menu

Eclipse Bab 21 Jejak-Jejak

Mode Malam
Bab 21 Jejak-Jejak

AKU tidak suka menyia-nyiakan malam ini dengan tidur, tapi itu tak bisa dihindari. Matahari terang benderang di luar dinding kaca waktu aku terbangun, dengan awanawan kecil berarak terlalu cepat melintasi langit. Angin menggoyangkan puncak-puncak pohon hingga seluruh penjuru hutan terlihat seperti terguncang.

Edward meninggalkan aku sendirian untuk berganti baju, dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berpikir. Entah bagaimana, rencanaku semalam berantakan, dan aku butuh waktu untuk menerima seluruh konsekuensinya. Walaupun aku sudah mengembalikan cincin warisan itu sesegera mungkin tanpa melukai perasaannya, tangan kiriku teras lebih berat, seakan-akan benda itu masih melekat di sana, hanya tidak kasatmata.

Seharusnya ini tidak membuatku merasa terganggu, aku beralasan. Ini toh bukan hal besar,hanya naik mobil ke Vegas. Aku akan mengenakan pakaian yang lebih baik daripada jeans belel, aku akan memakai kaos usang. Upacarnya pasti tidak bakal lama, tidak mungkin lebih dari lima belas menit,bukan? Jadi aku pasti bisa menghadapinya.

Kemudian, kalau semua sudah selesai, Edward harus menepati bagian janjinya. Aku akan berkonsentrasi pada hal itu, dan melupakan yang lain.

Kata Edward,aku tidak harus memberitahu siapa-siapa, dan aku berencana membuatnya menepati hal itu. Tentu saja, sungguh bodoh aku sampai tidak teringat kepada Alice.

Keluarga Cullen sampai di rumah menjelang tengah hari. Mereka terkesan siap dan serius, dan itu menyentakkan ingatanku kembali ke betapa seriusnya masalah yang akan segera kami hadapi. Tidak seperti biasanya, suasana hati Alice sepertinya sedang buruk. Kupikir itu gara-gara ia frustrasi karena merasa normal, menilik kata-kata pertamanya kepada Edward yang berupa keluhan karena mereka bekerja sama dengan serigala.

"Kaupikir," Alice mengernyit saat menggunakan kata yang tidak pasti itu. “Ada baiknya kau menyiapkan perbekalan untuk menghadapi cuaca dingin, Edward. Aku tidak bisa melihat persisnya di mana kau berada nanti, karena kau akan pergi bersama anjing itu siang nanti. Tapi badai sepertinya lumayan buruk di kawasan sekitar sana."

Edward mengangguk.

"Akan turun salju di pegunungan,” Alice mengingatkan.

"Waduh, salju.” Aku menggerutu. Sekarang bulan Juni, demi Tuhan.

"Pakai jaket,” Alice memberi tahuku. Nadanya tidak ramah dan itu membuatku kaget. Aku mencoba membaca wajahnya, tapi ia membuang muka.
Kutatap Edward,dan ia tersenyum, apa pun yang membuat Alice kesal justru membuatnya geli.

Perlengkapan berkemah Edward sangat lengkap, properti untuk melengkapi sandiwara mereka sebagai manusia, keluarga Cullen merupakan pelanggan setia toko milik keluarga Newton. Edward menyambar kantong tidur, tenda kecil, dan beberapa bungkus makanan kering – nyengir waktu aku mengernyit melihat bungkusan-bungkusan makanan itu – dan menjejalkan semuanya ke dalam ransel.

Alice datang ke garasi ketika kami sedang di sana, memperhatikan Edward bersiap-siap tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Edward sendiri tidak mengacuhkannya.

Setelah      selesai      berkemas-kemas      Edward      menyodorkan ponselnya kepadaku. "Bagaimana kalau kau telepon Jacob dan katakan kita siap bertemu dengannya kira-kira satu jam lagi. Dia tahu di mana harus menemui kita."

Jacob tidak ada di rumah, tapi Billy berjanji akan menelepon teman-temannya yang lain sampai ada werewolf yang bisa menyampaikan pesan itu padanya.

"Kau tidak usah khawatir tentang Charlie, Bella." Billy berkata. "Bagian itu urusanku."

"Yeah, aku tahu Charlie pasti akan baik-baik saja." Aku sendiri tidak yakin soal keselamatan anak lelaki Billy. tapi tidak mengutarakannya kepada Billy.

"Kalau saja aku bisa ikut bersama mereka besok." Billy terkekeh penuh penyesalan. "Susah juga jadi orang tua, Bella."

Dorongan untuk berperang pasti merupakan karakteristik yang paling menentukan dalam kromosom Y. Mereka semua sama saja.

"Selamat bersenang-senang bersama Charlie."

"Semoga beruntung, Bella,” sahut Billy. "Dan... sampaikan juga salamku kepada, eh, keluarga Cullen."
"Baiklah,” aku berjanji, kaget mendengarnya.

Waktu mengembalikan ponsel itu kepada Edward, aku melihat ia dan Alice seperti sedang berdiskusi tanpa suara. Alice menatap Edward, memohon lewat sorot matanya. Edward mengerutkan kening, tidak menyukai apa pun yang diinginkan Alice.

"Billy kirim salam."

"Dia baik sekali,” kata Edward,memalingkan wajahnya dari Alice. 

“Bella, boleh aku bicara berdua saja denganmu?" tanya Alice.

"Kau akan membuat hidupku lebih sulit daripada seharusnya, Alice.” Edward mengingatkan dengan gigi terkatup rapat. "Aku lebih suka kau tidak melakukannya."

"Ini tidak ada urusannya denganmu, Edward,” Alice balas membentak.

Edward tertawa. Rupanya ia menganggap respons Alice tadi lucu.

"Memang tidak ada kok,” Alice ngotot. "ini urusan perempuan."

Kening Edward berkerut.

"Biarkan dia bicara denganku,” kataku kepada Edward. Aku jadi penasaran.

"Kau sendiri yang setuju,ya.” gerutunya. Dia tertawa lagi,setengah marah, setengah geli, lalu menghambur ke luar garasi.

Aku menoleh kepada Alice, merasa cemas sekarang,tapi Alice tidak memandangku. Suasana hatinya masih juga jelek.

Ia beranjak dan duduk di kap mesin Porschenya, wajahnya muram. Aku mengikuti,dan bersandar di bumper mobil, di sebelahnya.

"Bella?" tanya Alice dengan nada sedih,bergeser ke sisiku. Suaranya terdengar begitu merana hingga aku memeluk bahunya dengan sikap menghibur.

"Ada apa, Alice?"

"Apakah kau tidak sayang padaku?" tanyanya dengan nada sedih yang sama.

"Tentu saja sayang, kau tahu itu."

"Kalau begitu, kenapa aku melihatmu diam-diam pergi ke Vegas untuk menikah tanpa mengundangku?"

"Oh,” gerutuku, pipiku berubah menjadi pink. Kentara sekali aku benar-benar telah melukai perasaanya, maka aku pun cepat-cepat membela diri. "Kau tahu aku tidak suka perayaan besar-besaran. Tapi itu ide Edward." "Aku tidak peduli itu ide siapa. Tega-teganya kau berbuat begini padaku? Kalau Edward yang melakukannya, aku tidak kaget, tapi bukan kau. Aku menyayangimu seperti saudaraku sendiri."

"Bagiku, Alice, kau memang saudariku."

"Ah, omong kosong!" geramnya.

"Baiklah, kau boleh ikut. Toh tidak banyak yang bisa dilihat."

Alice masih terus meringis.

"Apa?" tuntutku.

"Seberapa besar rasa sayangmu padaku, Bella?"

"Kenapa?"

Ia menatapku dengan sorot memohon, alis hitamnya yang panjang mencuat ke atas di tengah dan berkerut menjadi satu, sudut-sudut bibirnya bergerak. Sungguh ekspresi yang mengibakan.

"Please, please, please,” bisiknya. "Please, Bella, please, kalau kau benar-benar menyayangiku... Please, izinkan aku mengurus acara pernikahanmu."

"Aduh, Alice!" erangku, melepaskan diri dan berdiri tegak. "Tidak!jangan lakukan ini padaku."

"Kalau kau benar-benar, sungguh-sungguh sayang padaku, Bella."

Aku bersedekap. "Itu sungguh tidak adil. Dan Edward juga memakai alasan yang sama untuk membuatku menuruti kemauannya."

"Aku berani bertaruh Edward pasti lebih suka kau melakukannya secara tradisional, walaupun dia takkan pernah mengatakannya padamu. Dan Esme, bayangkan betapa akan sangat berartinya ini bagi dia!"

Aku mengerang. "Aku lebih suka menghadapi vampire-vampire baru sendirian." "Aku akan berutang budi padamu selama satu dekade."

"Kau akan berutang budi padaku selama satu abad."

Mata Alice berbinar. "Jadi itu berarti, Ya?"

"Tidak! Aku tidak mau melakukannya."

"Kau tidak melakukan apa-apa kecuali berjalan sejauh beberapa meter, kemudian mengulangi apa yang diucapkan pendeta."
"Ugh! ugh,ugh!”

"Please!"Alice mulai melompat-lompat kecil. "Please, please, please, please, please?"

"Aku tidak pernah, tidak akan pernah memaafkanmu untuk perbuatanmu ini, Alice."

"Hore!"pekik Alice, bertepuk tangan.

"Itu bukan mengiyakan!"

"Tapi kau akan mengiyakannya,” dendangnya.

"Edward!" teriakku, menghambur keluar garasi dengan mengentak-entak. "aku tahu kau mendengarkan. Kemarilah," Alice menyusul tepat di belakangku, masih bertepuk tangan.
"Terima kasih banyak, Alice," tukas Edward masam, muncul dari belakangku. Aku berbalik untuk menyemprotnya, tapi ekspresi Edward begitu waswas dan kalut hingga aku tak mampu menyuarakan protesku. Aku malah memeluknya, menyembunyikan wajahku, berjagajaga supaya mataku yang berair saking marahnya tidak dikira sebagai tangisan.

"Vegas,” Edward berjanji di telingaku.

"Tidak mungkin.” Alice menyombong. "Bella tidak mungkin tega melakukannya padaku. Kau tahu, Edward, sebagai saudara, kadang-kadang kau membuatku kecewa."

"Jangan bersikap kejam,” omelku pada Alice. "Dia berusaha membuatku bahagia, tidak seperti kau."

"Aku juga berusaha membuatmu bahagia, Bella. Tapi aku lebih tahu apa yang membuatmu bahagia... suatu saat nanti. Kelak kau akan berterima kasih padaku. Mungkin tidak selama lima puluh tahun pertama, tapi pasti suatu saat nanti."

"Aku tidak pernah mengira akan tiba suatu saat hari ketika aku bersedia bertaruh melawanmu, Alice, tapi hari itu telah datang."

Alice mengumandangkan tawa merdunya. “Jadi bagaimana, mau menunjukkan cincinnya padaku, tidak?"

Aku meringis ngeri saat Alice menyambar tangan kiriku tapi dengan cepat menjatuhkannya lagi.

"Hah. Padahal aku melihat Edward memasukkannya ke jarimu... Apakah ada yang terlewat?" tanyanya. Ia berkonsentrasi selama setengah detik, dahinya berkerut, sebelum menjawab pertanyaannya sendiri. "Tidak. Rencana pernikahan tidak berubah."

"Bella hanya tidak suka memakai perhiasan,” Edward menjelaskan.
"Apa bedanya sebutir berlian lagi? Well, cincin itu memang memiliki banyak berlian, tapi maksudku dia kan sudah memberimu se..."

"Cukup Alice!" Edward tiba-tiba memotongnya. Caranya memelototi     Alice...     ia jadi     kelihatan     seperti vampire. "Kami buru-buru."

"Aku tidak mengerti. Apa maksud Alice dengan berlianberlian itu?" tanyaku.

"Nanti saja kita bicarakan,” tukas Alice. "Edward benar, sebaiknya kalian segera berangkat. Kalian harus menyiapkan perangkap dan mendirikan kemah sebelum badai datang." Alice mengerutkan kening dan ekspresinya cemas, hampir-hampir gugup. "Jangan lupa membawa mantel Bella. Sepertinya cuaca akan... sangat dingin, di luar kebiasaan."

"Semuanya sudah siap," Edward meyakinkan Alice.

"Semoga sukses,” kata Alice sebagai salam perpisahan.

Rute yang kami tempuh untuk mencapai lapangan dua kali lebih panjang daripada biasa, Edward sengaja memutar jauh-jauh, memastikan bau badanku tidak berada di dekat jejak yang akan disembunyikan Jacob nanti. Ia membopongku, ransel gembung menjadi tempatku bertengger, seperti biasa.

Ia berhenti di bagian paling ujung lapangan, lalu menurunkan aku.

"Baiklah. Sekarang berjalanlah ke utara, sentuh sebanyak mungkin benda yang bisa kausentuh. Alice memberiku gambaran jelas rentang rute yang akan mereka tempuh, jadi tidak butuh waktu lama bagi kami untuk memotongnya."

"Utara?"

Edward tersenyum dan menunjuk ke arah yang benar.

Aku berjalan memasuki hutan,meninggalkan sinar matahari kuning jernih yang menerpa lapangan rumput di belakangku. Mungkin penglihatan Alice yang sedikit kabur keliru mengenai salju itu. Mudah-mudahan saja begitu. Sebagian besar langit jernih,walaupun angin bertiup kencang di tempat-tempat terbuka. Di antara pepohonan angin bertiup lebih tenang, tapi hawa memang terlalu dingin untuk bulan Juni,walaupun sudah mengenakan kemeja lengan panjang yang dilapisi sweter tebal,bulu di lenganku masih saja meremang. Aku berjalan lambat, jarijariku menelusuri apa saja yang berada cukup dekat denganku, kulit pohon yang kasar, pakis yang basah, bebatuan yang ditutupi lumut.

Edward mengikuti,berjalan lurus di belakang, kira-kira delapan belas meter jauhnya.

"Aku melakukannya dengan benar?" seruku. "Sempurna."

Aku mendapat ilham. "ini bisa membantu?" tanyaku sambil menyusupkan jari-jariku ke rambut dan mengambil beberapa helai rambut yang terlepas. Kuletakkan semuanya di atas tumbuhan pakis-pakisan.

"Ya itu membuat jejaknya semakin kuat. Tapi kau tidak perlu mencabuti rambutmu, Bella. Ini saja sudah cukup."

"Ah, rambutku masih banyak kok."

Suasana gelap di bawah pepohonan, dan aku ingin bisa berjalan lebih dekat dengan Edward dan menggandeng tangannya.

Kuselipkan sehelai rambut lagi ke ranting patah yang menghalangi jalan setapak yang kulewati.

"Sebenarnya kau tidak perlu menuruti kemauan Alice,” kata Edward.

"Kau tidak usah mengkhawatirkan itu, Edward. Aku tidak akan meninggalkanmu di altar karena itu." Dengan perasaan kecut aku sadar Alice tetap akan mendapatkan apa yang la inginkan, terutama karena ia tak bisa digoyahkan bila menginginkan sesuatu, dan juga karena aku tak pernah kuat menanggung perasaan bersalah. 











"Bukan itu yang kukhawatirkan. Aku hanya ingin pernikahan ini berjalan sesuai dengan keinginanmu."

Aku menahan diri untuk tidak mendesah. Aku hanya akan menyinggung perasaannya kalau mengatakan yang sebenarnya, bahwa itu tidak penting, hanya beberapa derajat lebih buruk daripada yang lainnya.
"Well, walaupun kemauannya dituruti, kita bisa tetap merayakannya secara      sederhana.      Hanya kita,      Emmet      bisa mendapatkan izin untuk menikahkan orang dari internet."

Aku terkikik. “Kedengarannya boleh juga.” Tidak akan terlalu resmi bila Emmet yang membacakan janji pernikahan, dan justru itu merupakan kelebihan. Tapi aku pasti susah menahan diri untuk tidak tertawa.

"Betul, kan,” ucap Edward sambil tersenyum. "Semua pasti bisa dikompromikan."
Dibutuhkan beberapa saat untuk mencapai tempat pasukan vampir baru dipastikan akan menemukan jejakku, tapi Edward tidak pernah merasa tidak sabar dengan gerakanku yang lamban.

Namun ia harus menunjukkan jalan padaku dalam perjalanan pulang. Supaya aku tetap berada di jalur yang sama. Semuanya tampak sama saja di mataku.

Kami sudah hampir sampai di lapangan ketika aku terjatuh. Aku bisa melibat tanah lapang di depan, dan mungkin karena itulah aku terlalu bersemangat dan tidak memperhatikan Jalan. Tahu-tahu aku terjerembab dan kepalaku membentur pohon terdekat, tapi sebatang ranting kecil patah di bawah tangan kiriku dan menusuk telapak tanganku.

"Aduh! Wah, benar-benar bagus,” gerutuku.

"Kau tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja. Tetaplah di tempatmu. Aku berdarah. Sebentar lagi pasti akan berhenti."

Edward mengabaikan laranganku. Ia sudah mendekat sebelum aku sempat menyelesaikan kata-kataku.

"Aku punya kotak P3K,” katanya,mengeluarkan benda itu dari ranselnya. "Aku punya firasat aku bakal membutuhkannya."

"Tidak parah kok. Aku bisa membereskannya sendiri, kau tidak perlu membuat dirimu tidak nyaman."

"Siapa bilang aku tidak nyaman,” tukas Edward kalem, "kemarilah, biar kubersihkan."

"Tunggu sebentar, aku punya ide lain."

Tanpa menatap darah dan bernapas lewat mulut, untuk berjaga-jaga siapa tahu perutku mengamuk, aku menekankan tanganku ke batu di dekatku.

"Apa-apan kau?"

"Jasper pasti senang sekali,” gumamku pada diri sendiri. Aku kembali berjalan ke lapangan, menempelkan telapak tanganku ke semua benda yang kutemui di sepanjang jalan setapak. "Taruhan, ini pasti akan benar-benar membuat mereka kalap."

Edward menghembuskan napas.

"Tahan napasmu,” kataku.

"Aku tidak apa-apa. Menurutku, sikapmu berlebihan."

"Kan tugasku hanya ini. Aku ingin melakukannya sebaik mungkin."

Kami keluar dari balik kerimbunan sementara aku berbicara. Kubiarkan tanganku yang luka menyapu pakispakisan.

"Well, kau sudah melakukannya dengan baik," Edward meyakinkanku. "Para vampire baru itu pasti akan kalap, dan Jasper akan sangat terkesan pada dedikasimu. Sekarang izinkan aku merawat tanganmu, lukamu jadi kotor." "Biar aku saja, please."

Edward meraih tanganku dan tersenyum saat mengamatinya. "ini tidak lagi membuatku terusik."

Kupandangi Edward lekat-lekat sementara ia membersihkan lukaku, mencari tanda-tanda kekalutan. Ia tetap menarik napas dan menghembuskannya lagi dengan sikap biasa-biasa saja, senyum kecil yang sama tersungging di bibirnya.

"Kenapa tidak?" akhirnya aku bertanya ketika Edward menempelkan plester di telapak tanganku.

Edward mengangkat bahu. "Aku sudah bisa mengatasinya."

"Kau... sudah mengatasinya? Kapan? Bagaimana?" Aku mencoba mengingat-ingat, kapan terakhir kali Edward menahan napas saat berdekatan denganku. Seingatku itu saat ulang tahunku yang terakhir, September silam.

Edward mengerucutkan bibir, seperti mencari kata-kata yang tepat. “Aku pernah mengalami 24 jam yang mengerikan, mengira kau sudah mati, Bella. Itu mengubah cara pandangku terhadap banyak hal."

"Apakah itu mengubah bauku bagi penciumanmu?"

"Sama sekali tidak. Tapi... setelah mengalami bagaimana rasanya mengira aku telah kehilangan dirimu...reaksiku

berubah. Seluruh keberadaanku menolak melakukan apa pun yang dapat memicu timbulnya penderitaan seperti itu lagi."

Aku tidak tahu bagaimana harus menanggapinya.

Edward tersenyum melihat ekspresiku. "Kurasa kau bisa menyebutnya pengalaman yang sangat mendidik."

Saat itulah angin berembus kencang menerpa lapangan, menerbangkan rambutku hingga mengelilingi wajah dan membuat tubuhku bergetar. "Baiklah,” ujar Edward, merogoh ranselnya lagi. "Kau sudah selesai melakukan tugasmu." Ia mengeluarkan jaket musim dinginku yang tebal dan menyodorkannya supaya aku bisa memakainya. "Sekarang,beres sudah. Ayo kita pergi berkemah!"

Aku tertawa mendengar nada pura-pura antusias dalam suara Edward.
Edward meraih tanganku yang berplester – tanganku yang lain masih belum sepenuhnya pulih, masih memakai penyangga, dan mulai berjalan ke sisi lain lapangan.

"Di mana kita akan bertemu Jacob?" tanyaku.

"Di sini,” Edward melambai ke arah pepohonan di depan kami. Dan pada saat itu juga Jacob melangkah keluar dengan sikap waswas dari balik bayang-bayang.

Seharusnya aku tidak perlu kaget melihatnya dalam wujud manusia. Tapi entah kenapa aku mengira akan melihat serigala besar berbulu cokelat kemerahan.

Lagi-lagi Jacob tampak lebih besar, tak diragukan lagi itu karena aku memang mengharapkannya; tanpa sadar, diamdiam aku pasti berharap melihat Jacob kecil yang kuingat, temanku yang santai, yang tidak membuat segala sesuatunya rumit seperti sekarang. Ia melipat kedua lengannya di dadanya yang telanjang, mencengkeram jaket. Wajahnya menatap kami tanpa ekspresi.

Sudut-sudut bibir Edward tertarik ke bawah. "Pasti ada cara lain yang lebih baik untuk melakukan ini."

"Sekarang sudah terlambat,” gerutuku muram.

Edward mendesah.

"Hai, Jake,” aku menyapanya saat kami sudah lebih dekat dengannya.
"Hai, Bella."

"Halo, Jacob," sapa Edward. Jacob tak peduli dengan basa basi, sikapnya resmi. "Aku harus membawanya ke mana?"

Edward mengeluarkan peta dari saku samping ransel dan menyerahkannya kepada Jacob. Jacob membuka lipatannya.

"Sekarang kita di sini,” kata Edward, mengulurkan tangan untuk menyentuh titik yang dimaksud. Jacob otomatis berjengit untuk menghindar, tapi kemudian menenangkan diri. Edward pura-pura tidak melihat.

"Dan kau harus membawa dia ke sini,” lanjut Edward, menyusuri pola berkelok-kelok di sekitar garis ketinggian di peta itu. "Perkiraan kasarnya empat belas setengah kilometer."

Jacob mengangguk satu kali.

"kira-kira satu setengah kilometer dari sini, kau akan melintasi jalanku. Kau bisa mengikutinya dari sana. Kau membutuhkan peta ini?"

"Tidak, terima kasih. Aku sangat mengenal kawasan ini. Kurasa aku tidak akan tersesat."
Jacob sepertinya harus berusaha lebih keras daripada Edward untuk bersikap lebih sopan.

"Aku akan mengambil rute lebih panjang,” kata Edward. "Sampai jumpa beberapa jam lagi."

Edward menatapku dengan sikap tidak senang. Ia tidak menyukai bagian rencana yang ini.

"Sampai nanti,” gumamku.

Edward lenyap ditelan pepohonan, menuju arah berlawanan.

Begitu tidak kelihatan lagi, sikap Jacob langsung berubah ceria.

"Bagaimana kabarmu,Bella?" tanyanya sambil nyengir lebar.

Aku memutar bola mataku. "Biasa-biasa saja."

"Yeah," Jacob sependapat. “Segerombolan vampir berusaha membunuhmu. Biasalah."

"Biasalah."

"Well,” ucapnya, mengenakan jaketnya supaya kedua tangannya bisa bergerak bebas. "Ayo kita berangkat."

Sambil mengernyit, aku maju mendekatinya.

Jacob membungkuk dan menyapukan lengannya ke belakang lututku, meraupnya tiba-tiba. Lengan satunya menangkap tubuhku sebelum kepalaku membentur tanah.

"Dasar,” omelku.

Jacob terkekeh, sudah berlari menembus pepohonan. Ia berlari dengan langkah-langkah mantap, cukup cepat untuk

bisa diimbangi manusia yang segar bugar... di tanah datar... tanpa membawa beban sekian puluh kilogram seperti yang dilakukannya sekarang.

"Kau tidak perlu berlari. Nanti kau capek."

"Berlari tidak membuatku capek,” tukas Jacob. Napasnya datar, seperti tempo teratur pelari maraton. "Lagi pula, hawa sebentar lagi mendingin. Mudah-mudahan dia sudah selesai mendirikan tenda sebelum kita sampai di sana."

Aku mengetuk-ngetukkan jariku ke lapisan jaketnya yang tebal. "Kupikir kau sudah tidak kedinginan lagi sekarang."

"Memang tidak. Aku membawanya untukmu, untuk berjaga-jaga siapa tahu kau tidak siap." Dipandanginya jaketku, seolah-olah nyaris kecewa     karena ternyata     aku sudah     siap menghadapi hawa dingin. "Aku tidak suka melihat keadaan cuaca. Membuatku gelisah. Kauperhatikan tidak kalau sejak tadi tidak tampak seekor binatang pun?"
"Eh, tidak juga." "Sudah kukira kau tidak memperhatikan. Panca inderamu terlalu tumpul."

Aku tidak menanggapi komentarnya. "Alice juga mengkhawatirkan keadaan cuaca."

"Kalau hutan sampai sesunyi ini, pasti akan terjadi sesuatu. 'Hebat' juga kau, memilih hari ini untuk berkemah."
"Itu kan bukan ideku sepenuhnya."

Rute tanpa jalan yang diambil Jacob mulai mendaki dan semakin lama semakin curam, tapi itu tidak membuat larinya melambat. Dengan enteng ia melompat dari satu batu ke batu lain, seperti tidak membutuhkan tangan sama sekali. Keseimbangannya yang sempurna mengingatkanku pada kambing gunung.

"Benda tambahan apa itu di gelangmu?" tanyanya.

Aku menunduk, dan menyadari bandul berbentuk hati dari kristal itu menghadap ke atas di pergelangan tanganku.
Aku mengangkat bahu dengan sikap bersalah. "Hadiah kelulusan juga."
Jacob mendengus."Batu. Pantas."

Batu? Tiba-tiba saja aku teringat perkataan Alice yang setengah selesai di luar garasi tadi. Kupandangi kristal putih cemerlang itu dan berusaha mengingat-ingat komentar Alice sebelumnya... tentang berlian. Mungkinkah ia hendak mengatakan dia sudah memberimu sebutir berlian? seolaholah,aku sudah memakai sebutir berlian pemberian Edward? Tidak, itu tidak mungkin. Kalau bandul hati ini berlian, ukurannya pasti lima karat atau sebangsanya! Edward tidak mungkin...

"Sudah lama sekali kau tidak pernah datang lagi ke La Push,” Kata Jacob, menginterupsi dugaan-dugaan yang mengusikku.
"Aku sibuk,” dalihku. "Dan... mungkin aku memang sedang tidak ingin ke sana." Jacob meringis. "Kupikir kaulah yang seharusnya mudah memaafkan orang, dan aku yang mendendam."

Aku mengangkat bahu.

"Kau pasti sering memikirkan peristiwa waktu itu, kan?"

"Tidak."

Jacob tertawa. "Kalau kau tidak bohong, berarti kau orang paling keras kepala yang pernah hidup."

"Entahlah kalau aku memang yang terakhir itu, tapi aku tidak berbohong."

Aku tidak suka membicarakan hal itu dalam situasi seperti sekarang – ketika lengannya yang panas memelukku erat-erat, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa mengenainya. Wajahnya terlalu dekat denganku. Kalau saja aku bisa mundur selangkah untuk menjauhinya.

"Orang yang cerdas memandang keputusan dari segala sisi."

"Aku sudah melakukannya," dengusku.

"Kalau kaubilang sama sekali tidak pernah memikirkan... eh, pembicaraan kita waktu terakhir kali kau datang, berarti itu tidak benar."

"Pembicaraan itu tak ada hubungannya sama sekali dengan keputusanku."

"Beberapa orang memang rela melakukan apa saja untuk menipu diri sendiri."

"Menurut pengamatanku, werewolf-lah yang cenderung melakukan kesalahan itu, menurutmu itu ada kaitannya dengan masalah genetis atau tidak?"

"Apakah itu berarti ciumannya lebih dahsyat daripada ciumanku?" tanya Jacob, mendadak muram.
"Aku tak bisa menilainya, Jacob. Edward satu-satunya yang pernah menciumku.”

"Selain aku."

"Tapi bagiku itu tidak bisa dihitung sebagai ciuman, Jacob. Menurutku itu lebih merupakan penyerangan."

"Aduh! Sinis sekali."

Aku mengangkat bahu. “Aku tidak berniat menarik kembali ucapanku."

"Aku kan sudah meminta maaf padamu tentang hal itu." Jacob mengingatkan.

"Dan aku sudah memaafkanmu... sebagian besar. Tapi itu tidak mengubah caraku mengingatnya."

Jacob menggerutu panjang lebar.

Lalu suasana sunyi sebentar, yang terdengar hanya suara tarikan napas Jacob yang terukur serta angin yang meraungraung di pucuk-pucuk pepohonan di atas kami. Tebing tinggi menjulang di sebelah kami, batu kelabu kasar telanjang. Kami mengikuti dasarnya yang melengkung keluar dari hutan.
"Aku tetap berpendapat itu sangat tidak bertanggung jawab," kata Jacob tiba-tiba.

"Apa pun yang kaumaksud, kau salah."

"Pikirkan saja, Bella. Menurutmu, kau hanya pernah berciuman dengan satu orang – yang sebenarnya bukan orang sungguhan – seumur hidupmu, tapi belum-belum kau sudah mau menikah. Bagaimana kau tahu apa yang kau inginkan? Bukankah seharusnya kau mencoba berhubungan dulu dengan beberapa orang?"

Aku berusaha agar nadaku tetap terdengar dingin. "Aku tahu persis apa yang kuinginkan."

"Kalau begitu, tidak ada salahnya mengecek ulang, mungkin sebaiknya kau coba mencium orang lain dulu, hanya untuk membandingkan... karena apa yang terjadi waktu itu tidak masuk perhitungan. Kau bisa menciumku, contohnya. Aku tidak keberatan kalau kau ingin memakaiku untuk eksperimen."

Jacob mendekapku lebih erat ke dadanya,sehingga wajahku dekat sekali dengan wajahnya. Ia tersenyumsenyum mendengar leluconnya sendiri,tapi aku tidak mau mengambil resiko.
"Jangan macam-macam denganku, Jake. Aku bersumpah tidak akan menghalangi Edward kalau dia mau meremukkan rahangmu."
Sedikit nada panik dalam suaraku malah membuat senyumnya semakin lebar. "kalau kau memintaku menciummu, dia tidak akan punya alasan untuk marah. Katanya itu tidak apa-apa."

"Jangan menahan napas dan berharap, Jake, tidak, tunggu, aku berubah pikiran. Silakan saja. Tahan napasmu sampai aku memintamu menciumku."

"Suasana hatimu sedang jelek hari ini."

"Entah kenapa, ya?"

"Kadang-kadang aku berpikir kau lebih menyukaiku kalau kau berwujud serigala."

"Kadang-kadang memang begitu. Mungkin itu karena kau tidak bisa bicara."

Jacob mengerucutkan bibirnya yang tebal dengan sikap berpikir-pikir. "Tidak, kurasa bukan karena itu. Kurasa mungkin lebih mudah bagimu berada di dekatku kalau aku tidak sedang menjadi manusia, karena kau tidak perlu berpura-pura tidak tertarik padaku."

Mulutku ternganga dengan suara tersentak kaget. Aku langsung mengatupkannya lagi, menggertakkan gigi-gigiku.

Jacob mendengarnya. Sudut-sudut bibirnya tertarik ke belakang, membentuk senyum penuh kemenangan. 

Aku menghela napas lambat-lambat sebelum berbicara.
sendiri Kau pasti tahu betapa kau menyadari ?
keberadaanku. Secara fisik, maksudku."
"Ba"Tidak,aku yakin itu karena kauttidak bisa bicara." ri

Jacob mendesah. “Pernahkah kau lelah membohongi diri keberadaanmu secara fisik,Jacob?" tuntutku. "Kau monster raksasa yang tidak menghargai ruang pribadi orang lain."

"Aku membuatmu gugup. Tapi hanya saat aku berwujud manusia."
"Gugup tidak sama dengan jengkel."

Jacob menatapku beberapa saat, memperlambat larinya dan berjalan, sorot geli surut dari wajahnya. Matanya menyipit, berubah hitam di bawah naungan bayang-bayang alisnya. Tarikan napasnya, yang sangat teratur saat ia berlari, kini mulai berpacu. Pelan-pelan ia mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Kubalas tatapannya, tahu persis apa yang hendak ia lakukan.

"Wajahmulah penyebabnya,” Aku mengingatkan dia.

Jacob tertawa keras sekali, lalu mulai berlari lagi. "Aku tidak benar-benar ingin berkelahi dengan vampirmu malam ini, maksudku, kalau malam lain, boleh-boleh saja. Tapi kami punya tugas besok, dan aku tidak ingin membuat kekuatan keluarga Cullen berkurang satu."

Perasaan malu tiba-tiba menyergapku, membuat ekspresiku langsung berubah.

"Aku tahu, aku tahu,” Sergah Jacob, tidak mengerti. "Menurutmu dia bisa mengalahkan aku."

Aku tak sanggup berkata apa-apa. Aku membuat kekuatan mereka berkurang satu. Bagaimana kalau ada yang cedera hanya karena aku sangat lemah? Tapi bagaimana kalau aku bersikap berani dan Edward... memikirkannya saja aku tak sanggup. "Kenapa kau, Bella?" Sikap sok jagoan lenyap dari wajah Jacob, menampilkan Jacob yang asli di baliknya, seperti membuka topeng. "Kalau perkataanku tadi menyinggung perasaanmu, kau tahu aku hanya bergurau. Aku tadi cuma main-main. Tidak ada maksud apa-apa – hei, kau baik-baik saja? Jangan menangis, Bella," Jacob memohon-mohon.
Aku berusaha menguasai diri. "Aku bukan mau menangis."

"Memangnya aku bilang apa tadi?"

"Bukan gara-gara perkataanmu. Tapi karena, well, garagara aku sendiri. Aku melakukan sesuatu yang... buruk."

Jacob menatapku, matanya membelalak bingung.

"Edward tidak akan bertempur besok,” bisikku menjelaskan. "Aku memaksanya tinggal bersamaku. Aku benar-benar pengecut."

Kening Jacob berkerut. "Kaupikir rencana kita tak akan berhasil? Bahwa mereka akan menemukanmu di sini? Kau mengetahui sesuatu yang aku tidak tahu?"

"Tidak, tidak, bukan itu yang kutakutkan. Aku hanya... aku tidak sanggup membiarkannya pergi. Kalau dia tidak kembali..." Aku bergidik, memejamkan mata untuk mengenyahkan jauh-jauh pikiran itu.

Jacob terdiam.

Aku terus berbisik-bisik, mataku terpejam. "Kalau ada yang celaka, itu akan selalu jadi salahku. Tapi bahkan kalaupun tak ada yang celaka... aku jahat sekali. Pasti begitu karena aku memaksanya tinggal bersamaku. Dia tidak akan menyalahkan aku. Tapi aku akan selalu tahu betapa teganya aku berbuat begini. "Aku merasa sedikit lega setelah mencurahkan semua unek-unek yang menyesaki dadaku. Walaupun aku hanya bisa mengakuinya kepada Jacob.
Jacob mendengus. Mataku perlahan-lahan terbuka, dan aku sedih melihat topeng kaku itu kembali terpasang di wajahnya. "Sulit dipercaya dia membiarkanmu membujuknya untuk tidak ikut. Kalau aku, aku tidak akan mau melewatkannya demi apa pun."

Aku mendesah. "Aku tahu."

"Tapiitu tidak berarti apa-apa," Jacob tiba-tiba mundur.

'"Tapi itu tidak berarti dia mencintaimu lebih daripada aku."

"Tapi kau tidak akan mau tinggal denganku, walaupun aku memohon-mohon."

Jacob mengerucutkan bibirnya sejenak, dan aku bertanya-tanya dalam hati apakah ia akan mencoba menyangkalnya. Kami sama-sama tahu hal sebenarnya. "Itu hanya karena aku mengenalmu lebih baik,” jawab Jacob akhirnya. "Semua pasti berjalan mulus tanpa halangan. Walaupun kau memintaku dan aku menolak, kau tidak akan marah padaku sesudahnya."

"Kalau semuanya benar-benar berjalan mulus tanpa hambatan, mungkin kau benar. Tapi selama kau tidak ada, aku pasti akan sangat khawatir, Jake. Bisa-bisa aku gila."

"Kenapa?" tanya Jacob parau. "Apa pedulimu bila sesuatu menimpaku?"

"Jangan berkata begitu. Kau tahu betapa berartinya kau bagiku. Aku menyesal tidak bisa menyayangimu seperti yang kauinginkan, tapi memang begitulah adanya. Kau sahabatku. Paling tidak, dulu kau pernah jadi sahabatku. Dan terkadang pun masih... kalau kau bersikap apa adanya."

Jacob menyunggingkan senyumnya yang dulu sangat kusukai. "Aku selalu menjadi sahabatmu.” janji Jacob. “Bahkan ketika aku tidak... bertingkah sebaik seharusnya. Di balik itu semua, aku selalu ada di sini."

"Aku tahu untuk apa lagi aku tahan menghadapi semua omong kosongmu?"

Jacob tertawa bersamaku, tapi kemudian matanya sedih. "Kapan kau akhirnya akan menyadari bahwa kau mencintaiku juga?"

"Dasar perusak suasana."

"Aku tidak berkata kau tidak mencintainya. Aku tidak bodoh. Tapi mungkin saja lebih dari satu orang pada saat bersamaan, Bella. Aku pernah melihat hal semacam itu.”

"Aku bukan werewolf aneh, Jacob."

Jacob mengernyitkan hidung, dan sebenarnya aku hendak meminta maaf untuk komentar terakhirku itu, tapi ia langsung mengubah topik.

"Sebentar lagi kita sampai, aku bisa mencium baunya."

Aku menghembuskan napas lega.

Jacob salah menginterpretasikan maksudku. "Dengan senang hati aku akan memperlambat langkahku, Bella, tapi kau pasti ingin segera berlindung sebelum itu melanda."

Tembok awan hitam – ungu yang tebal berpacu dari arah barat, menghitamkan hutan di bawahnya.

"Wow,” gumamku. "Sebaiknya kau bergegas, Jake. Kau harus sudah sampai di rumah sebelum badai datang."

"Aku tidak pulang."

Kupandangi dia dengan garang, putus asa. "Kau tidak boleh berkemah dengan kami."
"Teknisnya tidak, maksudnya, tidak satu tenda dengan kalian atau apa. Aku lebih suka kehujanan dalam badai daripada mencium baunya. Tapi aku yakin si penghisap darahmu pasti ingin bisa tetap berhubungan dengan kawananku sehingga tetap bisi berkoordinasi, jadi dengan murah hati aku akan menyediakan jasa itu."

"Lho, kupikir itu tugasnya Seth."

"Dia akan mengambil alih tugas itu besok, selama pertarungan."

Ingatan itu sempat membuatku terdiam sejenak. Kupandangi dia, kekhawatiran kembali menghantamku dengan kekuatan penuh.

"Kurasa tidak mungkin kau bersedia tetap di sini karena kau toh kau sudah ada di sini sekarang?" saranku. "Bagaimana kalau aku benar-benar memohon? atau menggantinya dengan kesediaanku menjadi budakmu seumur hidup atau semacamnya?"
"Menggoda, tapi tidak. Bagaimanapun, mungkin menarik juga melihatmu memohon-mohon. Kau boleh melakukannya sekarang kalau mau."

"Jadi benar-benar tidak ada, tidak ada sama sekali, yang bisa kulakukan untuk membujukmu?"

"Tidak, tidak kecuali kau bisa menjanjikan pertempuran lain yang lebih baik untukku. Lagi pula Sam yang menentukan semuanya, bukan aku."

Perkataannya itu membuatku mendadak teringat.

"Tempo hari Edward menceritakan sesuatu... mengenai kau."

Jacob gelisah. "mungkin itu bohong."

"Oh,begitu ya? jadi kau bukan orang kedua dalam kawananmu?"

Jacob mengerjap,wajahnya mendadak kosong karena terkejut. "Oh, itu."

"Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?"

"Untuk apa? Itu bukan hal penting."

"Entahlah. Kenapa tidak? Itu menarik sekali. Jadi, bagaimana pengaruhnya? Bagaimana ceritanya Sam bisa menjadi Alfa, sementara kau... eh, jadi Beta?"

Jacob terkekeh mendengar istilah rekaanku itu. "Sam yang pertama, yang tertua. Jadi masuk akal bila dia yang memimpin."
Aku mengerutkan kening. “Tapi bukankah seharusnya Jared atau Paul menjadi yang kedua, kalau begitu? Mereka berdualah yang berikutnya berubah."

"Well... sulit menjelaskannya,” kata Jacob dengan sikap menghindar.

"Coba saja."

Jacob mengembuskan napas. "Alasannya lebih karena garis keturunan, kau mengerti? Agak kuno, memang. Memangnya kenapa kalau kakekmu siapa, begitu kan?"

Aku teringat kisah yang pernah diceritakan Jacob padaku dulu sekali, sebelum kami tahu tentang werewolf.

"Bukankah dulu kau pernah cerita Ephraim Black adalah kepala suku Quileute terakhir?"

"Yeah, itu benar. Karena dia si Alfa. Tahukah kau bahwa teknisnya, Sam adalah kepala seluruh suku?” Jacob tertawa.

"Tradisi sinting."

Aku memikirkan itu sejenak, berusaha menyatukan berbagai kepingan yang terserak. "Tapi kau pernah bercerita orang-orang lebih patuh kepada ayahmu ketimbang orang-

orang di dewan suku karena ayahmu cucu Ephraim?"

"Lantas kenapa?"

"Well, kalau masalahnya adalah garis keturunan...

bukankah seharusnya menjadi kepala suku, kalau begitu?"

Jacob tidak menjawab. Ia memandangi hutan yang semakin menggelap, seolah-olah mendadak perlu

berkonsentrasi menemukan jalan.

"Jake?"

"Tidak, itu tugas Sam," matanya memandang lurus ke

jalan, yang tak terlihat di tengah kerimbunan semak. "Kenapa? kakek buyutnya Levi Uley, bukan? Apakah

Levi juga seorang Alfa?"

"Hanya ada satu Alfa,” Jacob otomatis menjawab.

"Jadi Levi itu apa?"

"Semacam Beta, begitulah," Jacob mendengus karena

memakai istilahku, "seperti aku." "Itu tidak masuk akal."

"Tidak masalah."

"Aku hanya ingin mengerti."

Jacob akhirnya balas menatap sorot mataku yang bingung, kemudian mendesah. "Yeah. Seharusnya aku menjadi Alfa."

Alisku bertaut. "Sam tidak mau turun."

"Bukan begitu. Justru aku yang tidak mau naik."

"Kenapa tidak mau?"

Jacob       mengerutkan       kening,       tidak       suka       mendengar pertanyaan-pertanyaanku. Well, sekarang giliran Jacob merasa jengah.

"Aku tidak menginginkannya Bella. Aku tidak ingin ada yang berubah. Aku tidak mau menjadi kepala suku legendaris. Aku tidak mau menjadi bagian dari sekawanan werewolf, apa lagi menjadi pimpinan mereka. Aku tidak mau menerimanya waktu Sam menawarkan."

Aku memikirkan perkataannya itu beberapa saat Jacob tidak menyela. Matanya kembali memandangi hutan.

"Tapi kupikir sekarang kau lebih bahagia. Bahwa kau bisa menerimanya dengan baik," bisikku akhirnya.

Jacob menunduk menatapku sambil tersenyum menenangkan. "Yeah. Sebenarnya memang lumayan. Terkadang mengasyikkan, seperti hal yang akan terjadi besok. Tapi awalnya, rasanya seperti dipaksa ikut wajib militer dan diterjunkan ke medan perang padahal sebelumnya kau tidak tahu perang itu ada. Tidak ada pilihan, kau mengerti? Dan keputusannya sangat final," Jacob mengangkat bahu. "Bagaimanapun, kurasa aku senang sekarang. Itu memang harus dilakukan, dan dapatkah aku memercayai orang lain untuk melakukannya dengan benar? Lebih baik memastikannya sendiri."

Aku menatap Jacob, merasakan kekaguman yang tak terduga-duga terhadap temanku ini. Ternyata ia lebih dewasa daripada yang kukira. Seperti Billy malam itu pada acara api unggun, Jacob juga memiliki keagungan yang tidak pernah kusangka ada pada dirinya.

"Kepala Suku Jacob,” bisikku, tersenyum mendengar julukan itu.

Jacob memutar bola matanya.

Saat itulah angin mengguncang pepohonan lebih keras di sekeliling kami, dan rasanya seperti bertiup dari padang es. Bunyi pohon-pohon berderak bergema dari gunung. Walaupun cahaya menghilang ditelan aWan-awan kelabu yang menutupi langit, aku masih bisa melihat bercak-bercak kecil putih berkelebat melewati kami.

Jacob mempercepat langkah, matanya tertuju ke tanah sekarang saat ia berlari secepat-cepatnya. Aku meringkuk pasrah di dadanya,berlindung dari salju yang tidak diharapkan kedatangannya.

Beberapa menit kemudian, setelah melesat mengitari sisi teduh puncak berbatu, barulah kami bisa melihat tenda kecil itu merapat di muka pegunungan. Semakin banyak salju berjatuhan di sekeliling kami, tapi angin bertiup sangat kencang hingga gumpalan salju tak bisa diam di satu tempat.

"Bella," seru Edward. nadanya amat lega. Kami mendapatinya sedang mondar-mandir gelisah di sepanjang ruang terbuka kecil.
Ia melesat mendekatiku. nyaris terlihat kabur saking cepatnya ia bergerak. Jacob mengernyit, lalu menurunkan

aku dari gendongannya. Edward tidak menggubris reaksinya dan langsung memelukku erat-erat.

"Terima kasih,” kata Edward di atas kepalaku. Tak salah lagi, nadanya terdengar tulus. "Ternyata lebih cepat daripada yang kuharapkan, dan aku benar-benar menghargainya."

Aku memutar badan untuk melihat respons Jacob.

Jacob hanya mengangkat bahu, semua keramahan tersapu lenyap dari wajahnya. "Bawa dia masuk. Cuaca akan sangat buruk, bulu kudukku meremang semua. Apakah tenda itu kuat?"

“Aku menancapkan pasaknya kuat-kuat ke batu."

"Bagus."

Jacob mendongak menatap langit yang sekarang gelap gulita karena amukan badai, ditaburi pusaran-pusaran kecil salju. Cuping hidungnya kembang kempis.

"Aku mau berubah dulu,” katanya. "Aku ingin tahu apa yang sedang terjadi di rumah."

Jacob menggantungkan jaketnya di dahan pohon pendek di dekat situ,lalu memasuki hutan yang gelap gulita tanpa menoleh ke belakang lagi.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊