menu

Eclipse Bab 20 Kompromi

Mode Malam
Bab 20 Kompromi

SEMUA sudah siap.

Aku sudah berkemas-kemas untuk menginap dua hari bersama Alice; dan tasku sudah menunggu di truk. Aku sudah memberikan tiket konserku ke Angela, Ben, dan Mike. Mike akan mengajak Jessica. persis seperti yang kuharapkan. Billy meminjam kapal Quil Ateara Tua dan mengajak Charlie memancing di laut lepas sebelum pertandingan sore dimulai. Collin dan Brady, dua werewolf termuda, sengaja ditinggal untuk menjaga La Push, walaupun mereka masih kanak-kanak usia keduanya baru tiga belas. Meski begitu Charlie lebih aman daripada siapa pun yang tetap berada di Forks.

Aku sudah melakukan semua yang bisa kulakukan. Aku berusaha menerima hal itu, dan melupakan hal-hal lain yang berada di luar kendaliku, setidaknya untuk malam ini. Bagaimanapun hasilnya nanti, semua akan berakhir dalam 48 jam. Pikiran itu nyaris terasa melegakan.

Edward memintaku rileks, dan aku akan berusaha semampuku.

"Untuk malam ini saja, bisakah kita mencoba melupakan hal-hal lain kecuali kau dan aku?" pinta Edward, mengeluarkan segenap pesona lewat sorot matanya yang tertuju padaku. "Sepertinya aku tak pernah bisa punya cukup waktu seperti itu. Aku perlu berduaan denganmu. Hanya denganmu."'

Itu bukan permintaan yang sulit untuk disetujui, walaupun aku tahu jauh lebih mudah mengatakan akan melupakan ketakutanku daripada melakukannya. Ada banyak hal yang kupikirkan sekarang, tapi mengetahui kami hanya memiliki malam ini saja untuk berduaan sangatlah membantu.

Ada hal-hal yang sudah berubah. Misalnya, aku sudah siap.

Aku sudah siap bergabung dengan keluarganya dan dunianya. Perasaan takut, bersalah, dan gelisah yang kurasakan sekarang telah mengajariku hal itu. Aku sudah mendapat kesempatan untuk berkonsentrasi memikirkan hal ini,saat aku memandangi bulan di balik awan-awan sambil bersandar pada seekor werewolf,dan aku tahu aku tidak akan panik lagi.

Lain kali, kalau terjadi sesuatu pada kami, aku akan siap. Aku akan menjadi aset, bukan beban. Edward takkan pernah harus memilih antara aku dan keluarganya lagi. Kami akan menjadi partner,seperti Alice dan Jasper. Lain kali,aku akan melakukan bagianku.

Aku akan menunggu bahaya itu dipindahkan dari atas kepalaku, supaya Edward puas. Tapi itu tidak perlu. Aku sudah Siap.

Tinggal satu bagian lagi yang masih hilang.

Satu bagian, karena ada beberapa hal yang tidak berubah, termasuk caraku mencintainya. Aku punya banyak waktu memikirkan masak-masak dampak taruhan Jasper dan Emmett – memikirkan hal-hal yang dengan rela akan kutinggalkan saat aku menanggalkan kemanusiaanku,     juga     bagian     yang tidak rela kutinggalkan. Aku tahu pengalaman manusia mana yang harus ingin kurasakan sebelum aku berhenti menjadi manusia.

Jadi banyak sekali yang harus kami bereskan malam ini. Dari apa yang telah kulihat selama dua tabun terakhir ini, bagiku tidak ada istilah tidak mungkin. Dibutuhkan lebih dari itu untuk menghentikanku sekarang.

Oke, well, sejujurnya, ini mungkin akan jauh lebih rumit daripada itu. Tapi aku akan mencobanya.
Biarpun sudah mantap dengan keputusanku, aku tidak kaget waktu masih merasa gugup saat mengemudi menyusuri jalan panjang menuju rumahnya,aku tidak tahu bagaimana melakukan apa yang akan kulakukan, dan itu jelas membuatku sangat gugup. Edward duduk di kursi penumpang. menahan senyum melihat aku menyetir dengan lamban. Aku kaget ia tidak bersikeras ingin menyetir, malam ini sepertinya ia cukup puas dengan kecepatanku.

Hari sudah gelap waktu kami sampai di rumahnya. Meski begitu padang rumput terang benderang akibat cahaya lampu yang terpancar dari setiap jendela.

Begitu mesin dimatikan, Edward sudah berada di samping pintuku, membukakannya untukku. Ia membopongku turun dengan satu tangan, menyambar tasku dari belakang truk lalu menyampirkannya di pundak dengan tangannya yang lain. Bibirnya menemukan bibirku sementara aku mendengarnya menendang pintu truk hingga tertutup.

Tanpa menghentikan ciumannya, Edward mengayunkan tubuhku.       sehingga aku       berada dalam dekapannya dan menggendongku masuk ke rumah.

Apakah pintu depan sudah terbuka? Entahlah. Pokoknya kami langsung masuk, dan kepalaku berputar. Aku sampai harus mengingatkan diriku untuk menarik napas.

Ciuman itu tidak membuatku takut. Tidak seperti sebelumnya saat aku bisa merasakan ketakutan dan kepanikan menyusup di balik kendali Edward. Bibirnya tidak cemas, melainkan antusias sekarang – sepertinya ia sama bersemangatnya denganku karena malam ini kami bisa mencurahkan segenap perhatian untuk berduaan. Ia terus menciumiku selama beberapa menit. berdiri di depan pintu, tidak sehari-hari biasanya, bibirnya dingin dan melumat bibirku dengan ganas.

Aku mulai merasa agak optimis. Mungkin mendapatkan apa yang kuinginkan tidak sesulit yang kukira sebelumnya.

Tidak, tentu saja itu akan tetap sesulit biasanya.

Sambil terkekeh pelan Edward menjauhkan diriku darinya. menggendongku agak jauh dari tubuhnya.

"Selamat datang di rumah,” ucapnya, matanya cair dan hangat.

"Kedengarannya menyenangkan," kataku, terengahengah.

"Aku punya sesuatu untukmu," kata Edward nadanya santai.

"Oh?"

"Barang yang dulu menjadi milik orang lain, ingat? Kau bilang itu boleh."

"Oh, benar. Kurasa aku memang pernah berkata begitu."

Edward terkekeh melihat keenggananku.

"Barangnya ada di kamarku. Bagaimana kalau kita mengambilnya?"

Kamar Edward? "Tentu,” aku setuju, merasa sangat licik saat menautkan jari-jariku ke Jari-jarinya. "Ayo kita ke sana."

Edward pasti benar-benar ingin memberiku benda bukan hadiah ini, karena kecepatan manusiaku tak cukup cepat baginya. Ia meraupku lagi ke dalam gendongannya dan nyaris terbang menaiki tangga menuju kamarnya. Ia menurunkanku di depan pintu, lalu melesat masuk ke lemari.

Ia sudah kembali sebelum aku sempat maju selangkah pun, tapi aku mengabaikannya dan tetap berjalan menghampiri ranjang emas besar itu, mengempaskan tubuhku ke pinggir tempat tidur dan bergeser ke tengah. Aku meringkuk seperti bola. kedua lengan memeluk lutut.

"Oke." gerutuku. Sekarang setelah berada di tempat yang kuinginkan, aku bisa berlagak sedikit enggan. "Mana barangnya?"

Edward tertawa.

Ia naik ke tempat tidur dan duduk di sebelahku. Detak jantungku langsung berantakan. Mudah-mudahan Edward mengira itu karena aku gugup hendak diberi hadiah. "Barang yang pernah dimiliki orang lain," Edward mengingatkan dengan nada tegas. Ditariknya pergelangan tangan kiriku, dan disentuhnya gelang perak itu sekilas. Lalu ia melepaskan lenganku kembali.

Aku mengamatinya dengan hati-hati. Di sisi yang berseberangan dengan bandul serigala, kini tergantung sebutir kristal cemerlang berbentuk hati. Kristal itu memiliki jutaan segi. sehingga bahkan di bawah cahaya lampu yang temaram, benda itu berkilau cemerlang. Aku terkesiap pelan.

"Dulu, itu milik ibuku," Edward mengangkat bahu dengan sikap seolah-olah itu masalah sepele. “Aku mewarisi beberapa butir kristal seperti ini," Beberapa kuberikan kepada Esme dan Alice. Jadi, jelas, ini bukan sesuatu yang terlalu istimewa."

Aku tersenyum sendu mendengarnya.

"Tapi kupikir, ini bisa mewakiliku dengan tepat," sambung Edward. "Karena keras dan dingin.” Ia tertawa. "Dan membiaskan warna-warna pelangi ketika tertimpa cahaya matahari."
"Kau lupa pada kemiripan yang terpenting,” gumamku. "Ini cantik sekali."

"Hatiku juga bisa seperti kristal itu," renung Edward. "Dan hatiku juga milikmu."

Kuputar pergelangan tanganku agar hatinya berkilauan. "Terima kasih. Untuk kristal ini dan untuk hatimu."

"Tidak, aku yang berterima kasih padamu. Aku benarbenar lega, kau bisa menerima hadiah dengan mudah. Latihan yang bagus untukmu," Edward nyengir, memamerkan gigi-giginya.

Aku mencondongkan tubuh ke arahnya, menyusupkan kepalaku ke bawah lengannya dan merapat di sisinya. Rasanya mungkin seperti bermanja-manja dengan patung David karya Michelangelo, kecuali bahwa sosok marmer Edward yang sempurna merangkulku dan menarikku lebih dekat. Sepertinya ini permulaan yang bagus.

"Bisakah kira mendiskusikan sesuatu? Aku akan sangat berterima kasih kalau kau bisa memulai dengan pikiran terbuka."

Edward ragu-ragu sejenak. “Akan kuusahakan semampuku," ia setuju, berhati-hati sekarang.

"Aku tidak akan melanggar aturan apa pun," aku berjanji.

"Ini benar-benar soal kau dan aku," Aku berdehamdeham. "Begini... aku terkesan melihat betapa baiknya kita berkompromi semalam. Jadi kupikir. aku ingin mengaplikasikan prinsip yang sama pada situasi berbeda."Entah kenapa sikapku formal sekali. Pasti karena gugup.

"Memangnya apa yang ingin kaunegosiasikan?" tanya Edward, suaranya mengandung senyum.

Aku berusaha keras menemukan kata-kata yang tepat untuk membuka pembicaraan.
"Dengar, jantungmu berdebar keras sekali," bisik Edward. "Mengepak-ngepak seperti sayap burung hummingbird. Kau tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja."

"Teruskan kalau begitu," Edward mendorongku.

"Well, kurasa, pertama-tama, aku ingin membicarakan syarat menikah yang konyol itu."'

"Yang menganggapnya konyol hanya kau. Memangnya kenapa?"

"Aku ingin tahu... apakah itu masih bisa dinegosiasikan?"

Edward mengerutkan kening. serius sekarang. "Aku sudah memberimu kelonggaran terbesar,aku setuju menjadi yang mengambil hidupmu walaupun itu bertentangan dengan akal sehatku. Dan seharusnya itu membuatku berhak mendapat sedikit kompromi darimu."

"Tidak," Aku menggeleng, berusaha keras menjaga wajahku tetap tenang. "Bagian ini sudah tidak bisa ditawartawar lagi. Kita tidak sedang membicarakan... perubahanku sekarang. Aku ingin membereskan beberapa detail lain."

Edward menatapku curiga. "Detail-detail mana yang kaumaksudkan persisnya?"

Aku ragu-ragu. "Mari kita perjelas dulu prasyaratprasyaratmu."

"Kau tahu apa yang kuinginkan."

"Pernikahan,” Aku membuatnya terdengar seperti kata yang kotor.

"Ya." Edward tersenyum lebar. "Sebagai permulaan."

Perasaan syok serta-merta merusak ekspresiku yang secara hati-hati kujaga agar tetap tenang. "Jadi, masih ada lagi?"
"Well,” ujar Edward, wajahnya menimbang-nimbang. "Kalau kau jadi istriku, milikku adalah milikmu... misalnya saja uang kuliah. Jadi tidak ada masalah kalau kau mau masuk Dartmouth."
"Ada lagi? Sekalian, mumpung kau sedang aneh-aneh?"

"Aku tidak keberatan meminta perpanjangan waktu."

"Tidak. tidak ada perpanjangan waktu. Itu namanya melanggar kesepakatan."
Edward mendesah. "Satu atau dua tahun saja?"

Aku menggeleng kuat-kuat, bibirku terkatup membentuk garis keras kepala. "Lanjutkan ke prasyaratan berikutnya."

"Hanya itu. Kecuali kau mau membicarakan masalah mobil.."

Edward nyengir lebar waktu melihatku meringis, lalu meraih tanganku dan mulai memainkan jari-jariku.

"Aku tidak sadar ternyata ada hal lain yang kauinginkan selain diubah menjadi monster. Aku jadi penasaran." Suaranya rendah dan lembut. Secercah nada gelisah dalam suara Edward pasti sulit dideteksi kalau saja aku tidak begitu mengenalnya.

Aku diam sejenak, memandangi tangannya yang menggenggam tanganku. Aku masih belum tahu bagaimana harus memulai. Aku merasakan matanya menatapku dan aku takut mengangkat wajah. Darah mulai membakar wajahku.

Jari-jarinya yang dingin membelai pipiku. "Kau tersipu?" tanyanya kaget. Aku tetap menunduk. "Please, Bella, kau membuatku tegang."

Aku menggigit bibir.

"Bella,” Suaranya kini bernada memarahi, mengingatkanku bahwa Edward tidak suka jika aku tidak mau mengutarakan pikiranku.

"Well, aku sedikit khawatir... tentang sesudahnya," aku mengakui, akhirnya berani menatapnya.

Kurasakan tubuh Edward mengejang. tapi suaranya lembut dan sehalus beledu. “Apa yang kau khawatirkan?"

"Kalian sepertinya sangat yakin bahwa satu-satunya hal yang akan membuatku tertarik, sesudahnya, adalah membantai semua orang di kota," aku mengakui, sementara Edward meringis mendengar pilihan kata-kataku. "Dan aku tahu aku akan sangat sibuk dengan kekacauan itu sehingga tidak akan menjadi diriku lagi... dan bahwa aku tidak akan... aku tidak akan menginginkanmu seperti aku menginginkanmu sekarang."

"Bella, keadaan itu takkan berlangsung selamanya." Edward meyakinkan aku.

Ia tidak mengerti maksudku sama sekali.

"Edward,” ujarku, gugup, memandangi setitik bercak di pergelangan tanganku. “Ada sesuatu yang ingin kulakukan sebelum aku tidak lagi menjadi manusia."

Edward menungguku melanjutkan. Aku diam saja. Wajahku panas.

"Apa pun yang kauinginkan," dorong Edward. gelisah dan sama sekali tidak mengerti.

"Kau janji?" bisikku, tahu upayaku menjebaknya dengan kata-katanya sendiri tidak akan berhasil, namun tak sanggup menolaknya.

"Ya,” jawab Edward.. Aku mendongak dan melihat sorot matanya tulus bercampur bingung. "Katakan apa yang kauinginkan, dan kau akan mendapatkannya."

Sulit dipercaya betapa aku merasa canggung dan seperti idiot. Aku terlalu lugu,hal yang. tentu saja, merupakan inti diskusi ini. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana caranya merayu. Wajahku malah memerah dan sikapku kikuk.

"Kau,” gumamku, nyaris kacau.

"Aku milikmu,” Edward tersenyum, masih belum sadar berusaha membalas tatapanku sementara aku malah memalingkan muka.

Aku menghela napas dalam-dalam dan beringsut hingga sekarang aku berlutut di tempat tidur. Lalu aku memeluk lehernya dengan dua tangan dan menciumnya.

Edward membalas ciumanku, bingung tapi bersedia. Bibirnya lembut menempel di bibirku, dan aku tahu pikirannya sedang berkelana ke tempat lain,berusaha memikirkan apa yang ada dalam pikiranku. Menurutku ia butuh petunjuk.

Kedua tanganku sedikit gemetar saat aku melepas pelukanku. Jari-jariku merayap menuruni lehernya sampai ke kerah kemeja. Tanganku yang gemetar menyulitkan upayaku untuk bergegas membuka kancingnya sebelum ia menghentikanku. Bibir Edward membeku, dan aku nyaris bisa mendengar bunyi 'klik" dalam benaknya saat ia menyatukan potonganpotongan perkataan dan tindakanku.

Ia langsung mendorongku, wajahnya sangat tidak setuju.

"Bersikaplah yang masuk akal Bella."

"Kau sudah janji, apa pun yang kuinginkan," aku mengingatkan tanpa berharap.

"Kita tidak akan mendiskusikan masalah ini," Edward menatapku marah sambil mengancingkan kembali dua kancing kemejanya yang berhasil kubuka.

Gigiku terkatup rapat.

"Kita akan tetap mendiskusikannya," sergahku. Aku merenggut blusku dan menyentakkan kancing paling atas.

Edward menyambar pergelangan tanganku dan menahannya di samping tubuhku.

"Kubilang tidak," tukasnya datar.

Kami saling melotot.

"Kau sendiri yang ingin tahu tadi," aku beralasan.

"Kupikir kau menginginkan sesuatu yang agak realistis."

"Jadi kau bisa mengajukan permintaan bodoh dan konyol apa pun yang kauinginkan – misalnya menikah,tapi aku bahkan tidak boleh mendiskusikan apa yang aku–"

"Tidak," Wajah Edward keras.

Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Dan, saat amarahku mulai mereda, aku merasakan sesuatu yang lain.

Butuh semenit untuk menyadari kenapa aku menunduk lagi, wajahku kembali memerah,kenapa perutku terasa tidak nyaman, kenapa mataku basah, kenapa aku tiba-tiba ingin lari meninggalkan ruangan.

Perasaan tertolak melandaku, naluriah dan kuat.

Aku tahu itu tidak rasional. Dalam kesempatankesempatan lain Edward sudah sangat jelas mengungkapkan bahwa keselamatanku merupakan satusatunya alasan. Namun belum pernah aku serapuh ini. Aku merengut memandangi penutup tempat tidur warna emas yang senada dengan matanya dan berusaha mengenyahkan reaksi refleks yang mengatakan bahwa aku tidak diinginkan dan tidak bisa diinginkan.

Edward mengeluh. Tangan di atas mulutku bergerak ke bawah dagu dan ia mendongakkan wajahku sehingga aku harus menatapnya.

"Apa lagi sekarang?"

"Tidak ada apa-apa," gumamku.

Edward mengamati wajahku lama sekali sementara aku berusaha berkelit dari pandangannya, meski sia-sia. Alisnya berkerut, ekspresinya berubah ngeri.
"Apakah aku menyakiti perasaanmu?" tanya Edward, syok.

"Tidak,” dustaku.

Begitu cepatnya sehingga aku bahkan tak yakin bagaimana itu bisa terjadi, tapi tahu-tahu aku sudah berada dalam pelukannya, tangannya menopang wajahku dan ibu jarinya mengelus-elus pipiku dengan sikap memastikan.

"Kau tahu kenapa aku harus menolak," bisiknya. "Kau tahu aku menginginkanmu juga."

"Benarkah?" bisikku, suaraku penuh keraguan.

"Tentu saja aku menginginkanmu, dasar gadis bodoh, cantik, dan kelewat sensitif," Edward tertawa sekali, tapi kemudian suaranya berubah muram. "Bukankah semua orang juga begitu? Aku merasa banyak yang antre di belakangku, berebut posisi, menungguku membuat kesalahan cukup besar... Asal tahu saja, kau terlalu menggairahkan."

"Sekarang siapa yang bodoh?" Aku ragu apakah canggung, minder, dan kikuk masuk dalam kategori menggairahkan dalam anggapan orang lain.

"Apakah aku harus mengedarkan petisi supaya kau percaya? Haruskah kuberitahu nama-nama yang berada dalam daftar teratas? Kau tahu beberapa di antaranya, tapi beberapa lainnya mungkin bakal mengagetkanmu."

Aku menggeleng dalam dekapannya. meringis. "Kau hanya berusaha mengalihkan perhatianku. Mari kembali ke topik tadi."

Edward mendesah.

"Katakan padaku kalau ada yang salah kupahami." Aku berusaha memperdengarkan nada datar. "Tuntutanmu adalah menikah” aku tak mampu mengucapkan kata itu tanpa mengernyit "membayari uang kuliahku, lebih banyak waktu, dan kau tidak. keberatan kalau mobilku bisa lari lebih cepat."
Kuangkat alisku. "Semuanya sudah, kan? Lumayan panjang juga daftarnya."

"Hanya yang pertama yang merupakan tuntutan." Tampaknya sulit bagi Edward mempertahankan ekspresi datar. "Yang lain-lain hanya permohonan."

"Sedangkan satu-satunya tuntutanku adalah-"

"Tuntutan?" sela Edward, mendadak kembali serius.

"Ya, tuntutan."

Matanya menyipit.

"Menikah bukan perkara mudah bagiku. Aku tidak mau menurut begitu saja tanpa mendapat kompensasi."
Edward membungkuk untuk berbisik di telingaku. "Tidak," bisiknya lembut. "Itu tidak mungkin dilakukan sekarang. Nanti, kalau kau sudah tidak serapuh sekarang. Bersabarlah, Bella."

Aku berusaha mempertahankan nada tenang dan bijak.

"Tapi di situlah masalahnya. Aku tidak akan sama lagi kalau sudah tidak serapuh sekarang. Aku tidak akan menjadi orang yang sama! Entah akan menjadi siapa aku nanti."
"Kau akan terap menjadi Bella," janji Edward.

Aku mengerutkan kening. "Kalau aku berubah sampai sejauh itu hingga mau membunuh Charlie, bahwa aku takkan ragu minum darah Jacob atau Angela kalau saja ada kesempatan, bagaimana mungkin itu benar?"

"Masa itu akan berlalu. Dan aku ragu kau mau minum darah anjing." Edward pura-pura bergidik memikirkannya. "Bahkan sebagai vampire baru, seleramu akan lebih bagus daripada itu."

Kuabaikan saja upayanya mengalihkan topik pembicaraan. "Tapi itu akan selalu jadi sesuatu yang paling kuinginkan, bukan?" tantangku. "Darah, darah, dan lagilagi darah!”
“Fakta kau masih hidup adalah bukti itu tidak benar," tukas Edward.

"Lebih dari delapan puluh tahun kemudian,” kuingatkan dia. "Yang kumaksud adalah secara fisik. Secara intelektual, aku tahu akan bisa menjadi diriku sendiri... setelah sekian lama. Tapi mumi secara fisik – aku akan selalu haus, lebih dari segalanya."

Edward diam saja.

"Kalau begitu aku memang akan menjadi berbeda,” aku menyimpulkan tanpa bantahan dari Edward. "Karena sekarang ini, secara fisik, tak ada hal – lain yang kuinginkan lebih daripada dirimu. Lebih daripada makanan, air, atau oksigen. Secara intelektual, prioritas-prioritasku sedikit lebih masuk akal. Namun secara fisik..."

Kuputar kepalaku untuk mengecup telapak tangannya. Edward menghela napas dalam-dalam. Aku kaget juga karena kedengarannya ia sedikit goyah.

"Bella, bisa-bisa aku membunuhmu nanti,” bisiknya.

"Kurasa itu tidak mungkin."

Mata Edward mengeras. Ia mengangkat tangannya dari wajahku dan dengan gerak cepat menjangkau ke belakang punggungnya, meraih sesuatu yang tak bisa kulihat. Terdengar seperti ada yang patah dengan suara teredam, dan ranjang berderit-derit di bawah tubuh kami.

Edward memegang sesuatu yang berwarna gelap, ia menyodorkannya supaya aku bisa melihatnya lebih jelas. Benda itu bunga logam. salah satu mawar besi yang menghiasi tiang serta kanopi ranjangnya yang     terbuat dari     besi tempa.     Edward mengepalkan     tangannya     sedetik..     jarijarinya     meremas lembut, kemudian membuka telapak tangannya lagi.

Tanpa mengatakan apa-apa, ia menyodorkan onggokan logam hitam yang kini hancur. Benda itu hanya seperti gips di tangannya, seperti lilin mainan yang diremas tangan anak-anak. Hanya dalam setengah detik benda itu telah remuk bagai pasir hitam di telapak tangannya.

Kupandangi dia. "Bukan itu maksudku. Aku sudah tahu berapa kuatnya kau. Tidak perlu sampai merusak perabot."

"Jadi apa maksudmu sebenarnya?" tanya Edward muram, melemparkan onggokan pasir besi itu ke sudut kamar; benda itu membentur dinding dengan suara seperti hujan.

Matanya menatap wajahku lekat-lekat sementara aku susah payah berusaha menjelaskan.

"Aku tidak bermaksud mengatakan secara fisik kau tidak mampu mencelakakan aku kalau mau... Tapi lebih bahwa kau tidak ingin mencelakakan aku... sebegitu besar hingga menurutku kau tidak akan pernah sanggup mencelakakan aku." Edward sudah menggeleng-gelengkan kepala sebelum aku selesai bicara.

"Mungkin tidak akan seperti itu, Bella."

"Mungkin," dengusku. "Kau sendiri tidak lebih tahu daripada aku dalam masalah ini."

"Tepat sekali. Apakah menurutmu aku mau mengambil risiko itu denganmu?"

Kutatap matanya lama sekali. Tidak ada tanda-tanda ia mau berkompromi, tidak ada petunjuk ia tidak tegas dengan keputusannya.

"Please,” bisikku akhirnya, tak punya harapan lagi. "Hanya itu yang kuinginkan. Please,” Aku memejamkan mata kalah, menunggu jawaban "tidak" yang final dan akan segera terlontar.

Tapi Edward tidak langsung menjawab. Aku ragu-ragu dengan sikap tak percaya, terperangah mendengar tarikan napasnya yang kembali memburu.

Kubuka mataku, dan Edward tampak terkoyak.

"Please?" bisikku lagi, debar jantungku semakin kencang. Kata-kata berhamburan dari mulutku saat aku terburu-buru mengambil kesempatan, selagi aku melihat sorot tak yakin terpancar dari matanya. "Kau tidak perlu memberiku jaminan apa-apa. Kalau memang tidak bisa, well tidak apaapa. Tapi biarkan kita mencoba... hanya mencoba. Dan aku akan memberikan apa yang kauinginkan,” janjiku tanpa berpikir. "Aku akan menikah denganmu. Kau boleh membayari kuliahku di Dartmouth, dan aku tidak akan mengeluh tentang sogokan yang kaukeluarkan supaya aku bisa masuk ke sana. Kau bahkan bisa membelikan aku mobil mewah kalau itu bisa membuatmu senang! Tapi... please."
Lengan Edward yang dingin memelukku lebih erat, dan bibirnya menempel di telingaku; embusan napasnya yang dingin membuat tubuhku gemetar. "Sungguh tak tertahankan. Begitu banyak yang ingin kuberikan padamu – tapi justru ini yang kautuntut dariku. Tahukah kau betapa sakitnya ini, menolakmu yang memohon-mohon padaku seperti ini?'''

"Kalau begitu jangan menolak,” usulku, napasku terengah-engah.

Edward tidak menjawab.

"Please," aku mencoba lagi.

"Bella..." Edward menggeleng lambat-lambat, tapi rasanya itu bukan penolakan karena wajahnya dan bibirnya menjelajahi tenggorokanku. Rasanya seperti menyerah kalah. Jantungku, yang memang sudah berdebar keras, kini berpacu semakin cepat.

Lagi-lagi,aku berusaha memanfaatkan momentum itu sebisaku. Saat wajahnya berpaling ke arahku dengan gerak lambat karena belum bisa memutuskan. aku cepat-cepat menggeser kepala hingga bibirku menempel di bibirnya. Kedua tangan Edward merengkuh wajahku, dan aku sempat mengira ia akan mendorongku lagi jauh-jauh.
Ternyata aku keliru.

Bibirnya tidak menciumku dengan lembut; sekarang ada hal baru berupa konflik bercampur perasaan putus asa dalam ciumannya. Kupeluk lehernya erat-erat, dan, di kulitku yang tiba-tiba panas. tubuhnya kurasakan lebih dingin daripada biasanya. Aku gemetar, tapi bukan karena kedinginan.

Edward tidak berhenti menciumiku. Justru akulah yang melepaskan diri darinya, megap-megap kehabisan udara.

Bahkan saat itu pun bibirnya tidak beranjak dari kulitku, hanya beralih ke kerongkongan. Gairah kemenangan melandaku, membuatku merasa berkuasa. Berani. Ia terlalu rupawan. Istilah apa yang dipakainya barusan? Tak tertahankan, itu dia. Ketampanannya sungguh tak tertahankan... Kutarik bibir Edward kembali ke bibirku, dan sepertinya Edward sama bernafsunya dengan aku. Satu tangannya masih merengkuh wajahku, tangan yang lain memeluk pinggang, mendekap tubuhku erat-erat. Posisi Itu membuatku lebih sulit meraih bagian depan kemejaku, tapi bukannya tidak mungkin.

Belenggu sedingin besi mencengkeram pergelangan tanganku, dan mengangkat kedua tanganku tinggi-tinggi di atas kepala, yang tiba-tiba sudah berada di atas bantal.

Bibirnya lagi-lagi menempel di telingaku. "Bella,” bisiknya, suaranya hangat dan selembut beledu. "Bisa tidak, kau berhenti mencoba membuka bajumu, please."

"Kau ingin melakukannya sendiri?" tanyaku, bingung.

"Tidak malam ini,” jawab Edward lembut. Bibirnya kini lebih lambat menyusuri pipi dan daguku, semua ketergesagesaan itu lenyap.

"Edward, jangan –" aku mulai mendebatnya.

"Aku tidak mengatakan tidak,” Edward meyakinkanku. "Aku hanya mengatakan 'tidak malam ini’."

Aku memikirkan perkataannya itu sementara deru napasku melambat.

"Beri aku satu alasan mengapa malam ini berbeda dengan malam-malam lain." Aku masih terengah-engah, itu membuat perasaan frustrasi dalam suaraku terdengar kurang meyakinkan.

"Aku bukan baru dilahirkan kemarin," Edward terkekeh di telingaku. "Di antara kita berdua, siapa menurutmu yang lebih tidak bersedia mengabulkan keinginan pasangannya? Kau baru saja berjanji akan menikahiku sebelum melakukan perubahan apa pun, tapi kalau aku menyerah malam ini, jaminan apa yang kumiliki bahwa kau tidak akan meminta Carlisle mengubahmu besok pagi? Aku– jelas–jauh lebih tidak enggan mengabulkan permintaanmu. Jadi... kau duluan." Aku mengembuskan napas dengan suara keras. "Jadi aku harus menikah dulu denganmu?" tanyaku dengan sikap tak percaya.

"Begitulah kesepakatannya – terima atau tidak. Kompromi, ingat?"

Kedua lengan Edward merangkulku, dan ia muai menciumiku lagi dengan penuh gairah. Terlalu persuasif – sepertinya ini paksaan, pemaksaan. Aku berusaha menjaga pikiranku tetap jernih... tapi langsung gagal.

"Menurutku itu sungguh-sungguh ide buruk," aku terkesiap setelah ia membiarkanku menarik napas.

"Aku tidak terkejut kau merasa begitu." Edward tersenyum menyeringai. "Pikiranmu memang tak pernah bercabang."

"Bagaimana bisa begini?" gerutuku. "Kupikir aku berada di atas angin malam ini, sekali ini, dan sekarang, tahu-tahu saja.."

"Kau sudah bertunangan,” Edward menyelesaikan kalimatku.

"Aduh! Kumohon, jangan mengucapkannya keraskeras."

"Memangnya, kau mau menarik lagi janjimu?" tuntutnya.

Edward melepas pelukannya dan menatap wajahku lekat-lekat. Ekspresinya terhibur, ia senang bisa menggodaku.

Kupelototi dia, berusaha tidak menggubris senyumnya yang membuat jantungku melompat liar.
"Ya atau tidak?" desaknya.

"Ugh!" erangku. "Tidak. Aku tidak menarik kembali janjiku. Kau bahagia sekarang?"

Senyum Edward membutakan. "Sangat."

Lagi-lagi aku mengerang.

"Kau tidak bahagia sama sekali?"

Edward menciumku lagi sebelum aku sempat menjawab. Lagi-lagi ciuman yang terlalu persuasif.

"Sedikit,” aku mengakui saat sudah bisa bicara. "Tapi bukan karena mau menikah.”

Lagi-lagi Edward menciumku. "Apakah kau merasa segala sesuatunya terbalik?" ia tertawa di telingaku. "Secara tradisional bukankah seharusnya kau yang ribut minta dinikahi, sedangkan aku sebaliknya?"

"Tidak ada yang tradisional antara kau dan aku,"

"Benar."

Edward menciumku lagi, dan terus menciumiku sampai jantungku berdebar keras dan kulitku membara.

"Begini. Edward,” gumamku, suaraku bernada membujuk ketika Edward menghentikan ciumannya sejenak untuk mengecup telapak tanganku. "Aku sudah berkata mau menikah denganmu, dan itu akan kulakukan. Aku berjanji. Bersumpah. Kalau kau mau, aku akan menandatangani kontraknya dengan darahku sendiri."

"Tidak lucu,” tukas Edward, menjelajahi bagian dalam pergelangan tanganku.

"Maksudku... aku tidak akan mengelabuimu atau semacamnya. Kau tahu aku tidak seperti itu. Jadi benarbenar tidak ada alasan untuk menunggu. Kita hanya berdua,seberapa sering itu terjadi? dan kau sudah menyediakan ranjang yang sangat besar dan nyaman ini..."

"Tidak malam ini," tegas Edward lagi.

"Kau tidak percaya padaku?"

"Tentu saja aku percaya."

Menggunakan tangan yang masih diciuminya, aku menengadahkan wajah Edward sehingga bisa melihat ekspresinya.

"Kalau begitu, apa masalahnya? Kau toh sudah tahu kau akan menang akhirnya.” Aku mengerutkan kening dan menggerutu, "Kau selalu menang."

"Hanya membatasi taruhanku,” kata Edward kalem.

"Pasti ada yang lain,” tebakku, mataku menyipit. Wajah Edward memancarkan ekspresi defensif, secercah pertanda adanya motif rahasia yang coba ia sembunyikan di balik sikapnya yang biasa-biasa saja. "Apakah kau berniat menarik kembali janjimu?"
"Tidak,” Edward berjanji dengan sikap khidmat. "Aku bersumpah, kita akan mencobanya. Setelah kau menikah denganku."
Aku menggeleng, tertawa muram. "Kau membuatku merasa seperti penjahat dalam kisah melodrama, memuntirmuntir kumis saat sedang mencoba merenggut kehormatan seorang gadis yang malang."

Mata Edward tampak pedih saat berkelebat menatap wajahku, lalu ia cepat-cepat menunduk untuk menempelkan bibirnya ke tulang selangkaku.

"Memang begitu, kan?" Tawa pendek yang lolos dari bibirku lebih merupakan tawa syok ketimbang geli. "Kau berusaha menjaga kehormatanmu!" Aku menutup mulut dengan tangan untuk meredam tawa cekikikan yang mengikutinya. Kata-kata itu sangat... kuno.

"Tidak, gadis konyol." gerutu Edward di bahuku. "aku berusaha menjaga kehormatanmu. Tapi yang Mengagetkan, kau membuatnya jadi SULIT sekali."

"Ini benar-benar konyol..."

"Begini saja, biar kutanya sesuatu." Edward buru-buru menyela. "Kita sudah pernah mendiskusikan hal ini sebelumnya, tapi coba hibur hatiku. Berapa orang di ruangan ini yang memiliki jiwa? Memiliki kesempatan masuk surga, atau apa pun yang ada di sana setelah kehidupan ini?"
"Dua," aku menjawab langsung, suaraku tegas.

"Baiklah. Mungkin itu benar. Sekarang, banyak sekali perbedaan pendapat mengenai hal ini, tapi mayoritas orang sepertinya berpikir ada beberapa aturan yang harus diikuti."

"Aturan-aturan vampir belum cukup bagimu? Kau juga masih memikirkan aturan-aturan manusia?"

"Tidak ada salahnya," Edward mengangkat bahu. "Untuk berjaga-jaga."
Kupelototi ia dengan mata disipitkan.

"Sekarang, tentu saja, mungkin sudah terlambat bagiku,seandainya pendapatmu tentang jiwaku memang benar."

"Tidak, belum terlambat bagimu." bantahku marah.

"Jangan ‘membunuh’ sudah umum diterima keyakinan agama mana pun. Padahal aku sudah membunuh banyak orang, Bella."

"Kau hanya membunuh orang-orang jahat."

Edward mengangkat bahu. "Mungkin itu berpengaruh, mungkin juga tidak. Tapi kau belum pernah membunuh orang..."

"Yang kaukenal," gerutuku.

Edward tersenyum, tapi tidak menanggapi interupsiku tadi.

"Dan aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak membuatmu jatuh dalam pencobaan."

"Oke. Tapi kita kan tidak bertengkar soal melakukan pembunuhan," aku mengingatkannya.

"Tetap berlaku prinsip yang sama, satu-satunya perbedaan hanyalah, bahwa ini satu-satunya area di mana aku sama bersihnya denganmu. Tidak bolehkah aku mempertahankan satu aturan saja yang belum pernah kulanggar?"

"Satu?"

"Kau sendiri tahu aku sudah pernah mencuri, berbohong, menginginkan milik orang lain... hanya kehormatanku yang masih tersisa," Edward tersenyum miring.

"Aku juga sering bohong."

"Memang, tapi kau sangat tidak pandai berbohong, jadi itu tidak terlalu berpengaruh. Tidak ada yang percaya padamu."

"Aku benar-benar berharap kau keliru mengenai hal itu, sebab kalau tidak, tak lama lagi Charlie pasti akan mendobrak pintu itu sambil mengacungkan pistol berisi peluru."

"Charlie lebih bahagia berpura-pura menelan semua ceritamu. Dia lebih suka membohongi diri sendiri daripada mengorek-ngorek lebih jauh," Edward nyengir padaku.

"Memangnya hak milik orang lain apa yang kauinginkan?" tanyaku ragu. "Kau kan sudah memiliki semua."

"Aku menginginkanmu,” Senyum Edward menggelap. "Aku tidak berhak menginginkanmu, tapi aku tetap nekat. Dan coba lihat apa jadinya kau sekarang! Mencoba merayu vampir."

Edward menggeleng-gelengkan kepala, pura-pura ngeri.

"Kau boleh menginginkan apa yang sudah menjadi milikmu," aku memberitahunya– "Lagi pula, kukira kau mengkhawatirkan kehormatanku."

"Memang. Kalau itu sudah terlambat bagiku... Well, celakalah aku, aku tidak bermaksud melucu – kalau aku membiarkan itu menyebabkanmu tidak masuk surga juga."

"Kau tidak bisa memaksaku pergi ke tempat yang kau tidak ada,” aku bersumpah. "Itulah definisiku tentang

neraka. Bagaimanapun, aku punya solusi mudah mengenai hal itu, jangan pernah mati, bagaimana?"

"Kedengarannya cukup sederhana. Mengapa tak pernah terpikir olehku sebelumnya?"
Edward tersenyum sampai aku menyerah dan mendengus marah. "Jadi, begitu. Kau tidak mau tidur denganku sampai kita menikah."

"Secara teknis, aku tidak akan pernah bisa tidur denganmu.”

Aku memutar bola mataku. "Sangat dewasa, Edward."

"Tapi, selain detail itu, ya, kau benar."

"Menurutku, kau punya motif tersembunyi."

Mata Edward membelalak sok lugu. "Ada lagi?"

"Kau tahu itu akan mempercepat proses," tuduhku.

Edward berusaha tidak tersenyum. "Hanya ada satu hal yang ingin kupercepat, dan yang lain-lain boleh ditunda selamanya... tapi untuk yang satu ini, memang benar, hormon-hormon manusiamu yang tidak sabaran adalah sekutuku yang paling kuat di titik ini."

"Aku tidak percaya mau saja menuruti kemauanmu. Kalau aku teringat Charlie dan Renee! Bisakah kaubayangkan bagaimana pendapat Angela nanti? Atau Jessica? Ugh. Sudah bisa kubayangkan bagaimana gosipnya nanti."

Edward mengangkat sebelah alisnya, dan aku tahu kenapa. Apa gunanya mengkhawatirkan perkataan mereka tentangku, kalau sebentar lagi aku pergi dan tidak akan kembali lagi? Benarkah aku sesensitif itu sampai-sampai tidak sanggup menahan lirikan penuh arti dan pertanyaanpertanyaan bernada menjurus selama beberapa minggu saja?

Mungkin itu tidak akan terlalu mengusik pikiranku seandainya aku tak tahu bahwa aku mungkin juga akan bergosip seperti mereka seandainya salah satu teman kami menikah musim panas ini.

Hah. Menikah musim panas ini! Aku bergidik.

Namun, mungkin itu tidak akan terlalu mengusik pikiranku seandainya aku tidak dibesarkan untuk bergidik setiap kali memikirkan pernikahan. Edward menginterupsi keresahanku. "Tidak perlu besarbesaran. Aku tidak butuh perayaan. Kau tidak perlu memberitahu siapa-siapa atau membuat perubahan apa pun. Kita pergi saja ke Vegas, kau bisa mengenakan jins belel dan kita pergi ke kapel yang menyediakan layanan menikah secara drive through. Aku hanya ingin menikah secara resmi, bahwa kau milikku dan bukan milik orang lain."
"Sekarang juga sudah resmi,” gerutuku. Tapi gambaran yang diberikan Edward kedengarannya lumayan juga. Hanya saja Alice pasti akan kecewa.

"Kita lihat saja nanti,” Edward tersenyum puas. "Kurasa kau tidak menginginkan cincinmu sekarang?"

Aku harus menelan ludah sebelum bisa bicara. "Dugaanmu benar."

Edward tertawa melihat ekspresiku. "Baiklah kalau begitu. Toh tidak lama lagi aku bisa memasangkannya di jarimu."
Kutatap ia dengan jengkel. "Kau bicara seolah-olah kau sudah memiliki cincinnya."
"Memang sudah,” jawab Edward, tanpa malu-malu. "Siap kupakaikan secara paksa begitu terlihat tanda-tanda kelemahan pertama."

"Kau keterlaluan."

"Kau mau melihatnya?" tanya Edward. Mata topaz cairnya tiba -tiba berbinar, penuh semangat.

"Tidak!" Aku nyaris berteriak. reaksi refleks. Aku langsung menyesalinya. Wajah Edward terlihat agak kecewa. "Kecuali kau benar-benar ingin menunjukkannya padaku.” koreksiku. Aku mengatupkan gigiku rapat-rapat agar ketakutanku yang tidak logis tidak terlihat.
"Sudahlah,” Edward mengangkat bahu. "Itu bisa menunggu."

Aku mendesah. "Tunjukkan cincin sialan itu padaku, Edward." Edward menggeleng. "Tidak."

Kupandangi ekspresinya lama sekali.

"Please?" pintaku pelan, bereksperimen dengan senjata yang baru kutemukan. Kusentuh wajahnya sekilas dengan ujung-ujung jariku. "Kumohon, bolehkah aku melihatnya?"

Edward menyipitkan mata. "Kau makhluk paling berbahaya yang pernah kutemui,” gerutunya. Tapi ia bangkit dan dengan gerakan luwes berlutut di samping nakas kecil. Sebentar saja ia sudah duduk lagi di sampingku di tempat tidur, sebelah tangan memeluk bahuku. Di tangan satunya ia memegang kotak hitam kecil. Di letakannya kotak itu di lutut kiriku.

"Silakan kalau mau melihat." katanya kasar.

Sulit rasanya meraih kotak hitam kecil itu, tapi karena tak ingin melukai perasaannya lagi, aku berusaha agar tanganku tidak gemetaran. Permukaannya halus berlapis satin hitam.

Kusapukan jemariku di atasnya, ragu-ragu.

"Kau tidak mengeluarkan banyak uang, kan? Berbohonglah padaku kalau ya."

"Aku tidak mengeluarkan uang sama sekali,” Edward meyakinkanku. "Itu juga benda warisan. Cincin yang diberikan ayahku untuk ibuku."

"Oh.” Keterkejutan mewarnai suaraku. Kuangkat sedikit penutup kotak dengan ibu jari dan telunjuk, tapi tidak membukanya.

"Kurasa cincinnya sudah agak kuno.” Nadanya purapura meminta maaf. "Kuno, seperti aku. Aku bisa saja membelikan sesuatu yang lebih modem. Sesuatu dari Tiffany's?"

"Aku suka yang kuno-kuno,” gumamku sambil raguragu mengangkat penutup kotak.
Di atas hamparan satin hitam, cincin milik Elizabeth Masen gemerlapan di bawah cahaya temaram. Permukaannya lonjong panjang. dikelilingi barisan memanjang batu-batu bulat berkilauan. Cincinnya dibuat dari emas–halus dan mungil. Jaring emas tipis merangkai berlian-berlian itu. Belum pernah aku melihat cincin seperti itu.

Tanpa berpikir, aku membelai-belai permata yang berkilauan itu.
"Cantik sekali,” gumamku pada diri sendiri, terperangah.

"Kau suka?"

"Cincinnya cantik,” Aku mengangkat bahu.. berlagak kurang tertarik. "Mana mungkin tidak suka?"

Edward terkekeh. "Coba lihat, apakah pas?"

Tangan kiriku mengepal.

"Bella,” desah Edward. "Aku bukan mau menyoldernya ke jarimu. Hanya mencoba, untuk melihat apakah ukurannya perlu disesuaikan dengan jarimu. Setelah itu kau bisa melepasnya lagi.”

"Baiklah,” gerutuku.

Kuraih cincin itu, tapi jari-jari Edward yang panjang bergerak lebih cepat. ia meraih tangan kiriku, lalu menyelipkan cincin itu ke jari manisku. Ia mengulurkan tanganku, dan kami berdua mengamati kilau oval itu di kulitku. Ternyata tidak semengerikan yang kukira, mengenakan cincin itu di jari manisku.

"Benar-benar pas,” kata Edward dengan lagak tak acuh. "Bagus, aku jadi tidak perlu pergi ke toko emas."

Aku bisa mendengar secercah emosi di balik gaya bicaranya yang biasa-biasa saja, dan aku mendongak memandangi wajahnya. Emosi itu juga terpancar dari matanya, tampak nyata meskipun ekspresinya sengaja dibuat biasa-biasa saja.

"Kau menyukainya, kan?" tanyaku curiga, menggerakkan jari-jariku dan berpikir sungguh sayang bukan tangan kiriku yang patah kemarin. Edward mengangkat bahu. "Tentu,” jawabnya, lagaknya masih biasa-biasa saja. "Kelihatannya sangat manis di jarimu."

Kutatap matanya, berusaha menerka-nerka emosi apa yang membara tepat di balik permukaannya. Edward membalas tatapanku, dan kepura-puraannya mendadak lenyap. Ia berseri-seri, wajah malaikatnya cemerlang karena kegembiraan dan kemenangan. Ia begitu rupawan hingga membuatku tersentak.

Sebelum aku sempat pulih dari kekagetanku.. Edward sudah menciumku, bibirnya menunjukkan kegembiraannya.

Kepalaku ringan saat ia memindahkan bibirnya untuk berbisik di telingaku – tapi napasnya sama memburunya dengan napasku.

"Ya, aku menyukainya. Kau tidak tahu bagaimana rasanya."

Aku tertawa, terkesiap sedikit. "Aku percaya padamu."

"Kau keberatan kalau aku melakukan sesuatu?" bisiknya, kedua lengannya memelukku lebih erat.

"Apa pun yang kauinginkan."

Tapi Edward melepas pelukannya dan bergeser menjauh.

"Apa pun kecuali itu,” protesku.

Edward tak menggubris protesku, meraih tanganku, dan menarikku turun dari tempat tidur. ia berdiri di depanku, kedua tangan memegang bahuku, wajahnya serius.

"Nah, aku ingin melakukannya dengan benar. Please, please, ingatlah bahwa kau sudah setuju dengan hal ini, jadi jangan merusaknya."

"Oh, tidak,” seruku tertahan ketika Edward berlutut dengan satu kaki.

"Bersikaplah yang manis,” bisiknya.

Aku menarik napas dalam-dalam.

"Isabella Swan?" Edward menengadah, menatapku dari balik bulu matanya yang panjang. mata emasnya lembut tapi, entah bagaimana, tetap membara. "Aku berjanji akan mencintaimu selamanya, setiap hari selamanya. Maukah kau menikah denganku?"

Banyak sekali yang ingin kukatakan, sebagian di antaranya sama sekali tidak bagus, dan yang lainnya bahkan lebih cengeng dan romantis daripada yang mungkin kubayangkan Edward bisa kukatakan. Daripada mempermalukan diri sendiri,aku berbisik. “Ya."

"Terima kasih,” hanya itu jawaban Edward. Ia meraih tangan kiriku dan mengecup setiap ujung jari sebelum mengecup cincin yang kini menjadi milikku.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊