan kabur hingga Edward tampak seperti dikelilingi air berwarna hijau zambrud.
"Apa yang terjadi?" Bisikku lagi. "Sebelumnya. Waktu Seth melolong? Waktu kau kesakitan?"

Edward ragu-ragu.

"Edward! Ceritakan padaku!"

"Semuanya sudah berakhir,” bisik Edward. Aku nyaris tak bisa mendengar suaranya karena desir angin yang diakibatkan larinya yang begitu cepat. "serigala-serigala itu tidak menghitung jumlah musuh mereka...mereka menyangka semua sudah dihabisi. Tentu saja, Alice tak bisa melihat.."

"Apa yang terjadi?”

"Salah satu vampire baru ada yang bersembunyi... Leah menemukannya.. dia melakukan tindakan bodoh, berlagak bisa, ingin membuktikan sesuatu. Dia menghadapi vampire itu sendirian.." "Leah,” ulangku, dan aku kelewat lemah untuk merasa malu atas perasaan lega yang membanjiriku. "Apakah dia akan baik-baik saja?"

"Leah tidak terluka,” gumam Edward.

Kupandangi dia selama satu detik yang panjang.

Sam... bantu dia...Edward tadi terkesiap. Dia laki-laki, bukan perempuan.

"Kita sudah hampir sampai,” kata Edward, matanya menatap lurus ke satu titik di langit.

Otomatis, mataku mengikutinya. Tampak gumpalan awan ungu menggelayut rendah di atas pepohonan. Awan? Padahal, di luar kebiasaan, hari ini justru terik sekali... Tidak, bukan awan, aku mengenali kepulan asap tebal, persis seperti yang ada di perkemahan tadi.

"Edward,” kataku, suaraku nyaris tak terdengar. "Edward, ada yang terluka."

Soalnya aku mendengar nada pilu dalam lolongan Seth, melihat kengerian yang terpancar dari wajah Edward.

"Ya" bisiknya.

"Siapa?" tanyaku walaupun tentu saja, aku sudah tahu jawabannya.

Tentu saja aku tahu. Tentu saja.

Pohon-pohon melambat di sekeliling kami ketika kami sampai ke tujuan.

Lama sekali baru Edward menjawab pertanyaanku.

"Jacob,” jawabnya.

Aku masih mampu mengangguk satu kaki.

"Tentu saja,” bisikku. Kemudian pegangan tanganku terlepas dari bibir tebing dalam benakku.

Semuanya berubah gelap gulita.

Pertama-tama aku sadar ada tangan-tangan dingin yang menyentuhku. Lebih dari satu pasang. Lengan-lengan memelukku, telapak tangan merengkuh pipiku, jari-jari membelai keningku, dan jari-jari lagi menekan pelan pergelangan tanganku.

Berikutnya aku mendengar suara-suara. Awalnya hanya berupa gumaman, kemudian volumenya semakin keras dan jelas, seperti orang yang menyalakan radio.

"Carlisle... sudah lima menit.” Suara Edward, nadanya cemas.

"Dia akan siuman kalau sudah siap, Edward." Suara Carlisle, selalu tenang dan yakin. "Terlalu banyak yang dialaminya hari ini. Biarkan pikirannya melindungi dirinya sendiri."

Tapi pikiranku tidak terlindungi. Pikiranku terperangkap dalam pengetahuan yang tidak meninggalkanku, bahkan dalam ketidaksadaran sekalipun... kepedihan yang merupakan bagian dari ketidaksadaran.

Aku merasa seperti tidak terhubung dengan ragaku. Seakan-akan terperangkap di sudut kecil dalam kepalaku,tak lagi bisa mengendalikan apa pun. Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya. Aku tidak bisa berpikir. Kepedihan itu terlalu kuat hingga aku tidak bisa berpikir. Aku tidak bisa meloloskan diri darinya.

Jacob.

Jacob.

Tidak,tidak,tidak,tidak,tidak...

"Alice, berapa lama waktu yang kita punya?" tanya Edward, suaranya masih tegang, kata-kata Carlisle yang bernada menenangkan ternyata tidak membantu. Dari tempat yang agak jauh, terdengar suara Alice. Nadanya riang gembira. "Lima menit lagi. Dan Bella akan membuka matanya tiga puluh tujuh detik lagi. Aku bahkan yakin dia bisa mendengar kita sekarang."

"Bella Sayang?" Itu suara Esme yang lembut dan menenteramkan. "Kau bisa mendengar suaraku? Kau aman sekarang sayang."

Ya, aku memang aman. Apakah itu benar-benar berarti?

Kemudian bibir yang dingin menempel di telingaku, dan Edward mengizinkanku keluar dari siksaan yang mengurung ku dalam benakku sendiri.

"Dia akan selamat Bella, saat ini Jacob Black memulihkan diri dari luka-lukanya. Dia akan baik-baik saja.”

Ketika kepedihan dan ketakutan itu mereda, aku menemukan kembali ke tubuhku. Kelopak mataku mengeletar.

"Oh, Bella,” Edward mendesah lega, dan bibirnya menyentuh bibirku.
"Edward.” bisikku.

"Ya, aku di sini."

Aku membuka kelopak mataku, dan menatap sepasang bola emas yang hangat.

"Jacob tidak apa-apa?"tanyaku.

"Ya.” Janjinya.

Kupandangi matanya lekat-lekat untuk mencari tandatanda bahwa ia hanya berusaha menenangkanku. Tapi tak menemukan apa-apa.

"Aku sendiri yang memeriksanya.” kata Carlisle kemudian, aku memalingkan kepala mencari wajahnya, hanya beberapa meter jauhnya. Ekspresi Carlisle serius sekaligus meyakinkan mustahil meragukannya. "Nyawanya tidak dalam bahaya. Dia pulih dengan kecepatan luar biasa, walaupun cedera yang dialaminya cukup parah sehingga dibutuhkan beberapa hari baru dia bisa kembali normal, walaupun pemulihannya tetap secepat sekarang. Sam sedang berusaha membuatnya mengubah diri lagi menjadi manusia. Dengan begitu akan lebih mudah mengobatinya."
Carlisle tersenyum kecil. "Aku kan tidak pernah masuk fakultas kedokteran hewan."
"Apa yang terjadi padanya?" bisikku. "Seberapa parah luka-lukanya?"

Wajah Carlisle kembali serius "Serigala lain menghadapi masalah.."

"Leah....” desahku.

"Benar. Jacob berhasil menyingkirkan Leah, tapi tidak sempat membela dirinya. Vampire baru itu memitingnya sebagian besar tulang di sisi kanan tubuhnya remuk."

"Sam dan Paul sampai di sana tepat waktu. Jacob sudah mulai pulih kembali waktu mereka membawanya kembah ke La Push."

"Dia akan normal kembali?" tanyaku.

"Ya Bella, dia tidak akan mengalami cacat permanen."

Aku menghela napas dalam-dalam.

"Tiga menit!" seru Alice pelan.

Aku bangkit dengan susah payah, berusaha berdiri. Edward mengerti maksudku dan membantuku berdiri.

Kutatap pemandangan di depanku.

Keluarga Cullen berdiri membentuk setengah lingkaran mengelilingi api unggun. Hampir tak ada lagi nyala api yang terlihat, hanya kepulan asap hitam keunguan yang tebal, menggelayut seperti penyakit di rumput yang cemerlang. Jasper berdiri paling dekat dengan asap yang terkesan padat itu, di bawah bayang-bayang sehingga kulitnya tidak berkilau gemerlapan di bawah terik matahari seperti anggota keluarganya yang lain. Ia berdiri memunggungiku, pundaknya tegang, kedua lengan sedikit terulur. Terasa ada sesuatu yang tidak biasa di sana, pada bayangannya. Ia seperti membungkuk dengan sikap waswas...
Aku terlalu kebas untuk merasakan lebih dari syok ringan waktu menyadari masalahnya.
Ternyata ada delapan vampir di lapangan itu. Gadis itu duduk meringkuk di sebelah api unggun, kedua lengannya memeluk kaki. Ia masih sangat muda. Lebih muda dariku – mungkin usianya lima belas tahun, berambut gelap, dan kurus. Matanya tertuju padaku, dan iris matanya, sungguh mengagetkan, berwarna merah cemerlang. Lebih cemerlang daripada mata Riley, nyaris berkilauan. Mata itu jelalatan ke mana-mana, tak terkendali.

Edward melihat ekspresiku yang kebingungan.

"Dia menyerah,” Edward menjelaskan dengan suara pelan. "Yang seperti itu belum pernah kulihat sebelumnya. Hanya Carlisle yang terpikir untuk menawarinya. Jasper sebenarnya tidak setuju."

Aku tak sanggup mengalihkan mataku dari pemandangan di sebelah api unggun. Tampak Jasper mengusap-usap lengan kirinya dengan sikap tak peduli.

"Jasper baik-baik saja?" bisikku.

"Dia tidak apa-apa. Racunnya pedih."

"Dia digigit?" tanyaku, ngeri.

"Dia berusaha menangani semuanya pada saat bersamaan. Berusaha memastikan Alice tidak melakukan apa-apa, sebenarnya," Edward menggeleng-gelengkan kepala. "Padahal Alice tidak butuh bantuan siapa-siapa."

Alice meringis ke arah cinta sejatinya. "Si bodoh yang kelewat protektif."

Si wanita muda itu tiba-tiba mengedikkan kepalanya. Seperti binatang dan meraung dengan suara melengking.

Jasper menggeram padanya dan ia mengkeret, tapi jarijarinya menusuk ke dalam tanah seperti cakar dan kepalanya bergoyang-goyang ke     depan     dan ke     belakang dengan sikap menderita. Jasper maju selangkah menghampirinya, membungkuk semakin dalam. Edward maju dengan sikap sok tenang, membalikkan tubuh kami sehingga ia sekarang berada di antara gadis itu dan aku. Aku mengintip dari balik lengan Edward untuk melihat Jasper dan gadis yang mencakar-cakar itu.

Dalam sekejap Carlisle sudah berada di samping Jasper. Ia meletakkan tangan di bahu putranya, menahannya.

"Kau berubah pikiran, anak muda?" tanya Carlisle, tetap setenang biasanya. "kami tidak ingin menghabisimu, tapi kami akan melakukannya kalau kau tak bisa mengendalikan diri."

"Bagaimana kalian bisa tahan?" erang gadis itu dengan suara jernih melengking. “aku menginginkan dia.” matanya yang merah cemerlang terfokus kepada Edward, melewatinya, memandang ke balik tubuhnya padaku, dan kuku-kuku gadis itu kembali mencakar-cakar tanah yang keras lagi.

"kau harus bisa tahan.” tukas Carlisle, suaranya berat. "kau harus bisa mengendalikan diri. Itu bisa dilakukan, dan hanya itu yang bisa menyelamatkanmu sekarang."

Gadis itu mencengkeram tangannya yang berlumuran tanah ke kepalanya, melolong pelan.

"Tidakkah sebaiknya kita menjauh darinya?" aku berbisik, menarik-narik lengan Edward. Gadis itu menyeringai, memamerkan gigi-giginya begitu mendengar suaraku, ekspresinya tersiksa.

"Kita harus tetap di sini.” gumam Edward. “Mereka sudah sampai di ujung utara lapangan sekarang." Jantungku langsung berpacu liar saat aku menyapukan pandanganku ke seantero lapangan, tapi aku tidak bisa melihat hal lain selain kepulan asap tebal.

Sedetik setelah pencarianku yang tidak membuahkan hasil mataku kembali melirik vampire perempuan muda itu. Ia masih terus menatapku, matanya setengah sinting.
Kubalas tatapan gadis itu beberapa saat. Rambut gelap sedagu membingkai wajahnya yang pucat pasi seperti mayat. Sulit menilai apakah ia cantik, karena wajahnya berkerut-kerut menahan amarah dan dahaga. Mata merahnya yang buas mendominasi, sulit mengalihkan pandangan darinya. Ia memelototiku dengan buas, menggeletar, dan terus menggeliat-geliat.

Kupandangi dia, takjub. bertanya-tanya dalam hati apakah aku sedang melihat bayangan diriku sendiri di cermin pada masa yang akan datang.

Kemudian Carlisle dan Jasper mulai mundur menghampiri kami. Emmett, Rosalie, dan Esme buru-buru berkumpul mengelilingi tempat Edward berdiri bersama aku dan Alice. Bersatu padu, seperti kata Edward tadi, dan berada di tengah-tengahnya, adalah tempat teraman bagiku.

Aku mengalihkan pandangan dari gadis buas itu untuk melihat kedatangan para monster.

Tidak terlihat apa-apa. Kulirik Edward, tapi matanya terpancang lurus ke depan. Aku mencoba mengikuti Pandangannya, tapi yang ada hanya asap, kepulan asap pekat berminyak yang meliuk-liuk rendah di tanah, membumbung pelan, ombak-ombak di rerumputan.

Asap itu menggelembung ke depan, berwarna lebih gelap di bagian tengah.
"Hmm.” sebuah suara menyeramkan bergumam dari balik kabut. Aku langsung mengenali nada apatis dalam suara itu.

"Selamat datang, Jane.” Nada Edward sopan namun dingin. Bentuk-bentuk gelap itu semakin mendekat, memisahkan diri dan kabut asap, semaki n memadat. Aku tahu pasti Jane yang berada paling depan, jubah yang paling gelap, nyaris hitam, dan sosok yang paling kecil, setengah meter lebih pendek dibanding yang lain-lain. Aku nyaris bisa melihat garis-garis wajah Jane yang seperti malaikat di balik bayangan jubah.
Rasanya aku juga mengenali empat sosok berselubung jubah abu-abu yang melangkah garang di belakangnya. Aku yakin aku mengenali sosok yang paling besar, dan selagi aku menatap, berusaha mengonfirmasi kecurigaan ku, Felix menengadah. Ia membiarkan tudungnya tersingkap sedikit hingga bisa kulihat ia mengedip padaku dan tersenyum. Edward berdiri di sampingku, berusaha keras mengendalikan diri.

Mata Jane bergerak lambat mengamati wajah-wajah anggota keluarga Cullen yang berkilauan, kemudian tertumbuk pada si gadis vampire baru di sebelah api unggun, si vampire baru memegang kepalanya dengan dua tangan.
"Aku tidak mengerti,” suara Jane datar, tapi tak lagi terdengar tidak tertarik sebelumnya.

"Dia sudah menyerah,” Edward menjelaskan, menjawab pertanyaan di benak Jane.

Bola mata Jane yang gelap berkelebat ke wajah Edward.

"Menyerah?"

Felix dan bayangan yang lain bertukar pandang sekilas.

Edward mengangkat bahu. "Carlisle memberinya pilihan."

"Tidak ada pilihan bagi mereka yang melanggar aturan,” sergah Jane datar.

Carlisle angkat bicara, nadanya lunak. “Itu terserah padamu. Selama dia bersedia menghentikan serangannya terhadap kami, aku tidak merasa perlu menghabisinya. Dia tidak pernah diajari." "Itu tidak relevan.” Jane bersikeras.

"Terserah padamu."

Jane menatap Carlise dalam kengerian yang melumpuhkan. Ia menggelengkan kepala sedikit, kemudian mengubah air mukanya.

"Aro berharap kami mampir ke kawasan barat ini untuk menemuimu, Carlisle. Dia kirim salam."
Carlisle mengangguk. "Aku akan sangat berterima kasih kalau kau menyampaikan salamku juga kepadanya."

"Tentu saja,” Jane tersenyum. Wajahnya nyaris manis bila tersenyum seperti itu. Ia menoleh kembali ke kepulan asap. "Kelihatannya kalian sudah melakukan tugas kami hari ini... sebagian besar di antaranya." Matanya melirik si sandera. "Demi keingintahuan profesional saja, berapa banyak jumlah mereka tadi? Mereka cukup membuat gempar Seattle."

"Delapan belas, termasuk yang ini,” Carlisle menjawab.

Mata Jane melebar, dan ia berpaling kepada kobaran api, seperti menilai ukurannya. Felix dan bayangan yang lain lagi-lagi bertukar pandang, kali ini lebih lama.

"Delapan belas,” ulang Jane, untuk pertama kali suaranya terdengar tidak yakin.

"Semuanya baru,” ungkap Carlisle dengan nada sambil lalu. "Mereka tidak terlatih."

"Semua?" suara Jane berubah tajam. "kalau begitu siapa yang menciptakan mereka?"

"Namanya Victoria,” jawab Edward, tak ada emosi dalam suaranya.

"Tadinya?" tanya Jane.

Edward menelengkan kepalanya ke arah hutan di sebelah timur. Mata Jane terangkat dan terfokus pada sesuatu nun jauh disana. Kepulan asap lain? Aku tidak menoleh untuk mengecek.

Jane memandang ke arah timur beberapa saat, kemudian kembali mengamati api unggun yang lebih dekat dengan lebih saksama.

"Si Victoria ini, dia tidak termasuk dalam jumlah delapan belas ini?"
"Ya. Dia hanya membawa satu lagi bersamanya. Pemuda itu tidak semuda gadis ini, tapi hanya lebih tua kira-kira setahun.”
"Dua puluh.” Jane menghembuskan napas. "Siapa yang membereskan penciptanya?"

"Aku,” jawab Edward.

Mata Jane menyipit, lalu memalingkan wajahnya kepada gadis di sebelah api unggun.

"Hei kau.” panggilnya, suaranya yang kaku terdengar lebih kasar daripada sebelumnya. "namamu."

Si vampir baru malah melayangkan pandangan garang ke arah Jane, bibirnya terkatup rapat.
Jane tersenyum bak malaikat.

Jeritan si vampir baru memekakkan telinga; tubuhnya melengkung kaku dalam posisi aneh yang tidak natural. Aku membuang muka, melawan dorongan untuk menutup telinga. Kukertakkan gigiku, berharap bisa mengendalikan perutku. Jeritan itu semakin menjadi-jadi. Aku mencoba berkonsentrasi pada wajah Edward yang tenang dan tanpa emosi, tapi itu malah membuatku teringat saat Edward berada di bawah ratapan Jane yang menyiksa, dan aku merasa semakin mual. Akhirnya aku memandang Alice dan Esme di sebelahnya. Wajah mereka juga sama datarnya dengan wajah Edward.
Akhirnya, semua tenang kembali.

"Namamu.” tukas Jane lagi, tak ada perubahan dalam suaranya. "Bree,” si gadis terkesiap.

Jane tersenyum, dan gadis itu menjerit lagi. Aku menahan napas sampai jerit kesakitannya berhenti.

"Dia akan menceritakan apa saja yang ingin kauketahui,” sergah Edward, menahan gemas. "Kau tak perlu berbuat begitu."

Jane mendongak, tampak sorot geli di matanya yang biasanya terkesan mati itu. "Oh, aku tahu.” katanya, nyengir kepada Edward sebelum berpaling lagi kepada si Vampir muda, Bree.

"Bree,” ucap Jane, suaranya kembali dingin. "Apakah cerita itu benar? Benarkah jumlah kalian dua puluh?"

Gadis itu terbaring dengan napas terengah-engah, Satu sisi wajahnya menempel ke tanah. Ia berbicara dengan cepat. "Sembilan belas atau dua puluh, mungkin lebih, aku tidak tahu!" Ia mengkeret. takut ketidaktahuannya akan mendatangkan siksaan lagi baginya. "Sara dan si satu lagi yang aku tidak tahu namanya berkelahi dalam perjalanan ke sini.."

"Dan si Victoria ini.. dia yang menciptakanmu?"

"Aku tidak tahu.” jawabnya, mengkeret lagi. "Riley tidak pernah menyebut namanya. Aku tidak sempat melihatnya malam itu... soalnya gelap sekali, dan sangat menyakitkan.."

Bree bergidik "Riley tidak mau kami bisa memikirkan wanita itu. Kata Riley, pikiran kami tidak aman..."
Mata Jane melirik Edward, kemudian kembali pada gadis itu.

Victoria sudah merencanakan hal ini dengan matang. Seandainya ia tidak mengikuti Edward, tidak akan ada yang tahu pasti ia terlibat...

"Ceritakan tentang Riley.” kata Jane. "Kenapa dia membawamu kemari."
"Riley berkata kami harus menghabisi makhluk-makhluk aneh bermata kuning di sini.”     Bree mengoceh dengan cepat dan tanpa paksaan. "Katanya, itu mudah saja dilakukan. Katanya. kota ini milik mereka, dan mereka akan datang untuk menghabisi kami. Katanya, kalau mereka sudah dihabisi semua darah akan jadi milik kami. Dia memberi kami bau gadis itu.” Bree mengangkat satu tangan dan menudingkan jarinya ke arahku. "Menurut dia, kami akan tahu kami telah menemukan kelompok yang tepat, karena gadis itu ada bersama mereka. Menurut Riley, siapa pun yang pertama berhasil mendapatkan dia, bisa memilikinya."

Aku mendengar rahang Edward mengejang di sampingku.

"Kelihatannya Riley keliru soal hal yang mudah itu,” Jane berkomentar.

Bree mengangguk, tampak lega karena tidak disiksa lagi. Dengan hati-hati ia duduk. "Aku tidak tahu apa yang terjadi. kami berpencar, tapi yang lain-lain tak pernah kembali. Riley meninggalkan kami, dan dia tidak datang membantu kami seperti yang sudah dijanjikan. Kemudian semuanya sangat membingungkan, dan tahu-tahu semua orang sudah bercerai berai." Lagi-lagi ia bergidik. "Aku takut. Aku ingin kabur, orang itu,"dipandanginya Carlisle. “bilang mereka tidak akan menyakiti aku kalau aku berhenti menyerang."

"Ah tapi bukan haknya menawarkan hal itu, anak muda,” Gumam Jane, nadanya lembut dan ganjil. "Melanggar aturan menuntut konsekuensi."

Bree menatap Jane, tidak mengerti.

Jane berpaling kepada Carlisle. "kau yakin semua sudah kau bereskan? Bagaimana dengan sebagian yang berpencar itu?"

Wajah Carlisle tampak sangat tenang ketika mengangguk.

"kami juga berpencar."

Jane separuh tersenyum. "Tak bisa kusangkal aku terkesan." Bayang-bayang besar di belakangnya menggumam setuju. "Belum pernah aku melihat ada kelompok yang bisa selamat seluruhnya dari pelanggaran aturan dengan skala besar ini. Kalian tahu masalah apa yang melatarbelakanginya? sepertinya ini perilaku ekstrem, bila mengingat gaya hidup kalian di sini. Dan kenapa gadis itu yang menjadi kunci?" Sekilas matanya menatapku tidak suka.

Aku bergidik.

"Victoria mendendam kepada Bella.” Edward menjawab pertanyaan Jane, suaranya dingin.

Jane tertawa, suaranya renyah, tawa ceria anak kecil yang bahagia. "Gadis satu ini selalu memicu timbulnya berbagai reaksi kuat tapi aneh bagi jenis kita.” Komentarnya, tersenyum langsung padaku, wajahnya bak malaikat.

Edward menegang. Aku menoleh dan tepat pada saat itu ia berpaling, memandang Jane lagi.

"Kumohon, bisakah kau tidak melakukan hal itu?" tanyanya dengan suara kaku.

Lagi-lagi Jane tertawa renyah. "Hanya mengecek. Tidak menimbulkan reaksi apa pun, ternyata."
Aku bergidik, dalam hati sangat bersyukur kelainan dalam tubuhku yang melindungiku dari pengaruh Jane saat terakhir kali kami bertemu, ternyata masih berfungsi. Lengan Edward memegangku lebih erat.

"Well, kelihatannya tak banyak lagi yang bisa kami lakukan. Aneh," sergah Jane, nada apatis kembali merayap memasuki suaranya. “Tidak biasanya kedatangan kami siasia seperti ini. Sayang kami terlambat mengikuti pertempuran. Kedengarannya cukup menghibur untuk disaksikan."

"Benar,” Edward menyahut cepat, suaranya tajam. "Padahal kalian sudah sangat dekat. Sayang kalian tidak datang setengah jam lebih awal. Mungkin kalau begitu kalian bisa melaksanakan tugas kalian di sini." Jane membalas tatapan garang Edward dengan bergeming.

"Benar. Sayang sekali pertempuran itu berakhir seperti ini bukan?"

Edward mengangguk, kecurigaannya terbukti.

Jane berpaling dan kembali memandangi Bree, wajahnya benar-benar bosan. "Felix?" panggilnya dengan suara mengalun.
"Tunggu," sela Edward.

Jane mengangkat sebelah alis, tapi Edward menatap Carlisle sambil berbicara dengan nada mendesak. "Kita bisa menjelaskan aturan-aturan yang ada pada gadis muda ini. Sepertinya dia mau belajar. Dia tidak tahu kalau yang dilakukannya itu salah."

"Tentu saja," jawab Carlisle. “Kami jelas siap bertanggung jawab atas diri Bree."

Ekspresi Jane terbelah antara takjub dan tidak percaya.

"Bagi kami tidak ada pengecualian,” tukasnya. "Dan kami tidak pernah memberi kesempatan kedua. Itu tidak baik bagi reputasi kami. Dan itu membuatku teringat.." Tiba-tiba, matanya kembali tertuju padaku, dan wajah malaikatnya terkuak menunjukkan lesung pipinya. "Caius pasti akan sangat tertarik mendengar bahwa ternyata kau masih manusia, Bella. Mungkin dia akan memutuskan untuk datang."

"Tanggalnya sudah ditentukan,” Alice memberitahu Jane, berbicara untuk pertama kalinya. "Mungkin kami akan datang mengunjungi kalian beberapa bulan lagi."

Senyum Jane lenyap, dan ia mengangkat bahu dengan lagak tak peduli, tak melirik Alice sedikit pun. Ia berpaling kepada Carlisle. "Senang bertemu denganmu, Carlisle... kupikir Aro hanya melebih-lebihkan. Well, sampai ketemu lagi nanti...”
Carlisle mengangguk, ekspresinya terluka.

"Urus itu, Felix.” kata Jane, mengangguk ke arah Bree, suaranya sarat nada bosan. "Aku mau pulang."

"Jangan lihat.” bisik Edward di telingaku.

Tanpa diminta pun aku tidak akan mau melihat. Sudah cukup banyak yang kulihat hari ini, lebih dari cukup untuk seumur hidup. Aku memejamkan mata rapat-rapat dan menyembunyikan wajahku ke dada Edward.
Tapi aku masih bisa mendengar.

Terdengar suara geraman berat dan dalam, disusul suara jeritan tinggi melengking yang sangat familiar. Suara itu tiba-tiba terputus, kemudian satu-satunya suara yang terdengar hanyalah bunyi mengerikan benda patah dan remuk.

Tangan Edward mengusap-usap bahuku dengan cemas.

"Ayo,” seru Jane, dan aku mengangkat wajah, masih sempat melihat jubah-jubah kelabu itu menghilang, menuju asap yang meliuk-liuk. Bau dupa kembali tercium, kuat.

Jubah-jubah kelabu itu lenyap di balik kabut tebal.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊